• News

  • Singkap Budaya

Prihatin! Tak Hanya Nyawa, Corona Juga Mengancam Ritual dan Agama Lokal

Ritus Pasola di NTT
foto: antara
Ritus Pasola di NTT

KUPANG, NETRALNEWS.COM - Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT) melarang warganya, untuk mengunjungi arena penyelenggaraan ritus budaya Pasola yang digelar di Kabupaten Sumba Barat untuk mengantisipasi masuknya virus Corona di daerah itu.

"Larangan ini mengingat, arena penyelenggaraan Pasola dihadiri oleh banyak orang, terutama wisatawan dalam dan luar negeri," kata Bupati Sumba Timur, Paulus SK Limu kepada ANTARA, Senin.

Ia mengemukakan hal itu, dalam percakapan melalui telepon genggam terkait langkah pemerintah mengantisipasi virus Corona di wilayah itu, dan bagaimana dengan kegiatan ritus budaya Pasola, yang akan menjadi tempat berkumpulnya orang dari berbagai daerah, termasuk wisatawan asing.

Pasola atau pahola adalah permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang sedang dipacu kencang antara dua kelompok yang berlawanan.

Pasola merupakan bagian dari serangkaian upacara tradisional yang dilakukan oleh orang Sumba yang masih menganut agama asli yang disebut Marapu (agama lokal masyarakat Sumba).

Permainan Pasola diadakan pada empat kampung di Kabupaten Sumba Barat. Keempat kampung tersebut antara lain Kodi, Lamboya, Wonokaka, dan Gaura. Pelaksanaan pasola di keempat kampung ini dilakukan secara bergiliran, yaitu antara bulan Februari hingga Maret setiap tahunnya.

Menurut dia, kegiatan Pasola ini, biasanya dihadiri ribuan masyarakat dari berbagai penjuru dunia, sehingga untuk sementara harus dihindari di tengah Pandemi Covid-19 saat ini.

Dia menambahkan, kepada seluruh warga Sumba Tengah yang telah berada di luar daerah, dan akan pulang ke Sumba Tengah akan dilakukan self distancing atau menjauhkan diri dari kegiatan sosial selama 14 hari sampai terbukti tidak timbul gejala Corona.

Seperti dilansir Antara, langkah ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan RI dan WHO, kata Paulus SK Limu.

Editor : Taat Ujianto