• News

  • Singkap Budaya

Hari Musik Nasional: Jangan Lupa Sunda Lebih Dulu Temukan Musik Nutrisi

Ilustrasi seruling Sunda dan penggembala kerbau
foto: istimewa
Ilustrasi seruling Sunda dan penggembala kerbau

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Setiap orang Indonesia harus semakin percaya diri terhadap keunggulan budaya yang kita miliki. Sering kali, karena tidak percaya diri dan kurangnya penelitian, kita merasa seolah semua produk atau pemikiran dari bangsa lain lebih hebat dan paling benar.

Di bidang pendidikan misalnya, tak jarang dijumpai pegiat pendidikan yang merasa lebih pandai bila sudah menguasai teori JJ Rousseau, Langeveld, atau Ivan Petrovich Pavlov. Di kemudian hari baru sadar, teori dan praktik yang pernah diterapkan Ki Hadjar Dewantara, ternyata jauh lebih kaya.

Sama halnya dengan bidang pertanian, semua orang Indonesia mungkin sudah tahu kekhasan musik orang Sunda di seluruh wilayah Jawa Barat. Suara seruling yang mengalun dengan latar alam yang sejuk dan subur, bisa langsung hadir di benak kita. Namun, tahukah arti musik itu?

Di sisi lain, banyak pegiat di bidang pertanian belajar jauh-jauh untuk mencari teori tentang nutrisi tambahan yang dibutuhkan tanaman pertanian selain pupuk, baik pupuk kimia maupun pupuk organik. Tak tanggung-tanggung, mereka belajar teori dari Afrika hingga Amerika.

Di Afrika Selatan, ada perkebunan anggur bernama De Morgenzon yang memiliki kebiasaan memutarkan musik Baroque di sekitar perkebunan. Perkebunan itu berhasil membuktikan bahwa musik jenis itu berpengaruh positif terhadap proses pematangan anggur yang mereka tanam.

Petani muda dan pemula, merasa belum sempurna bila mengaku belum mempelajari pemikiran ilmuwan Kanada bernama Eugene Canby. Ilmuwan ini melakukan penelitian tentang dampak musik klasik karya JS Bach bagi tanaman.

Dari hasil kajian Eugene Canby, terbukti bahwa tanaman yang rutin diperdengarkan musik klasik karya JS Bach, hasil panennya 60 persen lebih baik ketimbang yang tidak diberi musik.

Yang terakhir, banyak petani muda juga mempraktikkan teknologi sonic bloom. Cara kerja teknik ini adalah dengan memancarkan gelombang suara sebesar 3.500 – 5.000 hertz yang dihasilkan dari aki 12 volt. Suara itu berupa semacam cuitan burung walet dan sesekali musik klasik.

Hasilnya memang benar-benar ikut meningkatkan hasil produksi pertanian seperti padi, palawija, dan bunga-bungaan. Bahkan, hal itu juga dapat meningkatkan hasil tanaman tahunan, seperti kopi, kakao, dan kelapa sawit.

Sunda lebih dulu menemukan

Sebenarnya, perilaku para petani muda Indonesia bukanlah suatu hal buruk dan menimbulkan dosa. Namun, patut disayangkan, mengapa mereka tidak melakukan kajian tentang budaya pertanian dan dampak musik tradisional yang asli milik bangsa Indonesia?

Padahal, para lelulur kita sudah sejak dahulu kala telah berhasil membuktikan bahwa semua tanaman menyukai musik. Alunan musik ikut membantu proses pertumbuhan dan meningkatkan hasil produksi. Tradisi ini diperkirakan sudah ada sejak zaman animisme-dinamisme.

Bukti bahwa leluhur kita sudah mengenal teori alunan musik sebagai nutrisi penting bagi tanaman, tercermin dalam tradisi orang Sunda di wilayah Jawa Barat, yaitu bernama Aseuk Hatong. Salah satu daerah yang masih mempertahankan tradisi itu adalah masyarakat di Kabupaten Tasikmalaya.

Aseuk Hatong pada prinsipnya merupakan aktivitas berladang atau ngahuma. Contoh ngahuma adalah kegiatan menabur benih padi di ladang dengan menggunakan sejumlah alat untuk melubangi tanah.

Uniknya, kegiatan tersebut diiringi alunan suara khusus berupa bunyi-bunyian yang dihasilkan dari potongan bambu. Maka, tidak salah juga bila tradisi ini sering disebut juga sebagai salah satu kesenian Sunda.

Dalam dokumen Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2018 disebutkan bahwa Aseuk Hatong merupakan salah satu seni yang berkembang di dataran rendah, di Jawa Barat. Seni ini mengisahkan tentang tata kelola pertanian dalam bercocok tanam padi huma atau padi ladang.

Kesenian Aseuk Hatong kini sudah sangat langka. Saat tim PPKD Kebupaten Tasikmalaya melakukan kajian, dijumpai bahwa ternyata hanya ada satu daerah saja yang masih mempertahankan tradisi itu. Mereka yang masih sering menjalankan Aseuk Hatong adalah masyarakat di Kecamatan Cipatujah.

Dalam aktivitas Aseuk Hatong, alunan musik pengiring kegiatan menanam padi dihasilkan dari sebatang bambu yang dipotong dengan ukuran sekitar 1,5 meter dan dibuat sedemikian rupa. Ujung bawahnya biasanya dibuat runcing.

Bagian yang runcing ditancapkan ke dalam tanah sehinga menghasilkan lubang. Selanjutnya, benih padi ditabur dalam lubang. Sementara itu, pada ujung bambu bagian atas diberi lubang seperti seruling dan dinamakan heunceut careuh.

Saat bambu diayunkan untuk melubangi tanah, bagian seperti seruling pada sisi atas bambu akan menghasilkan bunyi seperti jeritan yang khas. Bunyi lengkingan bambu tertiup angin itulah yang disebut hatong.

Di Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, tradisi Aseuk Hatong kadang hanya ditampilkan pada acara yang berkaitan dengan kegiatan seni budaya dan pariwisata. Salah satu sanggar seni yang berusaha melestarikan tradisi itu adalah Sanggar Seni Motekar Kecamatan Cipatujah.

Pada 2018 ini, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya berusaha memajukan tradisi tersebut. Mungkin ada baiknya, tradisi ini diiringi juga dengan kajian akademik tentang hubungan musik bambu Suku Sunda (angklung, seruling) dengan pertumbuhan tanaman.

Hasil kajian tersebut sangat penting untuk memperkuat bukti bahwa orang Sunda jauh lebih dahulu menemukan teori tentang tanaman yang memang benar-benar menyukai musik tertentu. Jenis musik seperti apa? Musik Sunda adalah jawabannya. Musik itu asli hasil temuan bangsa kita.

Dengan dilengkapi kajian ilmiah, para petani muda yang kini semakin bertambah banyak, tak perlu jauh-jauh harus mempelajari teori nutrisi musik dari Afrika dan Amerika. Kita sebenarnya sudah memilikinya, bahkan mungkin lebih dulu ketimbang bangsa lain.

Editor : Taat Ujianto