• News

  • Singkap Budaya

Perahu Katir, Tak Ada Duanya di Tempat Lain

Ilustrasi Perahu Katir
Foto: Antara
Ilustrasi Perahu Katir

KOTABARU, NETRALNEWS.COM - Pemerintah Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, terus berusaha dengan maksimal dalam melestarikan salah satu budaya lokal yaitu lomba perahu katir yang nyaris hilang akibat tergerus budaya modern.

"Lomba perahu katir ini menjadi salah satu upaya kita dalam melestarikan sejarah nenek moyang jaman dulu sebagai seorang pelaut. Jangan sampai anak-anak kita nantinya tidak tahu asal muasal lomba katir," kata Bupati Kotabaru H Sayed Jafar, Jumat (18/9/2020).

Ia memaparkan, lomba perahu katir atau katir race yang dikemas dengan kejuaraan Bupati Cup II, diikuti oleh sebanyak 30 peserta, dimulai dari Pulau Kerasian menuju Pulau Batu Lima, Pulau Cinta, dan berakhir di Pulau Kerumputan, Kecamatan Pulau Laut Kepulauan.

Ketua panitia lomba katir, Hamdi, menambahkan, nenek moyang warga Pulau Kerasian pada zaman dahulu adalah pendatang.

"Karena itu, untuk menghormati dan mengenang para leluhur sekaligus melestarikan budaya dan sejarah turun temurun, maka setiap tahun diadakan lomba katir," tutur Hamdi.

Sebelumnya, DPRD setempat mendukung agar ajang budaya masyarakat di Pulaulaut Kepulauan berupa lomba perahu layar "Katir Race" dijadikan destinasi wisata nasional.

"Kegiatan ini unik dan tidak ada di daerah lain. Hal ini bisa dipadu dengan budaya lain yang digelar di tempat yang sama yakni `Melasuang Manu`," kata Wakil Ketua DPRD Kotabaru, H Mukhni AF.
 
Apalagi, lanjutnya, termasuk dalam visi dan misi bupati saat ini sebagaimana yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah yang salah satunya adalah pengembangan sektor pariwisata.

Ia menuturkan, Kabupaten Kotabaru yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan, memiliki banyak keunikan budaya khususnya yang berkaitan dengan kelautan.

Jika hal itu dikembangkan dan didukung menjadi destinasi wisata, dia yakin dan optimistis akan membawa pengaruh positif masyarakat dan daerah, seperti ekonomi dan budaya.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : Antara