• News

  • Singkap Budaya

Purworejo Ramai Tidurkan ‘Pengantin‘ di Bantal lalu Digantung di Pintu

Ilustrasi tradisi wiwitan sebelum panen padi
Harian Jogja
Ilustrasi tradisi wiwitan sebelum panen padi

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM - Di tengah wabah corona melanda dunia, warga desa di kawasan Purworejo Jawa Tengah tengah disibukkan dengan musim panen padi. Para petani tampak sibuk memotong padi seolah tidak pernah mendengar bahwa dunia sedang berguncang oleh 'badai' Covid-19.

Maklum, di wilayah ini, belum tercatat memiliki pasien positif terpapar corona. Akan tetapi, catatan ini bukan ingin membahas tentang wabah corona namun ingin melihat lebih jauh seputar budaya panen padi di wilayah Purworejo

Bagi generasi milenial, mungkin asing dan masihkah mengenal tradisi asli leluhur yang satu ini? Saat menjelang panen, ada prosesi penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan kepada Dewi Sri sebagai ungkapan atas berkah kehidupan. Nama tradisi itu adalah "wiwitan".

Dan syukurlah, di beberapa desa di wilayah Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah, dan sekitarnya, ternyata tradisi ini masih bertahan. Bahkan ada yang mencoba menjadikannya sebaga salah satu objek wisata daerah.

Dalam mitologi Jawa, Dewi Sri dipercaya merupakan dewi pelindung tanaman padi. Dewi Sri adalah simbol kesuburan yang menjadi harapan kaum tani.

Dalam bahasa Jawa, “wiwitan” berarti  “mulai”. Dalam hal ini, wiwitan menjadi tanda awal dimulainya masa panen padi. Dan kadang, wiwitan juga dilakukan untuk tanaman pangan lainnya seperti ubi, singkong, kedelai, dan lain-lain.

Ada istilah juga dalam filosofi Jawa bahwa bumi dianggap sebagai sedulur sikep artinya bumi adalah saudara umat manusia.

Maka sudah sepantasnya jika manusia harus berlaku sopan dan menghormati bumi sebab bumilah yang memberikan sumber penghidupan umat manusia. Terjhadap bumi, manusia harus mampu saling memberi dan menerima.

Ketika manusia tidak berlaku sopan dan menjaga relasi dengan bumi makan akan muncul bencana yang disebut pagebluk. Bila bumi tidak dirawat pasti akan mendatangkan malapetaka seperti kekeringan, gagal panen, banjir, dan sebagainya.

Di sisi lain, tradisi wiwitan juga sarat dengan pesan sosial. Antar manusia juga haris saling berbagi. Maka ketika akan panen, pemilik lahan padi sudah sepantasnya berbagi rejeki kepada sesama di sekitarnya.

Ungkapan berbagi itu ditunjukkan dengan membagoi makanan yang disajikan selama wiwitan. Makanan itu antara terdiri dari tumpeng nasi, sayur keluban atau urapan, lauk tahu, tempe, telur, dan makanan sejenisnya.

Di lokasi tertentu, ada juga yang memberlakukan jenis makanan lebih mewah yaitu dengan menyajikan ayam ingkung (dimasak dengan bentuk relatif utuh tidak dipotong-potong).

Biasanya, wiwitan dengan ayam ingkung dilakukan untuk lahan sawah yang dipercaya angker atau keramat. Oleh sebab itu, pemiliknya akan mengungkapkan rasa syukurnya secara lebih mewah.

Selain makanan, biasanya juga ada ubarampe (perlengkapan lain) yang berupa bara api untuk membakar kemenyan,  bunga setaman, keris cabai, kendi berisi air, dan tentu saja kemenyan untuk dibakar.

Makanan dan ubarampe yang disajikan sebenarnya merupakan simbol pengharapan umat manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan sesaji itu, manusia berharap dikabulkan doanya.

Dengan demikian, sesaji juga sekalogus sebagai tanda keharmonisan hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan Sang Sumber Pemberi berkah kehidupan.

Lalu, bagaimanakah urut-urutan proses wiwitan diselenggarakan?

Keluarga petani yang memiliki lahan padi yang siap panen, akan menentukan hari pelaksanaan wiwitan. Biasanya dilakukan dua sampai enam hari sebelum dipanen.

Setelah itu, ia akan menyiapkan semua bahan sesaji atau ubarampe, Setelah semua tersedia, ia akan mengajak sanak saudara atau tetangganya untuk ikut dalam acata wiwitan. Biasanya yang ikut adalah anak-anak.

Rombongan kemudian menuju lahan padi yang siap panen. Sang Petani akan memilih salah satu pinggiram tanaman padi yang dianggap sudah masak. Beberapa gerumbul padi akan disibakkan untuk meletakkan ubarampe.

Pemilik sawah akan dukuk atau bersila. Lalu ia memulai pembacaan doa permohonan dan ucapan syukur. Kemenyan pun dibakar sehingga menimbulkan aroma mistis yang sangat khas.

Membakar  kemenyan sebenarnya bukan ditujukan untuk menyembah roh halus. Membakar kemenyan adalah wewangian yang berfungi membawa suasana sakral. Dengan kesakralan, semua yang mengikuti acara wiwitan akan diajak khusuk mengikuti acara.

Doa selesai, padi kemudian disiram dengan air kendi yang dicampur dengan daun pohon dadap sirep  sebagai  simbol agar manusia jangan lupa untuk menenangkan hati dan pikiran setelah sekian lama bekerja keras mengolah dan menanam padi.

Pemilik sawah juga akan menyebar sebagaian makanan yang di bawa ke hamparan sawah yang diliputi padi menguning. Sebagian  nasi lengkap dengan urapan dan lauk dipincuk (dibungkus) dengan daung pisang dan ditaruh di empat sudut sawah.

Empat sudut adalah simbol mata angin atau kiblat. Dalam bahasa Jawa, istilahnya: kiblat papat siji pancer; kakang kawah, adi ari-ari, getih, lan puser, kang nyawiji dadi siji.

Selanjutnya, beberapa batang padi akan dipotong dengan alat pemotong padi. Biasanya dengan menggunakan ani-ani. Daunya kemudian dikepang. Batang padi yang dipetik dan dikepang ini dinamakan “pengantin”.

Padi “pengantin” adalah simbol agar sebelum panen, manusia jangan lupa untuk menyisihkan bibit. Dan bibit itu harus diperlakukan dengan baik. Ia layaknya “pengantin” yang diharapkan bisa melanjutkan keturunan.

Padi yang dipotong dan dikepang atau disebut “pengantin” akan dibawa ke rumah dan biasanya akan diletakkan sebentar di atas bantal (ditidurkan di kamar tidur) selama semalam. Paginya dipindahkan dan digantung di atas pintu.

Selesai ritual pemotongan padi untuk “pengantin”, acara wiwitan ditutup dengan menyantap makanan yang dibawa. Semua orang yang ikut acara wiwitan menikmati sajian itu sambil bercengkerama.

Tiga atau lima hari kemudian, hamparan padi yang sudah dirayakan ritual wiwitan biasanya akan dipanen. Ada yang dipanen sendiri, dipanen gotong royong, atau dijual oleh para pemborong padi.

Editor : Taat Ujianto