• News

  • Singkap Budaya

Arwah Orang Jawa Bisa Menginang dan Hisap Rokok?

Ilustrasi kinang dalam tradisi Jawa
foto: istimewa
Ilustrasi kinang dalam tradisi Jawa

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM - Orang Jawa pasti tidak asing. Ketika ada kenduri atau selamatan orang meninggal, selalu disajikan ubarampe (perlengkapan adat) berupa kinang dan rokok. Kedua benda itu menjadi semacam kewajiban yang harus disediakan keluarga yang sudah meninggal.

Sebenarnya, jenis ubarampe bergantung pada jenis kelamin orang yang telah meninggal. Bila perempuan yang meninggal, ubarampe yang wajib disediakan adalah kinang. Dan bila laki-laki yang meninggal maka rokok adalah sesaji yang wajib disediakan.

Akan tetapi, hampir semua kenduri,  entah perempuan atau laki-laki yang meninggal, kinang dan rokok biasanya selalu tersaji. Pihak keluarga biasanya juga mengaitkan arwah yang meninggal dengan arwah leluhur lain yang sudah mendahului menuju alam baka.

Pertanyaannya, apakah arwah orang meninggal masih mau makan kinang atau mengunyah daun sirih? Apa sesungguhnya makna sesaji itu sehingga seolah menjadi suatu kewajiban bagi orang Jawa?

Mengutip kajian Sri Wintala Achmad dalam Asal-Usul dan Sejarah Orang Jawa (2017: 160), sebenarnya, ubarampe yang memiliki makna filosofis hanyalah kinang. Rokok hanyalah sebagai pengganti kinang, tidak memiliki makna filosofis.

Kinang adalah perpaduan dari daun sirih, bubuk gamping (injet), gambir, buah pinang, dan tembakau. Kinang bermakna “mengenang atau meminang jiwa (jiwa meminang raga)”, tulis Sri Wintala Achmad.

Selain itu, kinang melambangkan tentang kehidupan yang saling melengkapi, saling terkait antara entitas yang satu dengan entitas yang lain.

Semua entitas yang berbeda-beda itu sebenarnya satu kesatuan yang utuh dalam alam semesta. Itulah manunggaling kawula lan Gusti (bersatunya manusia dengan Tuhan).

Dalam konteks ini, orang Jawa menyajikan kinang ingin mengungkapkan harapannya agar orang yang telah meninggal bersatu kembali dengan Tuhan atau Sang Pencipta. 

Dalam mengunyah kinang, ketika semua bahan dipadukan maka akan menghasilkan warna merah (dubang atau idu abang). Dalam hal ini, mengandung makna bahwa ketika unsur-unsur kehidupan melebur (menghilangkan ke-aku-an), maka akan menghasilkan unsur kesatuan yang baru.

Dalam konteks yang lebih sempit, mengunyah kinang bisa juga diartikan sebagai sistem kerja tim (teamwork). Tak ada kesuksesan yang diraih hanya seorang diri.

Kesuksesan adalah hasil dari keterkaitan banyak unsur dan pribadi. Maka, setiap orang tidak boleh hanya menyombongkan kemampuan diri sendiri atau egois. Setiap orang tidak boleh merasa paling hebat dan paling berjasa.

Ada cerita lisan dalam masyarakat Jawa yang menggambarkan hal ini.

Konon, dahulu kala, ada tujuh bidadari yang dipimpin Dewi Supraba. Mereka hanya mengunyah buah pinang atau buah pohon jambe. Yang mereka lakukan bukanlah “nginang” tetapi “mucang”. Mucang hanya bertujuan untuk menghilangkan bau mulut.

Selanjutnya, munculah Batara Kamajaya dan Batari Kamaratih. Mereka berdua mengunyah buah pinang, gambir, dan kapur. Apa yang mereka lakukan namanya "nigan" (dari kata tigan). Tigan artinya telur, yakni perpaduan unsur kuning telur, putih telur, dan kulit telur. Dan ini juga bukan “nginang”.

Terakhir, munculah Batara Wisnu yang kemudian melengkapi apa yang sudah ada sebelumnya. Ia menambah unsur daun sirih dan tembakau. Tembakau diperlukan untuk terakhir kalinya.

Ketika empat unsur telah dikunyah dan menghasilkan ludah berwarna merah, tembakau akan digunakan untuk membersihkan mulut. Jadi, semacam unsur penutup. Namanya “nyusur”. Dan semua proses itu, dinamakan “nginang” hingga saat ini.

Dengan demikian, ketika ada sesaji kinang, janganlah kita langsung mengasumsikan seolah sesaji itu akan dimakan atau dikunyah oleh roh halus atau arwah yang sudah meninggal.

Dunia orang Jawa dipenuhi dengan simbol-simbol. Bila tidak ada simbol, maka bukanlah budaya Jawa. Kinang hanyalah satu jenis simbol dari sekian banyak simbol kehidupan lainnya.

Ritual mengunyah kinang secara massal biasanya diadakan saat diselenggarakan acara Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta, Jawa Tengah. Dalam acara ini, mengunyah kinang menjadi salah satu unsur terpenting dari berbagai bagian prosesi.

Seperti halnya telah diungkap di atas, ritual nginang dalam Sekaten juga memiliki kekayaan nilai filosofi. Bahkan dari kacamata kesehatan, mengunyah kinang juga sangat baik bagi kesehatan mulut, gigi, dan pencernaan. Sebab, daun sirih mengandung zat antibiotik.

Editor : Taat Ujianto