• News

  • Singkap Budaya

Lompat Batu, Ritual Tradisional untuk Laki-laki Sejati Suku Nias

Lombo Batu di suku Nias
Alampedia
Lombo Batu di suku Nias

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – "Lompat Batu" bagi suku Nias, di Pulau Nias, Sumatera Utara, tepatnya di Desa Baomataluo, di Teluk Dalam Nias Selatan, kerap dikatakan sebagai sebuah bentuk olahraga, tetapi sebenarnya bukan diperuntukkan untuk olahraga. Lompat Batu, dalam sejarahnya, bahkan hingga kini, merupakan sebuah ritual tradisional suku Nias.

Lebih khusus lagi, seperti pernah dituturkan oleh kepada suku di Baomataluo kepada editor di Baomataluo, Teluk Dalam, Nias Selatan, adalah sebuah ritual yang diperuntukkan kaum pria atau laki-laki yang hendak diterjunkan ke medan perang melawan musuh.  Ritual itu sebagai simbol dan takaran seorang laki-laki Nias, apakah dia sudah dewasa atau belum. Kalau belum bisa, ia tidak bisa diterjunkan ke medan perang.

Dalam bahasa Nias lompat batu disebut dengan Fahombo Batu. Dalam perkembangannya saat ini, Lompat Batu, tidak ditekankan lagi untuk ritual untuk para laki-laki sebelum perang, tetapi kerap dijadikan sebagai arena atau media olahraga bagi para pria Nias

Dan kini, ritual Lompat Batu, semakin dijadikan dan dipopulerkan sebagai atraksi untuk menarik minat para wisatawan, alias telah menjadi obyek wisata yang sangat menarik. Di areal Lompat Batu itu, diapiti rumah-rumat ada suku Nias, sehingga menjadi pelengkap obyek wisata Pulau Nias. Apalagi, di pantai Teluk Dalam, merupakan tempat selancar yang sangat menarik. 

Dengan ombak laut yang bergulung-gulung, menurut pengalaman sejumlah wisatawan asal Jerman yang pernah bersama editor di Teluk Dalam, beberapa ratus metee dari Baomataluo ketika itu, laut di Pantai Teluk Dalam merupakan tempat berselancar yang sangat heboh, bahkan jauh lebih heboh daripada di daerah lain. Bagi para wisatawan itu, hanya pantai di Kepulauan Mentawai yang dapat menyainginya.  

Olah raga yang sebelumnya merupakan ritual pendewasaan Suku Nias ini banyak dilakukan di Pulau Nias dan menjadi objek wisata tradisional unik yang teraneh hingga ke seluruh dunia.Mereka harus melompati susunan bangunan gunung yang keras setinggi 2 meter dengan ketebalan 40 cm. 

Hanya laki-laki yang cekatan, punya nyali, dan latihan yang terus-meneruslah hingga menemukan teknik mendarat yang tepatlah  yang dapat atau bisa melakukan atraksi Lompat Batu itu. Jika tidak, jelas cedera berat yang akan menimpa sang peserta atraksi.  Saat atraksi itu berlangsung, seperti yang pernah disaksikan oleh editor, pria-pria peserta atraksi itu dengan pakaian perannya, terlihat seperti terbang dan menari-nari dengan sangat indah di atas batu hingga melewatinya. 

Dalam kisah sejarah di masa lampau, laki-laki atau  pemuda Nias akan mencoba untuk melompati batu setinggi lebih dari 2 meter, dan jika mereka berhasil mereka akan menjadi lelaki dewasa dan dapat bergabung sebagai prajurit untuk berperang dan menikah. 

Laki-laki yang belum bisa melompat batu dalam atraksi itu, mereka juga belum berani untuk melamar gadis Nias yang berkulit putih dan cantik-cantik itu. Seorang laki-laki yang belum bisa melompati batu itu, dia bukan saja dikatakan belum dewasa, tetapi dinilai sebagai laki-laki pengecut. 

Sejak usia 10 tahun, anak lelaki di Pulau Nias akan bersiap untuk melakukan giliran "fahombo" mereka. Sebagai ritual, fahombo dianggap sangat serius dalam adat Nias. Anak lelaki akan melompati batu tersebut untuk mendapat status kedewasaan mereka, dengan mengenakan busana pejuang Nias, menandakan bahwa mereka telah siap bertempur dan memikul tanggung jawab laki-laki dewasa.

Batu yang harus dilompati dalam fahombo berbentuk seperti sebuah monumen piramida dengan permukaan atas datar. Tingginya tidak kurang dari 2 meter, dengan lebar 90 cm, dan panjang 60 cm. Pelompat tidak hanya harus melompati tumpukan batu tersebut, tetapi ia juga harus memiliki teknik untuk mendarat, karena jika dia mendarat dengan posisi yang salah, dapat menyebabkan cedera otot atau patah tulang. 

Pada masa lampau, di atas papan batu bahkan ditutupi dengan paku dan bambu runcing, yang menunjukkan betapa seriusnya ritual ini di mata Suku Nias. Secara taktis dalam peperangan, tradisi fahombo ini juga berarti melatih prajurit muda untuk tangkas dan gesit dalam melompati dinding pertahanan musuh mereka, dengan obor di satu tangan dan pedang di malam hari.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melompati batu ini terutama saat mendarat. Apabila peserta mendarat dalam posisi yang salah maka akan sangat beresiko tinggi seperti cidera otot bahkan patah tulang. Tentunya untuk mengikuti Tradisi Lompat Batu ini tidak boleh orang sembarangan. Walaupun difungsikan untuk menentukan kedewasaan pemuda, namun mereka sudah terlatih semenjak kecil, sehingga sudah terbiasa dan tahu tekniknya.

Nilai-Nilai Dalam Tradisi Lompat Batu 

Tradisi Lompat Batu ini tidak hanya sekedar permainan maupun upacara biasa, namun juga memiliki nilai-nilai khusus yang ada didalamnya, terutama nilai kehidupan, nilai budaya, nilai kebersamaan. 

- Nilai Kehidupan 

Bagi masyarakat di sana, Tradisi Lompat Batu ini dijadikan sebagai media untuk menentukan kedewasaan seseorang, khususnya kaum laki-laki. Selain itu, tradisi ini juga dilakukan untuk membentuk karakter pemuda yang kuat dan tangkas dalam menjalani kehidupan.

- Nilai Budaya 

Sebagai salah satu warisan budaya, tradisi ini masih terus dilestarikan hingga sekarang. Selain sebagai bentuk ritual maupun upacara adat, tradisi ini juga dilakukan sebagai wujud apresiasi mereka terhadap budaya yang diwariskan oleh leluhur atau nenek moyang mereka. 

- Nilai Kebersamaan

Kebersamaan terlihat dari antusias masyarakat untuk menyaksikannya. Tradisi ini seakan menjadi suatu media dimana masyarakat bisa saling berkumpul dan mendukung peserta yang mengikutinya. Selain itu, tradisi ini juga menjadi media bagi para peserta untuk berjuang bersama dan menampilkan kehebatan mereka.

 

 

Editor : Thomas Koten
Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?