• News

  • Singkap Budaya

Kearifan Lokal vs COVID-19 Bukan Sekadar Pidato

Ilustrasi gotong royong
Indonesia.go
Ilustrasi gotong royong

MAGELANG, NETRALNEWS.COM - "Kearifan lokal sebagai kekuatan untuk melawan pandemi virus corona," kata Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito dalam keterangan tertulis Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Pemerintah Kota Magelang di Magelang, Kamis (30/4/2020).

Ia yakin warga 17 kelurahan di tiga kecamatan di Kota Magelang masih menghidupkan budaya komunal berbagi dan bergotong royong.

"Sebelum saya (memberikan bantuan), masyarakat yang sudah mendahului banyak juga. Ada dari CSR (Corporate Social Responsibility), komunitas-komunitas," katanya.

"Budaya berbagi dan peduli ini masih sangat kental di Kota Magelang," kata Wali Kota saat menyampaikan bantuan paket sembako kepada warga Kampung Nambangan, Kelurahan Rejowinangun Utara, Kecamatan Magelang Tengah.

Pemerintah Kota Magelang telah membentuk Satuan Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 hingga tingkat rukun tetangga dan rukun warga serta bersiap menyalurkan bantuan dalam program jaring pengaman sosial bagi warga yang terdampak wabah.

"Sebenarnya data (penerima manfaat) sudah siap, tinggal menunggu Kemensos. Kita sudah rapatkan dengan DPRD, tinggal menunggu payung hukumnya. Jangan sampai, meskipun untuk bantuan kemanusiaan, tapi kita menabrak aturan," kata Wali Kota.

Pemerintah kota melibatkan pengurus rukun tetangga/rukun warga dan lurah dalam mendata calon penerima bantuan sosial.

"Kita serahkan ke RT-nya, RW-nya, lurahnya karena mereka lebih tahu," demikian Sigit Widyonindito.

Falsafah gotong royong

Menukil catatan Yayasan pelita (1979:54) seperti dukutip Oktavian Adi W dalam “Tugas Filsafat Pancasila, Negara Gotong Royong sebagai Sari Pati Pancasila,” disebutkan gotongroyong adalah kerja dama secara sukarela yang biasa dilakukan oleh penduduk desa sejak nenek moyang kita.

Gotong royong sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang. Ggotong royong merupakan bagian dari kebudayaan yang diwariskan  sejak Indonesia belum menjadi Negara.

Di era Presiden Soeharto, nilai gotong royong sering diagungkan sebagai dasar pembangunan nasional.  Hal tersebut tercantum dalam TAP MPR No.IV/MPR/1978 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara.

Di sana disebutkan asas usaha bersama dan kekeluargaan ialah bahwa usaha mencapai cita-cita dan aspirasi-aspirasi bangsa harus merupakan uasah bersama dari bangsa dan seluruh rakyat yang dilakukan secara gotong royong dan dijiwai semangat kekeluargaan.

Menurut Binarto (1980:14-15), sudah selayaknya bangsa ini kembali melestarikan dan membina nilai gotong royong.  Modernisasi dan kemajuan zaman memberikan pengaruh bagi memudarnya nilai ini.

Keadaan dunia kita sudah semakin maju. Modernisasi telah banyak memberikan pengaruh terhadap kehidupan sosial, kebudayaan, gaya hidup manusia Indonesia, dan sebagainya.

Apakah modernisasi akan melunturkan bahkan menghilangkan gotong royong di Indonesi?

“Pertanyaan ini memang banyak timbul, karena agaknya bentuk-bentuk gotong royong di beberapa daerah terutama di perkotaan sudah tampak menajuh dari bentuk aslinya,” tulis Binarto.

Kesan yang muncul dewas ini adalah: adagium gotong royong dimunculkan oleh pidato, padahal sebenarnya terminus gotong royong.

Padahal bangsa ini “berada” dalam suatu proyek besar dan panjang untuk mengembalikan lagi realitas gotong royong dalam kehidupan berbangsa.

Soekarno selalu berpesan untuk mengedepankan paham kebangsaan (nasionalisme) ketika mendengungkan nilai gotong-royong. Indonesia, bagi Sokarno didirikan buat semua.

Ide kebangsaan di sini bukanlah prinsip ideologis semata, melainkan lebih berupa penghayatan hidup dalam kebersamaan.

Sementara menurut Ernest Renan, kebangsaan adalah suatu nyawa yang terdiri dari dua hal, yakni : pertama, dulu rakyatnya menjalani suatu riwayat yang sama, dan kedua, sekarang mereka harus mempunyai kehendak untuk bersama.

Editor : Taat Ujianto