• News

  • Singkap Budaya

Di Balik Kabar Viral, ‘Lawan Pagebluk Corona dengan Sayur Lodeh‘

Ajakan saatnya masak sayur lodeh beredar luas di media sosial
foto: istimewa
Ajakan saatnya masak sayur lodeh beredar luas di media sosial

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Wabah virus corona benar-benar menghentakkan kesadaran publik. Semua berusaha mampu selamat dan mencegah terpapar virus dengan berbagai cara.

Menengok sejarah Nusantara, pandemi corona bisa disamakan dengan “pagebluk” yakni wabah penyakit yang mengerikan, ibarat pagi masih bercengkerama, sorenya sudah harus dikuburkan.

Jejak tentang pagebluk cukup banyak ditemukan dalam memori masyarakat Jawa. Untuk memeranginya, di era dulu, digelarlah ritual bersih desa, tolak bala, mulai dari persembahan sesaji hingga pertunjukan wayang kulit.

Masyarakat Jawa memahami pagebluk sebagai datangnya kuasa kegelapan yang mengganggu manusia. Maka, diperlukan ritual memanggil keselamatan sedemikian rupa, mengingat di era itu, kajian ilmiah masih minim sehingga pendekatan budaya dan spiritual lebih mendominasi.

Digelar pertunjukan wayang diharapkan bisa membuat para dhanyang (roh leluhur pelindung desa) datang dan menolong warga desa.

Tak hanya wayang, pusaka berupa keris dan tombak pun digunakan dalam ritual penolak bala karena semua itu dipercaya bisa mengusir wabah penyakit yang digambarkan sebagai roh jahat.

Baru-baru ini, beredar juga melawan pagebluk dengan “sayur lodeh”. Di Yogyakarta, banyak pihak yang percaya dengan berita yang tersebar di media Wahtsapp. Akibatnya, bahan sayur lodeh laris manis di pasar tradisional.

Pesan dalam bahasa Jawa tersebut berbunyi: PAGEBLUG. Wayahe rakyat Mataram nyayur LODEH 7 warna: Kluwih, Cang Gleyor, Terong, Kulit Mlinjo, Waluh, Godong So, Tempe. Mugi SEDAYA tansah widodo nir ing SAMBEKALA.

Artinya: Pagebluk. Saatnya rakyat Mataram membuat sayur lodeh 7 warna: kluwih, kacang panjang, terong, kulit melinjo, labu, daun melinjo muda, tempe. Semoga semua selalu selamat dari bencana.

Pesan tersebut berlanjut dengan menerangkan makna di balik sayur lodeh:

Maknane iki lur... Ojo suudzon musrik nggih..

1.Kluwih : kluwargo luwihono anggone gulowentah gatekne.

2.Cang gleyor : cancangen awakmu. Ojo lungo².

3. Terong : terusno anggone olehe manembah Gusti. Ojo datnyeng, mung Yen iling tok.

4. kulit melinjo : Ojo mung ngerti njobone Ning kudu Reti njerone Babakan pagebluk.

5. Waluh : uwalono ilangono ngeluh gersulo.

6.Godong so : golong gilig donga kumpul wong Sholeh sugeh kaweruh Babakan agama lan pagebluk

7.Tempe : temenana olehe dedepe nyuwun pitulungane Gusti Allah.

Artinya:

1.Kluwih: keluarga harus lebih mendapat perhatian lebih

2.Kacang panjang: ikatlah (tahan) dirimu tidak bepergian

3.Terong: teruskan untuk terus ingat Tuhan. Jangan cuma sepintas lalu (kala ada bencana).

4.Kulit melinjo: jangan hanya tahu luarnya, tapi juga paham makna suatu bencana.

5.Waluh: hilangkan keluh kesah

6.Daun melinjo muda: gotong royong, berdoa bersama orang saleh yang banyak ilmu soal agama dan soal bencana.

7.Tempe: bersungguh-sungguhlah meminta pertolongan Tuhan.

Pesan tersebut dilengkapi foto Sultan HB X tengah bertakhta dengan busana kebesaran. Namun pihak humas Pemda DIY telah membantah bahwa pesan tersebut berasal dari Sultan, raja Keraton Yogyakarta sekaligus Gubernur DIY.

Sebelum zaman WhatsApp, pesan memasak sayur lodeh untuk tolak bala juga pernah beredar melalui pesan singkat SMS pada 2005. Kala itu, pesan itu untuk merespons bencana badai di Laut Selatan.

Sultan HB X pun membantah pesan itu sebagai perintahnya. "Membuat sayur lodeh tujuh macam itu bukan perintah saya, tapi kalau masyarakat kemudian mematuhinya ya bagaimana lagi," kata dia ketika itu.

Budayawan Irfan Afifi menilai tindakan warga tersebut bentuk tradisi menyikapi bencana. “Kalau pengetahuan seperti ini adalah pengetahuan tradisi. Ia tidak harus menunggu konfirmasi sains,” ujar Irfan saat dihubungi Gatra.com, Sabtu (21/3).

Warga memasak sayur tujuh rupa secara spontan karena keyakinannya. “Itu cukup diyakini atau tidak, tinggal dipilih. Dengan demikian, dalam kondisi ini, sains tidak lebih tinggi daripada tradisi dan keyakinan,” ujarnya.

Editor : Taat Ujianto