• News

  • Singkap Budaya

Inilah Kehidupan Seks Orang Rimba, Ada Obat Kuat, Penasaran?

Perempuan Suku Anak Dalam
Media Indonesia
Perempuan Suku Anak Dalam

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Seks dan seksualitas, dalam pengertian sempit maupun luas, merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia, khususnya dala perkawinan. Ia bagian dari naluri instingtif yang paling dasar. Karena manusia selalu identik dengan seksualitasnya. 

Hubungan seks di luar nikah dianggap tabu yang sangat berat. Yang melanggar akan dikenai denda yang sangat berat. Pelakunya bisa diancam dibunuh. Seorang anak muda rimba menceritakan bahwa dirinya tidak mau melakukan hubungan seksual dengan siapapun sebelum menikah, sebab jika ketahuan akan dibunuh. 

Tampaknya aturan yang tidak membolehkan seorang bujang dan gadis akrab sebelum menikah dilaksanakan sangat ketat, alias tidak boleh berpacaran sebelum nikah. Buktinya tidak ada seorang bujang pun yang berani mendekati gadis. ‘Takut didenda’ ungkap mereka. 

Ketatnya aturan ini menghindari perselisihan antar bujang. Kenapa? Karena dalam sensus penduduk yang dilakukan terhadap Orang Rimba,jumlah perempuan yang lebih sedikit, sehingga ini  merupakan potensi besar terjadinya konflik antar bujang dalam ajang memperebutkannya.

Dalam kehidupan seks suami istri, dapat dikatakan unik. Karena, suami istri tidak tidur sekamar. Mereka bahkan tidak memiliki kamar sesungguhnya karena ruang dalam rumah mereka tidak berdinding. Suami memiliki tempat tidurnya sendiri dan istripun demikian. Biasanya istri tidur dengan anak yang masih kecil. 

Sehingga, apabila melakukan hubungan seks antara suami istri, mereka akan diam-diam menyelinap keluar dari dalam rumah dan melakukannya di luar, mungkin di balik semak. Tampaknya mereka memang sangat romantis, bejuluk dibawah sinar rembulan beratap langit adalah hal yang biasa mereka lakukan.

Tidak berbeda dengan masyarakat kita yang memiliki berbagai ramuan obat kuat, Orang Rimba juga memiliki ramuan serupa. Ramuan kuat itu menyebabkan mereka lebih tahan lama. Namun mereka malu kalau harus mengakui menggunakan obat kuat. Jenis tumbuhan yang digunakan untuk obat kuat adalah akar penyegar.

Pendidikan seksual agaknya tidak mengalami masalah sebagaimana yang dialami oleh kebanyakan masyarakat kita. Sejak sangat kecil anak-anak sudah dibiasakan untuk mengenal organ seksualnya sendiri.

Adalah hal biasa seorang anak dari Orang Rimba mengatakan nama-nama organ dan kegiatan seksual sementara di sekitarnya ada orangtua dan kakek neneknya. Misalnya mereka biasa menyebut bejuluk (hubungan seksual), ciceh (penis), conggoh (ereksi), bilak (vagina), genoh (air mani) dan lainnya.

Kata-kata itu bahkan menjadi kata-kata pisuhan (kata yang diucapkan sebagai pernyataan bahwa sesuatu itu lucu, luar biasa, tidak biasa, menjengkelkan, mengherankan, dan semacamnya) dalam masyarakat Orang Rimba. Anak-anak pun lumrah misuh dengan kata-kata itu. Ngisel (masturbasi) dan nyebak (onani) adalah sesuatu yang dimaklumi. Apabila seorang bujang ketahuan sedang nyebak oleh orangtua, paling-paling hanya akan digoda.Tidak ada hukuman untuk itu. Baik ngisel maupun nyebak diperbolehkan. Bahkan ketika seorang anak muda rimba bertanya apakah saya sering nyebak, dan saya jawab tidak, ia tidak percaya. Ia yakin betul saya berbohong. Artinya nyebak adalah hal yang sangat lumrah bagi mereka. Ia bahkan tidak percaya kalau ada orang yang berumur di atas 20 tahun yang belum bejuluk.

Pendidikan seks yang baik membuat mereka memiliki pengetahuan memadai mengenai seks. Secara mental mereka juga sangat siap mengahadapi persoalan seksual ketika menikah. 

Diiringi dengan pengaturan yang ketat mengenai tata pergaulan tidak pernah terjadi hubungan seksual pranikah apalagi kehamilan diluar nikah. Mereka bahkan takut untuk sekedar ngobrol dengan lawan jenis tanpa ada orangtua karena bisa didenda. 

Mungkin model pendidikan seks dan pengaturan seks mereka bisa dijadikan salah satu acuan bagi pendidikan seks masyarakat modern di kota-kota atau di daerah-daerah di seluruh Suku di Nusantara ini. Tetapi, apakah itu bisa?

Sulit sekali bukan, sebagaimana sulitnya mencegah pergaulan bebas di antara anak-anak muda di kota-kota di Indonesia. Iya sangat sulit.

 

 

 

 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Farida Denura
Sumber : Diolah dari berbagai sumber