• News

  • Singkap Budaya

Lebih dari 61 Persen Perempuan Jambi Nikah Muda! Ingin Tahu,Kenapa?

Tekuluk, simbol kecantikan perempuan Jambi
Istimewa
Tekuluk, simbol kecantikan perempuan Jambi

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Nikah dalam usia berapa pun,  bagi manusia di mana pun bebas. Tidak ada yang melarang. Yang dilarang, apabila menikah di bawah umur, yaitu belum genap 17 tahun.  Usia di atas 17 tahun, itu dianggap sudah dewasa. 

Dewasa dalam arti usia, dan keadaan usia itulah yang menentukan atau menjadi takaran seseorang apakah ia sudah dewasa atau belum.  Mungkin dari sudut psikologi dan mental, dalam usia itu, sudah bisa dikatakan sudah dewasa. 

Apakah itu masih dapat diperdebatkan, entahlah! Yang penting di Indonesia, dan secara nasional, itulah ketentuannya. 

Namun, pada usia berapa seseorang perempuan menikah dapat dikategorikan sebbagai pernikahan dini alias nikah usia muda? 

Untuk zaman ini, seseorang yang disebut nikah dalam usia muda, adalah jika orang itu nikah dengan usia di bawah 20. Sedangkan, dalam usia antara 20 sampai 25, dianggap sudah bisa dan biasa. Dan peremuan nikah dalam usia matang, biasanya antara 25 sampai 30. Sedangkan, nikah dengan usia di atas 30, itu suah ketuaan.

Minimal, itulah yang kita dengar dalam cerita harian dari berbagai suku di Nusantara.  Lalu, bagaimana dengan nikah muda yang ada di Jambi? 

Angka pernikahan usia dini di Propinsi Jambi masih terhitung tinggi dan di atas angka rata-rata Nasional. Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Kependudukan Dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat, Dr. Surya Chandra Surapaty, MPH, Ph.D pada acara pelantikan Muhtar Bakti SH MA sebagai Kepala Kantor BKKBN perwakilan Jambi belum lama ini.

Dari data yang diperoleh oleh pihak BKKBN 61 ,89 Persen perempuan Jambi menikah di usia muda. Sementara rata-rata Nasional berada di angka 42,76 persen.

“Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pernikahan usia anak masih perlu mendapatkan perhatian,” Kata Kepala BKKBN Pusat melalui sambutan tertulisnya yang disampaikan oleh Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Pusat Dr. Wendy Hartanto, MA, belum lama ini.

Selain itu, angka kesadaran bagi masyarakat Jambi untuk menggunakan Kontrasepsi Jangka Panjang (KJP) juga terhitung sangat rendah. Ada 11,61 persen masyarakat Jambi yang menggunakan KJP dimana rata-rata nasional adalah 17,71 Persen sedangkan angka yang harus dicapai adalah 21,7 persen.

Masalahnya adalah, apa alasan seseorang melangsungkan pernikahan dini, khususnya di Jambi. Dari berbagai sumber yang dapat ditelusuri, dikatakan kalau perempuan Jambi yang nikah dalam usia muda itu disebabkan oleh berbagai faktor, seperti akibat pergaulan bebas, sehingga banyak yang hamil duluan.

Kemudian, faktor putus sekolah karena ekonomi yang tidak memungkinkan. Juga karena faktor budaya yang memang kurang tegas dalam member batasan usia seorang perempuan untuk nikah. Faktor budaya ini, dalam kaitan dengan kebiasaan dalam masyarakat Jambi. 

Oleh kerena orang tua dulu atau  sebelumnya banyak yang nikah usia dini, maka anak-anak perempuan sekarang pun merasa itu sebagai hal-hal yang wajar-wajar saja.    

Maka, solusinya, itu tadi, pendidikan di Jambi harus diperhatikan secara serius. Perekonomian masyarakat terus ditingkat, dan kebiasaan yang kurang baik dengan pernikahan udia muda itu harus segera dihentikan.

 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Farida Denura
Sumber : Diolah dari berbagai sumber