• News

  • Singkap Budaya

Diganggu Roh Halus, Warga di Daerah Ini Minta Bantu Pue Ni Songi

Perayaan kebaktian umat Kristen di Poso tahun 1931
tropenmuseum
Perayaan kebaktian umat Kristen di Poso tahun 1931

PALI, NETRALNEWS.COM - Dalam kajian Kruyt, seorang etnografi Belanda klasik, suku Pamona biasa disebut juga suku Toraja Poso-Tojo atau Toraja Bare’e dan menggolongkannya sebagai orang Toraja Timur.

Istilah “Pamona” baru dipakai orang Sulawesi Tengah sekitar tahun 1970 untuk mengganti sebutan “Toraja Poso”. Suku ini mendiami daerah sekitar Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, antara lain di Kecamatan Poso Kota, Poso Pesisir, Una-Una, Walea, Lage, dan beberapa kecamatan lainnya.

Sedangkan asal kata “Pamona” sebenarnya  diambil dari salah satu nama bukit di Tentena. Bukit tersebut dinamai Pamona karena banyak ditumbuhi pohon Pamona.

Sebelum terjadi pemberontakan DI/TII di Sulawesi, suku Pamona sudah tersebar di Sulawesi Tengah. Cukup mudah menengarai apakah daerah tertentu terdapat suku Pamona. Sebab, mereka memiliki Rukun Poso, yaitu wadah perkumpulan sesama suku untuk melakukan berbagai kegiatan adat.

Suku Pamona memiliki dua lembaga adat. Pertama adalah lembaga adat di daerah Poso yang disebut Majelis Adat Lemba Pamona Poso. Sedangkan untuk di tanah Luwu (Kabupaten Luwu Timur dan Kabupaten Luwu Utara) dinamakan Lembaga Adat Lemba Pamona Luwu.

Menurut data stastistik tahun 1961, seperri dikutip Dr Zulhani Hidayah dalam Suku Bangsa  di Indonesia (2015: 301), jumlah suku ini mencapai sekitar 125.000 jiwa. Bisa jadi, kini sudah mencapai lebih dari tiga kalinya.

Bila diidentifikasi secara lebih detail, suku ini sebenarnya terdiri dari empat kelompok. Kelompok pertama, mendiami daerah sekitar Teluk Tomini dan leher Jazirah Timur Sulawesi Tengah.

Kelompok kedua, mendiami sekitar Danau Poso dengan subsuku antara lain suku Pebato, Lage, Kadambuku, dan sebagainya.

Kelompok ketiga mendiami bagian Lembah Sungai La’a sebelah hulu dan bagian Timur Danau Poso, dengan subsuku antara lain suku Palende, Kalae, Tanandoa, Pada, dan sebagainya.

Kelompok terakhir, mendiami bagian hulu Sungai Kalaena dan bagian Selatan Danau Poso dengan subsuku antara lain orang Lampu, Tawi, Laimono, dan Lembo.

Permukiman suku Pamona bentuknya memanjang dan tersebar di perbukitan di sepanjang lembah Sungai Poso. Di setiap permukiman biasanya juga dibangun semacam benteng untuk menghalangi serangan musuh.

Dalam setiap permukiman terdapat sistem kepemimpinan berdasarkan konsensus yang disepakati. Nama pemimpin mereka adalah kabose (pemimpin suku atau komunitas).

Pemimpin inilah yang biasanya bertugas melakukan negosiasi dengan komunitas lain, mengatur perayaan atau upacara adat, dan mengatur kegiatan lainnya.

Suku Pamona juga mudah dikenali dari bahasa komunikasi yang mereka gunakan yaitu berbahasa Bare’e dan kini lebih dikenal sebagai bahasa Pamona.

Pada mulanya, suku ini biasa hidup berladang dengan sistem tebang bakar. Namun seiring waktu, secara bertahap, mereka mengenal bercocok tanam menetap dengan bersawah dan berkebun, apalagi ketika mereka sudah mengenal perkebunan kopi dan cengkeh yang sangat laku di pasar dunia.

Selain kopi,  tanaman pokok mereka adalah padi, jagung, dan aneka sayuran. Selebihnya mereka juga berburu hasil hutan.

Sistem kekerabatan suku ini bersifat bilateral. Pemuda dan pemudi yang sudah dinyatakan pantas untuk menikah, akan tinggal di rumah pihak istri, sampai mereka mempunyai anak pertama dan bisa membina keluarga sendiri.

Kekhasan dari suku ini, dapat juga dilihat dari sistem kepercayaan asli yang mereka anut. Sebelum mengenal ajaran Kristen (agama mayoritas saat ini), suku Pamona bersifat animisme dan menghormati dea-dewi atau pue.

Mereka percaya bahwa hidup mereka sangat dipengaruhi oleh kekuatan supranatural yang tersimpan di alam semesta. Sedangkan dewa yang paling mereka segani adalah Pue N’Palaburu.

Dewa Pue N’Palaburu dianggap sebagai dewa yang telah menciptakan alam yang berdiam di tempat matahari terbit dan terbenam. Oleh sebab itu, ia biasa disebut juga sebagai Dewa Matahari.

Ketika kekuatan gaib atau roh-roh jahat yang tersebar di alam semesta mengganggu kehidupan masyarakat Pamona, maka mereka akan segera melakukan sejumlah ritual untuk memohon pertolongan kepada Dewa Pue Ni Songi.

Dewa inilah yang dipercaya menjadi sahabat orang Pamona ketika dirundung malang akibat serangan roh-roh gaib yang bisa menimbulkan wabah penyakit, wabah hama, bencana banjir, dan sebagainya.

Selain dewa-dewa tersebut, orang Pamona juga sangat menghormati roh-roh orang yang sudah meninggal, terutama para leluhur mereka yang telah hidup di masa-masa sebelumnya.

Orang Pamona percaya bisa melakukan komunikasi dengan entitas-entitas adikodrati melalui perantara tertentu. Dan orang khusus yang menjadi perantara antara kehidupan nyata dengan dunia roh adalah kaum syaman (ahli roh).

Melalui syaman, di waktu tertentu, orang Pamona akan memberikan sesaji bagi roh-roh para leluhur mereka. Dalam ritual itu, masyarakat Pamona juga akan menyampaikan permohonan agar mereka dihindarkan dari segama gangguan makhluk jadi-jadian (hantu) yang disebut tau mepongko.  

Orang Pamona kemudian banyak menganut agama Kristen sejak sekitar tahun 1892. Hingga saat ini, ajaran Kristen diterima secara umum sebagai agama rakyat.

Mereka berhimpun kesatuan sistem spiritual dalam kelompok Gereja Kristen Sulawesi Tengah. Markas utamanya berada di Kota Tentena, Poso.

Editor : Taat Ujianto