• News

  • Sains

Apakah Ada Kehidupan Asing di Bima Sakti?

Ilustrasi Bima Sakti
Info Astronomy
Ilustrasi Bima Sakti

BERKELEY, NNC - Para ilmuwan telah meluncurkan survei besar-besaran untuk mencari tanda-tanda kehidupan cerdas di alam semesta.

Dengan menggunakan Teleskop Radio Parkes di New South Wales, terobosan ini akan menjelajahi jutaan bintang di Bima Sakti selama total 1.500 jam tahun ini, mencari sinyal misterius yang dikenal sebagai semburan radio cepat.

Perbaikan teleskop baru-baru ini akan memungkinkannya untuk menangkap data yang belum pernah terjadi sebelumnya di area yang sangat luas di langit. Ini bisa terjadi berkat saluran penerima baru, Parkes sekarang dapat memantau semua pesawat di galaksi. Sebelumnya, program yang ada hanya mampu mengamati satu titik di langit pada waktu tertentu.

Dengan instrumen baru yang dipasang oleh tim dari University of Caifornia, Berkeley, sistem ini akan mampu menangani 130 gigabit data per detik.

"Dengan kemampuan baru ini, kami memindai galaksi kami dengan detail yang belum pernah ada sebelumnya. Dengan menjaring melalui kumpulan data besar ini, kami berharap untuk mengungkap bukti bahwa planet kita, di antara ratusan miliar di galaksi kita, bukanlah satu-satunya tempat munculnya kehidupan cerdas,” kata Ilmuwan Projek Parkes, Danny Price, dilansir dari laman Daily Mail, Selasa (9/5/2018).

Kata ilmuwan, banyak sinyal yang terdeteksi dapat dilacak termasuk satelit, pesawat terbang, dan telepon seluler. Sistem juga baru akan membuat pengumpulan data lebih tepat, menyingkirkan lebih banyak gangguan frekuensi radio yang dihasilkan manusia. Setelah menyisir data petabyte, sejauh ini, ilmuwan tidak menemukan tanda-tanda kehidupan cerdas yang meyakinkan.

Pada bulan Agustus, tim juga mengungkapkan bahwa mereka mendeteksi 15 sinyal misterius yang datang dari galaksi 3 miliar tahun cahaya jauhnya. Sinyal-sinyal ini, yang dikenal sebagai semburan radio cepat, adalah kumpulan baru emisi radio yang berasal dari sumber yang dijuluki 'repeater'.

Menurut para ahli dengan terobosan sistem ini, penemuan suara menegaskan bahwa sumbernya dalam keadaan baru aktif, dan menandai pertama kalinya terdeteksi suara pada frekuensi yang lebih tinggi.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya