• News

  • Singkap Budaya

Telinga Panjang, Tanda Kecantikan dan Kesabaran Perempuan Dayak

Perempuan Dayak
rizkimegasaputra.blogspot.com
Perempuan Dayak

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kalimantan memang memiliki banyak keunikan, salah satunya ada pada tradisi memanjangkan telinga atau kuping. Tradisi itu jamak ditemui oleh mereka yang umumnya generasi tua.

Ya, memang tidak semua masyarakat Dayak melakukannya. Namun salah satu kampung pedalaman yaitu Kampung Bena Baru Suku Dayak Kenyah yang berada di Sungai Kelay, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Malinau, Kalimatan Timur, masih kental berdampingan dengan tradisi atau kultur tersebut.

Meski masuk suku pedalaman Kenyah namun kampung itu sudah dibuka untuk umum pada 1980an. Di sana ada sekitar 20 nenek berdaun telinga panjang dengan proses pemanjangan kuping yang dimulai sejak bayi.

Dalam prosesnya, telinga itu dipanjangkan menggunakan pemberat logam, berbentuk lingkaran gelang atau gasing berukuran kecil. Jumlah logam itu akan bertambah setiap tahunnya.

Lalu tradisi apa yang melatarbelakangi pemanjangan telinga itu? Ternyata zaman dulu, kuping panjang kerap dikaitkan dengan status sosial seseorang dalam masyarakat Dayak. Bagi Suku Dayak, telinga panjang menandakan bahwa mereka berasal dari golongan bangsawan.

Bagi wanita bangsawan, hal itu merupakan kehormatan tersendiri. Namun juga sebagai pembedaan pada wanita yang menjadi budak, kalah berperang, dan tak mampu membayar utang.

"Nenek buyut saya memiliki telinga panjang. Saya pernah bertanya ke ibu, apakah telinga nenek buyut enggak sakit? Ibu selalu jawab, di situlah kecantikan seorang wanita Dayak," kata Martya, salah seorang keturunan Dayak Kenyah

Lalu apakah mereka tersiksa dengan logam berat yang melingkar di telinga? Tidak. Wanita-wanita itu malah bangga dengan kebudayaan yang mereka miliki.

Bahkan, memanjangkan telinga menjadi simbol kesabaran wanita. "Makin panjang telinga perempuan Dayak, maka mereka akan merasa makin cantik," ucap salah seorang mahasiswa asli Dayak Kalimantan Tengah.

Wanita Suku Dayak menjalankan tradisi memanjangkan telinga dengan bahagia, tanpa terbebani. Namun budaya memanjangkan telinga sudah jarang ditemui di masyarakat Suku Dayak saat ini. 

 

Editor : Thomas Koten
Sumber : Dari berbagai sumber