• News

  • Singkap Budaya

Perempuan Jambi Lahirkan “Batu", Gimana Bayi “Batu” Itu Sekarang?

Peristiwa langka di dunia terjadi dan ini baru kali pertama terjadi di Provinsi Jambi. Seorang wanita berusia 60 tahun di Jambi, melahirkan
Duto Muda Kerinci
Peristiwa langka di dunia terjadi dan ini baru kali pertama terjadi di Provinsi Jambi. Seorang wanita berusia 60 tahun di Jambi, melahirkan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ada-ada saja manusia. Banyak keanehan yang terjadi di seputar manusia.  Manusia juga  banyak bikin keanehan. Itulah hebatnya manusia.  Iya, ada-ada saja.

Tetai, keanehan yang satu ini beda. Keanehan ini boleh dikatakan mukjizat.  Kenapa? Apa keanehannya? Mau tahu, ini ceritanya. Mau tahu, ikuti ulasan di bawah ini.

Ketika coba menelaah apa saja yang terjadi di ranah Jambi, terutama yang unik-unik, ternyata memang ada keunikan, sekaligus keanehan. Apa itu?

Di Jambi beberapa waktu lalu ada perempuan yang melahirkan “batu”.  Eehh, maksudnya, sang perempuan ini melahirkan bayi, tetapi bayi itu sudah membatu. Itu sudah terjadi beberapa waktu lalu. Tetapi, sayangnya hingga kini kita belum tahu sebab-musababnya secara detail. 

Koq bisa! Iya bisa. Kenapa tidak. Dan bayi itu pun sudah diawetkan, dan disimpan hingga kini? Yang mengawetkan bayi itu adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Mattaher, Jambi, tempat perempuan tersebut melahirkan.

Ketua Tim Medis Operasi pengangkatan bayi  ketika itu adalah dr Pariyanto, di Jambi, mengatakan berdasarkan diskusi bersama sang ibu dan keluarga, bayi yang sudah membatu karena sudah 37 tahun berada dalam kandungan itu diamanahkan untuk disimpan pihak rumah sakit.

"Ini kejadian langka, dan rumah sakit sudah dapat izin dari keluarga yang mengamanahkan untuk di simpan/diawetkan yang kegunaannya untuk dunia pendidikan.

Paryanto menjelaskan, kejadian ini merupakan kejadian langka. Dimana di seluruh dunia baru ditemukan 300 kasus, dan di Jambi adalah kasus kali pertama. Sebab itu, amanah sang ibu yang sudah berusia 60 tahun itu dinilai sangat bermanfaat untuk penelitian.

Apalagi banyak dokter-dokter muda yang belum mengetahui bentuk bayi yang sudah membatu. Menurutnya, fenomena yang sangat langka ini terjadi ketika sperma gagal kembali ke rahim, namun biasanya sel telur tetap berkembang di perut atau di luar rahim. Tapi kasus kali ini yakni gagalnya sperma kembali ke rahim dan anehnya malah menempel di penggantung rahim dan sembunyi di belakang rahim.

Akibat kurangnya makanan, bayi tersebut akhirnya mengecil dan mengeras hingga membatu. Kesulitan operasi karena posisi bayi berada di belakang rahim. Ini fenomena tidak lazim. 

Pelaksana Tugas (PLT) Direktur RSUD Raden Mattaher, dr Iwan membenarkan bahwa bayi yang sudah membatu itu diserahkan ke rumah sakit. Iwan menjelaskan bayi sudah menjadi mumi dan membatu itu diangkat dari perut sang ibu melalui proses operasi di Kamar Operasi RSUD Raden Mattaher Jambi.

Bayi yang sudah membatu itu disinyalir dokter berada di dalam perut sang ibu selama 37 tahun. "Waktu dikeluarkan, bayinya sudah membatu karena terlalu lama dalam kandungan, bayi itu mengalami mumifikasi atau menjadi mumi.

Peristiwa ini disebut litopedion atau bayi batu dan dalam 400 tahun terakhir, ditemukan 300 kasus yang sama. Bukankah itu suatu keajaiban yang terjadi di Jambi.

Peristiwa langka ini diketahui setelah sang ibu memeriksakan diri ke dokter. Anehnya keluhan yang diderita perempuan itu hanya sulit buang air besar (BAB) selama bertahun-tahun. Kasihan.

Saat diperiksa, ditemukan benjolan pada perut bawah sang ibu dan dugaan semula adalah tumor, namun setelah dianalisa tim dokter ternyata ada bayi di dalamnya perut pasien sehingga dilakukanlah operasi dan tim medis berhasil mengangkat bayi tersebut.

Intinya, itulah peristiwa langka yang pernah terjadi di Jambi. Kalau terjadi lagi di daerah lain? Iyaaa, janganlah. Kasihan ibunya. Tersiksa bertahun-tahun. 

Sayang bahwa sampai hari ini belum ada konfirmasi lebih lanjut soal sebab musabab kenapa perempuan itu bisa melahirkan anak yang sudah membatu, dan kenapa anak itu bisa menjadi “batu”. Jangan-jangan sudah dikonfirmasikan tetapi kita tidak tahu. 

Yang jelas, bagi dunia pendidikan di bidang kedokteran, sangat ingin untuk mengetahui latar belakang terjadinya tahu itu, kenapa dan kenapa. Iya ‘kan!

 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Farida Denura
Sumber : Diolah dari berbagai sumber