• News

  • Singkap Budaya

Apakah Makam Prabu Siliwangi Ada di Gunung Salak Bogor? Baca Ini!

Prabu Siliwangi
the7ournal.blogspot
Prabu Siliwangi

BOGOR, JAWA BARAT, NETRALNEWS.COM - Ada satu misteri sejarah di Jawa Barat yang belum terpecahkan sampai hari ini adalah tentang di mana pusatnya Kerajaan Pakuan Pajajaran (Bogor) yang terletak di Parahyangan  tanah Sunda, dan di mana makam Prabu Siliwangi, raja yang sangat dihormati masyarakat Jawa Barat.

Seperti tertulis dalam sejarah, akhir tahun 1400-an Majapahit kian melemah. Pemberontakan, saling berebut kekuasaan di antara saudara berkali-kali terjadi. Pada masa kejatuhan Prabu Kertabumi (Brawijaya V) itulah mengalir pula pengungsi dari kerabat Kerajaan Majapahit ke ibukota Kerajaan Galuh di Kawali, Kuningan, Jawa Barat.

Raden Baribin, salah seorang saudara Prabu Kertabumi termasuk di antaranya. Selain diterima dengan damai oleh Raja Dewa Niskala ia bahkan dinikahkan dengan Ratna Ayu Kirana salah seorang putri Raja Dewa Niskala. Tak sampai di situ saja, sang Raja juga menikah dengan salah satu keluarga pengungsi yang ada dalam rombongan Raden Barinbin.

Pernikahan Dewa  Niskala itu mengundang kemarahan Raja Susuktunggal dari Kerajaan Sunda. Dewa Niskala dianggap telah melanggar aturan yang seharusnya ditaati. Aturan itu keluar sejak “Peristiwa Bubat” yang menyebutkan bahwa orang Sunda-Galuh dilarang menikah dengan keturunan dari Majapahit.

Nyaris terjadi peperangan di antara dua raja yang sebenarnya adalah besan. Disebut besan karena Jayadewata, putra raja Dewa Niskala adalah menantu dari Raja Susuktunggal.

Untungnya, kemudian dewan penasehat berhasil mendamaikan keduanya dengan keputusan: dua raja itu harus turun dari tahta. Kemudian mereka harus menyerahkan tahta kepada putera mahkota yang ditunjuk.

Dewa Niskala menunjuk Jayadewata, anaknya, sebagai penerus kekuasaan. Prabu Susuktunggal pun menunjuk nama yang sama. Demikianlah, akhirnya Jayadewata menyatukan dua kerajaan itu. Jayadewata yang kemudian bergelar Sri Baduga Maharaja mulai memerintah di Pakuan Pajajaran pada tahun 1482.

Selanjutnya nama Pakuan Pajajaran menjadi populer sebagai nama kerajaan. Awal “berdirinya” Pajajaran dihitung pada tahun Sri Baduga Maharaha berkuasa, yakni tahun 1482.

Kerajaan Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa keemasan. Alasan ini pula yang banyak diingat dan dituturkan masyarakat Jawa Barat, seolah-olah Sri Baduga atau Siliwangi adalah Raja yang tak pernah purna, senantiasa hidup abadi dihati dan pikiran masyarakat.

Dari sejumlah sumber dikatakan bahwa kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya zaman Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja), dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.

Dan bagaimana kisah selanjutnya, ada sejumlah catatan dikatakan kalau Praby Siliwangi  menghilang bukan berdasarkan perang melawan anak dan cucunya melainkan hanya semata mata tidak ingin membanjiri darah dengan anak cucunya apa lagi Prabu Siliwangi adalah ayah yang bijak sana dan penuh wibawa pada rakyatnya.

Selain itu juga karena ada desakan agar san prabu meninggalkan agama atau ajaran leluhurnya untuk masuk Islam.  Karena tidak masuk Islam itulah ia memilih untuk bertapa dan atau bersemadi di gunung akhirnya hingga mati moksa.

Lalu, bagaimana kisah sang raja yang sudah menyatu dalam mitos  dan legenda itu? Selain ada yang yakin kalau Prabu Siliwangi itu mati moksa di gunung, tetapi ada yang mengatakan dia ada makamnya. 

Dan mengenai makamnya ini, ada yang mengatakan ada di sekitar Ciamis, tetapi ada yang mengatakan di  Gunung Tampomas, Sumedang, Garut, ada yang mengatakan di Gunung Gede, bahkan ada yang mengatakan di gunung Salak. Mana yang benar?

Akhirnya, banyak yang mengatakan bahwa kisah kematiannya masih penuh misteri. Setelah terdesak oleh Kian Santang, putranya sendiri yang masuk Islam, Siliwangi memang terus berpindah-pindah. Konon di Leuweung Sancang pasukannya terdesak oleh pasukan Kian Santang.

Ada yang percaya juga Siliwangi berubah menjadi harimau loreng. Itu sebabnya Siliwangi identik dengan harimau. Perubahan itu terjadi ketika dalam pertapaannya di Gunung Salak. Sehingga, gunung Salak pun diyakini sebagai tempat kematian dan ada makam di situ.

Karena begitu sulit menemukan tempatnya yang pasti kematian dan makamnya, maka kisah keberadaan dan kematiannya pun dianggap dan diposisikan sebagai legenda yang besar tanpa ujung ceritanya. Menurutnya banyaknya versi ini karena Orang Sunda begitu menghormati leluhurnya. Setiap tanah yang dikeramatkan selalu dikaitkan dengan Prabu Siliwangi.


 

 

Editor : Thomas Koten
Sumber : Dari berbagai sumber