• News

  • Singkap Budaya

Inilah yang Menarik dari Suku yang Dari Dulu Tidak Punya Rumah

Kehidupan Orang Rimba Bukit Duabelas Suku Anak Dalam
Daun Api
Kehidupan Orang Rimba Bukit Duabelas Suku Anak Dalam

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Bagi kita yang tinggal di kota-kota atau di desa-desa, mungkin heran mendengar kalau ada suku di Nusantara ini yang dari dulu tidak punyai rumah atau tempat tinggal. Karena hidup mereka selalu berpindah-pindah tempat. 

Mereka selalu berpindah-pindah  mengikuti hasil hutan yang dapat dipanen secara liar. Karena dalam kepercayaan mereka, makan makanan yang ditanam itu menimbulkan penyakit dan membuat mereka sakit. 

Sehingga dari waktu ke waktu mereka selalu berpindah-pindah alias tidak menetap. Sehingga, mereka tidak punya rumah atau tempat hunian yang tetap yang disebut rumah tinggal. 

Baru awal tahun 2017 lalu Presiden dan Menteri  berkunjung ke suku Anak Dalam atau suku Kubu atau Suku Rimba itu untuk melakukan sosialisasi memberikan bantuan rumah tinggal. Pertemuan dengan Presiden itu berlangsung di Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi.

Sejak pertemuan itu, Suku Anak Dalam pun menjadi sorotan. Ada beberapa fakta menarik seputar kehidupan Suku Anak Dalam di hutan Jambi ini.

Rudy Shaf yang mendampingi orang Suku Anak Dalam selama belasan tahun mengungkapkan, sebutan Suku Anak Dalam sebenarnya sebutan atas nama sejumlah suku di Jambi yang dibuat pemerintah sekitar awal 1990.

"Jadi ada Orang Rimba, Suku Bathin IX, hingga suku di pesisir timur Jambi disamakan namanya menjadi Suku Anak Dalam.” 

Menurut Rudy, saat kunjungan Presiden ke Suku Kubu ini mengatakan, kalau Orang Rimba di Jambi kini terbagi menjadi 3 kelompok. Pertama, mereka yang lahir dan tinggal di dalam hutan. Kedua, kelompok yang sejak lahir tinggal di kawasan perkebunan sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Dan terakhir, kelompok yang sudah membaur dan tinggal di kawasan pedesaan bersama warga lain pada umumnya.

Nah, ada keanehan, keunikan dan keistimewaan di sini, dimana ketika preisiden mengatakan akan memberikan bantuan berupa rumah tinggal, ternyata ada yang menolak juga.  

Sementara kelompok Suku Anak Dalam di kawasan hutan terbilang masih sangat memegang erat budayanya. Di mana kelompok tersebut melarang wanita dewasa bertemu orang dari luar. 

Bahkan beberapa kelompok yang menghuni pedalaman Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) di Kabupaten Sarolangun, melarang perempuan dewasa difoto atau sekadar diajak ngobrol.

Selain mencari makan dengan cara berburu, sejumlah suku Anak Dalam atau Orang Rimba yang sudah mulai terbiasa dengan orang-orang atau masyarakat pada umumnya, sudah mulai berkebun karet dan mencari getah damar. Hasil kebun mereka dibawa menggunakan sepeda motor untuk dijual ke pengepul di pasar.

Rudy menyebutkan, dari sensus yang dilakukan KKI Warsi, populasi Orang Rimba di Jambi mencapai 3.700 orang. Jumlah itu menyebar di 3 titik. Pertama, di kawasan TNBD yang membentang di Kabupaten Sarolangun dan Batanghari berjumlah sekitar 1.700 orang.

Kedua, Orang Rimba yang menempati daerah lintas Sumatra berjumlah sekitar 1.500 orang dan ketiga, kelompok Orang Rimba yang mendiami kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) berjumlah sekitar 500 orang. 

Dan jika ditelusuri lebih dalam, dapat dikatakan kalau suku Anak Dalam ini, masih banyak memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh suku-suku lain di Nusantara ini. 

Apa saja keunikan mereka, dapat dilihat dan dibaca pada tulisan lain yang akan menyusul di Netralnews ini.

 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Farida Denura
Sumber : Diolah dari berbagai sumber