• News

  • Singkap Budaya

Wabah Corona Bisa Diusir dengan Kirab Keris Diponegoro?

Ilustrasi keris Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro
foto: istimewa
Ilustrasi keris Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Pada 9 Maret 2020, pemerintah resmi menyatakan sudah ada 19 orang positif tertular akibat pandemi virus corona. Wabah penyakit yang pertama kali mewabah di Wuhan, Cina itu kini telah menyebar ke berbagai negara, menjadikannya bencana yang menakutkan tanpa diketahui cara pengobatannya.

Menengok sejarah Nusantara, pandemi wabah penyakit bukanlah hal baru. Di Jawa, istilah yang dulu digunakan adalah “pagebluk” yakni wabah penyakit yang mengerikan, ibarat pagi masih bercengkerama, sorenya sudah harus dikuburkan.

Jejak tentang pagebluk cukup banyak ditemukan dalam memori masyarakat Jawa. Untuk memeranginya, di era dulu, digelarlah ritual bersih desa, tolak bala, mulai dari persembahan sesaji hingga pertunjukan wayang kulit.

Masyarakat Jawa memahami pagebluk sebagai datangnya kuasa kegelapan yang mengganggu manusia. Sehingga diperlukan ritual memanggil keselamatan sedemikian rupa, mengingat di era itu, kajian ilmiah masih minim sehingga pendekatan budaya dan spiritual lebih mendominasi.

Digelar pertunjukan wayang diharapkan bisa membuat para dhanyang (roh leluhur pelindung desa) datang dan menolong warga desa.

Tak hanya wayang, pusaka berupa keris dan tombak pun digunakan dalam ritual penolak bala karena semua itu dipercaya bisa mengusir wabah penyakit yang digambarkan sebagai roh jahat.

Keris Diponegoro

Sementara masyarakat dihebohkan virus corona, beberapa waktu lalu juga muncul kejadian unik yakni di mana Pemerintah Belanda, pada Rabu, 4 Maret yang lalu mengumumkan pengembalian sebilah keris Jawa kepada Indonesia.

Keris tersebut diserahkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda Ingrid van Engelshoven kepada Duta Besar Indonesia I Gusti Agung Wesaka Puja di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, Belanda. Sehari kemudian keris tersebut dibawa ke Indonesia dan kini tersimpan di Museum Nasional, Jakarta.

Menukil catatan Aryono, wartawan Historia berjudul "Keris Sakti dan Pagebluk Corona" ada yang unik dan menggelitik. Jangan-jangan, obat mujarab untuk mengusir corona adalah dengan mengirab keris Pangeran Diponegoro tersebut.

Gagasan seperti ini bukan mengada-ada. Setidaknya, ada tokoh per-keris-an sempat berpikir demikian.Ia bernama
Toni Junus, seorang peneliti keris sekaligus penulis buku Kris: An Interpretation.

Menanggapi berita Corona yang beriringan dengan kembalinya keris Diponegoro sebagai sebuah pertanda, Toni berpendapat bahwa kedua peristiwa tersebut memiliki hubungan yang bisa dimaknai secara magis.

“Kalau percaya dengan Kejawen, (keris Pangeran Diponegoro – Red.) ini dicuci, dikirabkan, corona selesai. Secara alamiah ini ada tanda-tanda kenapa begini. Ada dua loh yang masuk ke Indonesia keris bagus. Tapi satunya dapat dari lelang dari luar negeri. Ada gajah singo-nya juga. Ini tanda-tanda bakal terjadi sesuatu di Indonesia. Kalau saya sih pandangannya positif. Mungkin Corona akan selesai. Saya ramalkan Mei, pokoknya setelah puasa habis. Dugaan saya loh ini. Ini supranatural,” ujar Toni kepada Historia, Rabu (4/3/2020) lalu.

Daya Tangkal

Toni Junus, yang menghabiskan masa kecil di Solo, pernah menyaksikan kirab pusaka keraton Solo untuk memadamkan pagebluk atau bencana. Saat itu, Toni yang masih SMP melihat kirab tombak Kangjeng Kiai Gringsing.

"Sebelum dikirabkan Kangjeng Kiai Gringsing dipegang anak kecil yang belum disunat di pelataran. Selama doa atau permintaan selesai. Baru dikirabkan. Tombak ini buatan zaman Kediri," ujarnya.

Menurutnya tidak semua keris atau tombak bisa untuk mengusir pagebluk melainkan hanya keris atau tombak yang berpamor “singkir” saja yang biasanya digunakan untuk memadamkan pagebluk. Pamor “singkir” ini memiliki motif lipatan besi pada bilahnya membentuk pola garis lurus.

Dalam pandangan masyarakat Jawa, ada banyak gangguan yang menyebabkan ketidakseimbangan tata kehidupan. Gangguan itu berwujud bencana alam, wabah penyakit dan paceklik. Kondisi penderitaan ini harus diakhiri agar terwujud keselamatan dan keberkahan hidup. Oleh sebab itu dengan pancaran berkah dan perbawa dari pusaka-pusaka yang dikirabkan, tulis Ismail Yahya dalam Adat-adat Jawa dalam Bulan-bulan Islam Adakah Pertentangan, diharapkan Tuhan akan memberikan keselamatan hidup dan menjauhkan dari penderitaan hidup.

Pusaka dengan kemampuan menangkal bencana bukan hanya dimiliki kaum bangsawan saja, namun ada pula yang dimiliki tokoh masyarakat di desa. Beberapa tokoh masyarakat di Gunung Kidul, dikutip dari Senjata Tradisional DIY, memiliki keris yang diyakini memiliki kemampuan untuk kesuburan tanah, menyembuhkan penyakit dan mengusir setan.

Penangkal pagebluk bukan saja berwujud senjata, seperti keris dan tombak, melainkan juga berbentuk bendera. Dalam buku Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta dituliskan bahwa keraton Yogyakarta memiliki bendera bernama Kiai Tunggul Wulung yang biasanya akan dikeluarkan dari keraton untuk dikirab berkeliling benteng keraton guna mengusir pagebluk.

Fenomena pusaka sebagai pengusir pagebluk, bukan hanya ada di Jawa tetapi pada masyarakat Bugis juga ditemukan hal serupa. Setiap pusaka yang dimiliki seorang Bugis, akan diberi Passingkerru sumange atau tali ikatan semangat yang dibuat berdasarkan sistem pengetahuan dan kepercayaan kuno orang Bugis. Khusus kalangan bangsawan, tali ikatan semangat (passingkerru sumange) keris, badik dan pedangnya terbuat dari emas atau perak dengan berhiaskan batu permata, dengan maksud keagungan, kemuliaan dan kekuasaan.

“Sebagian kalangan lainnya mengisi passingkerru sumange keris atau badik atau pedang dengan aji salawu, untuk bisa lolos dan terhindar dari penglihatan dan kepungan musuh. Adapula yang mengisi passingkerru sumange keris atau badik atau pedang dengan batu pirus, untuk menolak ilmu hitam dan bencana,” tulis Ahmad Ubbe dalam ‘Senjata Pusaka Orang Bugis’, yang termuat dalam Keris Dalam Perspektif Keilmuan suntingan Waluyo Sujayatno dan Unggul Sudrajat.

Pergeseran Makna

Namun, kini makna dan fungsi keris semacan itu dalam kehidupan masyarakat mulai bergeser. Lebih berfungsi sebagai aksesoris dalam kelengkapan pakaian adat Jawa. Pesona magis keris sudah jauh berkurang.

Sukarno, presiden pertama RI, pernah memiliki pengalaman soal keris yang tak ampuh lagi. Sekali waktu di tahun 1960an, Sukarno pernah didatangi oleh seseorang yang membawa keris pusaka.

“Coba cabutlah keris itu dan mohon hujan turun sekeras-kerasnya agar rumput di tamanku ini menjadi segar dan hijau,” perintah Sukarno, seperti pengakuan Bambang Widjanarko -ajudan Bung Karno- dalam buku Sewindu dekat Bung Karno.

Mendapat perintah seperti itu, pak Pringgo -si pembawa keris pusaka- pucat pasi karena tahu keris yang dibawanya tak dapat memenuhi titah Bung Besar.

Lantas, apakah keris Pangeran Diponegoro bisa menanggulangi wabah Corona?

Editor : Taat Ujianto