• News

  • Singkap Budaya

Ingin Tahu Kisah Pilu Kampung Idiot di Ponorogo, Ini Dia?

Mensos Khofifah Indar Parawansa kunjungi kampung Idiot Ponorogo
brilio
Mensos Khofifah Indar Parawansa kunjungi kampung Idiot Ponorogo

PONOROGO, JAWA TIMUR, NERANEWS.COM - Indonesia ini bangsa yang besar. Bangsa yang berbudaya. Juga bangsa yang cerdas. Karena itu, bangsa ini juga merupakan bangsa yang sukses dalam meraih prestasi di berbagai bidang. Sejumlah prestasi yang sering diraih adalah di bidang ilmu pengetahua.

Buktinya, sudah banyak anak-anak kita yang meraih prestasi di olimpiade dalam bidang ilmu matematika, fisika, dan kimia. Itu jelas menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memang bangsa yang cerdas.

Namun, sayang bahwa di antara anak-anak Indonesia yang cerdas itu, terdapat banyak pula anak-anak, bahkan orang dewasa bangsa ini yang memiliki kelemahan atau kekurangan atau keterbelakangan mental atau tidak memiliki kesehatan mental yang memadai sebagaimana manusia-manusia normal.

Ketidaksehatan mental itu kerap disebut sebagai orang-orang idiot. Karena jumlah orang-orang idiot ini sangat banyak, melampaui batas kewajaran, maka disebut kampung Idiot.  Bahkan, bukan hanya beberapa kampung, tetapi beberapa kampung.

Kampung Idiot ini terdapat di Ponorogo, dan itu bukan suatu hal yang baru. Berbaga media cetak dan elektronik pun sudah banyak yang memberitakannya. Keberadaan kampung ini pun masih eksis hingga kini. Bukan karena dipelihara atau dilestarikan. Namun menghilangkan predikat idiot sendiri tentu tak semudah membalik telapak tangan. 

 Banyak sudah program pengentasan yang dilaksanakan, pendampingan yang dilakukan elemen pemerintah maupun swasta dan juga bantuan yang diberikan. Namun, warga yang idiot itu masih saja idiot. Disebut idiot lantaran banyak warga di desa itu yang mengalami keterbelakangan mental. Satu kampung jumlahnya mencapai ratusan.

Ada sebagian yang menilai sebutan kampung Idiot terlalu ekstrim dan merendahkan harkat mereka. Sehingga, ada  yang menggunakan istilah kampung dengan warga keterbelakangan mental. Ada lagi yang menyebutkan kampung berkebutuhan khusus. 

Apapun istilahnya, tak bisa dipungkiri bahwa di kampung tersebut memang banyak warga yang berkebutuhan khusus dikarenakan mengalami keterbelakangan mental atau lazim disebut idiot.

Ada lima desa di Ponorogo yang mendapatkan sebutan Kampung Idiot, yakni desa Dayakan di kecematan Badegan, desa Sidoharjo dan Krebet ( keduanya di kecamatan Jambon ). Dua desa lagi adalah Desa Karangpatihan serta Pandak di Kecamatan Balong. 

Dari lima Desa itu, Sidoharjo menjadi desa dengan Jumlah penduduk idiot tertinggi. Berdasarkan data pemerintah desa setempat, saat ini, terdapat 316 warga yang mengalami keterbelakangan mental itu. Dibanding tahun lalu, jumlah sudah turun. Tahun lalu jumlah warga idiot ada 318 orang. Total, jumlah warga di desa tersebut ada 4.300 jiwa.

Keberadaan warga idiot di Sidoharjo dan beberapa desa lainnya itu bukan terjadi secara kebetulan. Ada benang merah yang mengaitkan lima desa itu. Sehingga warganya banyak yang mengalami keterbelakangan mental. Geografis kelima desa itu ( Dayakan, Sidoharjo, Krebet , Karangpatihan, dan Pandak ) berada pada jalur yang sama, yakni, lereng Gunung Rajekwesi yang melingkar dari kecamatan Badegan hingga kecamatan Balong.

Tanaman padi dan jagung hanya bisa tumbuh di musim penghujan. Itu pun tidak semua lahan bisa ditanami padi, ketika kemarau datang nyaris sebagian tubuh gunung tampak telanjang dengan batu hitam menonjol. Atau, pohon – pohon keras yang meranggas tingal ranting. Kalaupun masih ada tanamanan yang bisa ditanam, itu hanyalah pohong ( ketela pohon).

Banyaknya warga yang tinggal dan menggantungkan hidupnya dari alam gunung yang cadas itulah, diduga menjadi pemicu Sidoharjo menjadi desa yang paling banyak warga idiotnya. Maklum, dulunya kondisi gunung Rajekwesi memang memprihatinkan.

Sekitar 1950 hingga akhir 1960, terjadi pagebluk atau masa kesulitan bahan makan bagi warga dikawasan ini. Kala itu, ada prahara hama tikus yang menyerang semua tanaman warga. Hanya tanaman gemblong atau sejenis tanaman talas warna hitam  dan gatal yang dimakan tikus.

Dengan terpaksa, talas yang akhirnya dijadikan makanan utama. Tiap hari, warga pergi ke gunung mencari gemblong di sela – sela tanaman liar. Setelah di kupas, talas dengan daun hitam tersebut direbus atau di kukus dan langsung dimakan. 

Tidak ada pilihan lain bagi masyarakat setempat selain mengkonsumsi makanan babi itu. Tak terkecuali ibu hamil. Perempuan yang seharusnya mendapatkan gizi lebih itu sehari – harinya juga makan gemblong terus. Toh kalau ada makanan yang lebih baik, saat itu,  hanyalah gaplek yang dimasak menjadi tiwul.

Dalam kondisi seperti itu, penduduk tidak lagi memikirkan bagaimana mencukupi kebutuhan gizi bagi jabang bayi di kandungan mereka. Bagaimana kebutuhan zat gizi, yodium, atau senyawa DNA yang bisa meningkatkan kecerdasan bayi mereka nantinya. Jangankan untuk mencukupi kebutuhan makan empat sehat lima sempurna plus susu formula khusus bagi ibu hamil, bisa makan dan bertahan hidup bagi mereka sudah cukup.

Hal seperti itulah yang menyebabkan banyak banyak bayi pada rentang tahun 1950 – 1970, yang lahir dengan tidak normal. Baik secara fisik maupun mental. Banyak bayi kurang gizi, yang yang akhirnya menyebabkan pertumbuhan syaraf mereka abnormal, sehingga ada yang lumpuh, mengalami kebutaan, tunarungu, dan pertumbuhan fisik yang tidak normal.

Akhirnya si anak tumbuh dan berkembang dengan segala keterbatasanya. Yang buta tidak bisa melihat gersangnya gunung Rajekwesi. Yang tuli juga tak pernah mendapat pengajaran selain apa yang ia lihat. Pun yang mengalami lumpuh dan syaraf hanya bisa duduk terpaku di rumah dulu.

Anak – anak berkebutuhan khusus itu, tak bisa sekolah. Selain tak ada sekolah inklusi ( berkebutuhan khusus ) kesadaran untuk sekolah saat itu juga nyaris tak ada. Kondisi ekonomi saat itu memaksa warga hanya berfikir bagaimana bertahan hidup.

Itulah oleh banyak pengamat dan sosiolog mengatakan kalau idiot bermula dari kurang gizi yang diderita warga di kampung-kampung itu dalam waktu yang lama. Sehingga, anak dan turunan mereka hingga hari ini masih banyak yang menderita sakit yang memprihatinkan itu, yakni sakit mental alias idiot.

 

Editor : Thomas Koten
Sumber : Disarikan dari Diatasno.blogspot