• News

  • Singkap Budaya

Orang Rimba yang Punya Banyak Istri Dinilai Hebat, Ini Alasannya

Sosial budaya Suku Anak Dalam
Indonesia.go.id
Sosial budaya Suku Anak Dalam

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Banyak suku di Nusantara biasanya tidak menganut poligami dalam tradisi perkawinannya. Suku modern dan suku primitif pada umumnya  tidak menganut poligami. Meskipun itu sering juga dilakukan karena diizinkan oleh agama dan dilaksanaan banyak suami. 

Tidak seperti Orang Samin yang anti poligami, di Jawa, misalnya melarang keras orang melakukan poligami. Tindakan poligami diangga aib keluarga. 

Sedangkan bagi Orang Rimba poligami adalah hal biasa dan lazim dilakukan. Ada Orang Rimba yang istrinya sampai empat orang. Tempat tinggal para istrinya dibuat berdekatan. Kebutuhan mereka semua harus dipenuhi nafkahnya oleh suami. 

Oleh karena itu,mereka yang beristri lebih dari satu dianggap hebat karena kemampuannya mencari nafkah tentunya lebih dari rata-rata. Pada waktu makan misalnya, masing-masing istri memasak sendiri di gubuknya masing-masing. Sang suami akan makan di setiap rumah istri, dimulai dari yang tua kemudian berturut-turut sampai yang paling muda.

Dengan demikian,laki-laki atau para suami yang menganut poligami sangat mengetahui apa yang disebut berperilaku adil terhadap para istri dalam perkawinan. Orang-orang modern, mungkin banyak yang tahu soal teori tentang keadilan dalam rumah tangga, tetapi Orang Rimba, meski tidak terlalu tahu tentang teori keadilan, tetapi mereka melaksanakan dengan pas dan bijak.

Ada sebuah cerita menarik mengenai perkawinan Orang Rimba. Salah seorang Orang Rimba yang masih muda, baru berusia sekitar 20-an tahun menikah untuk kedua kalinya. Istri keduanya masih dalam keadaan gadis ketika dinikahi. 

Dalam prosesinya,sang laki-laki dihadapkan pada keluarga calon istri muda. Laki-laki yang akan menikah itu dipukul beramai-ramai oleh pihak keluarga istri. Sebaliknya, pihak laki-laki juga dibantu keluarganya. Akibatnya terjadilah semacam perkelahian massal. Pihak keluarga calon istri sejumlah 10 orang sedangkan pihak keluarga laki-laki 12 orang. 

Menurut mereka, perkelahian itu adalah bagian dari proses adat. Semua yang akan menikah mengalaminya. Akibatnya cukup mengerikan, laki-laki yang akan menikah sampai rampal kehilangan beberapa giginya.

Jarang terjadi adanya perceraian di kalangan Orang Rimba. Namun meski demikian mereka memiliki mekanisme untuk bercerai. Apabila seorang laki-laki dalam 7 hari 7 malam berturut-turut pergi tanpa minta izin istri dan tidak diketahui kemana perginya, maka berarti sang istri dianggap secara otomatis telah menceraikan suami. 

Apabila istri pergi lewat dari janji maka sang suami dianggap telah menceraikan istri. Mematahkan rotan adalah simbol bahwa sebuah pasangan dinyatakan bercerai.

 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Farida Denura
Sumber : Diolah dari Akarasa

Apa Reaksi Anda?