• News

  • Sains

Astronom Kehilangan Jejak Hampir 900 Asteroid, Ada Potensi Tabrakan dengan Bumi

Ilustrasi asteroid yang akan bertabrakan dengan Bumi.
Daily Express
Ilustrasi asteroid yang akan bertabrakan dengan Bumi.

MASSACHUSETTS, NNC - Astronom telah kehilangan jejak hampir 900 asteroid dekat Bumi. Para peneliti tidak dapat terus melacak asteroid tersebut, yang berarti para astronom tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah mereka berada di jalur tabrakan dengan Bumi atau tidak.

Meskipun kekhawatiran asteroid bisa menabrak Bumi, para ahli mengatakan ada potensi rendah dari asteroid dekat Bumi yang menyebabkan kerusakan.

Near Earth Asteroids ( NEAs) adalah batuan ruang angkasa yang datang dalam 30 juta mil (48 juta km) dari orbit Bumi. Sejauh ini, para astronom telah melihat lebih dari 8.000 asteroid dekat Bumi yang memiliki lebar setidaknya 140 kaki (140 meter) dan ini dinilai cukup besar untuk menghancurkan seluruh kota di Bumi.

Antara 2013 dan 2016, 17.030 NEA terdaftar oleh Minor Planet Center International Astronomical Union di Cambridge, Massachusetts. Dari jumlah ini, 11 persen  atau hampir 1.900 diberi label awalnya tidak dikonfirmasi, yang berarti asteroid diamati beberapa kali tetapi tidak cukup untuk menjejerkan orbitnya.

Dalam sebuah penelitian baru, para peneliti di Minor Planet Center menyisir data untuk mencari tahu mengapa para astronom kehilangan jejak begitu banyak objek. Mereka menemukan bahwa para astronom sering terlalu lambat untuk melacak orbitnya.

NEA biasanya dipilih oleh sistem survei asteroid yang menggunakan teleskop yang didukung oleh kecerdasan buatan untuk memindai sebagian besar langit malam.

Sistem ini kemudian menyerahkan temuan mereka untuk konfirmasi dari sumber sekunder, dan para peneliti menemukan bahwa penundaan antara kedua pembacaan ini sering menjadi alasan mengapa NEA hilang.

Beberapa teleskop membutuhkan waktu lebih dari 20 jam untuk melaporkan potensi NEA, membuat mereka hampir tidak mungkin untuk ditemukan lagi dan dikonfirmasikan.

"Kita harus bertindak cepat. Besok, benda itu bisa berada di sisi lain langit, dan tidak ada yang tahu di mana itu,” kata pemimpin penulis studi, Dr Peter Vere, kepada New Scientist, dilansir dari laman Daily Mail, Kamis (17/5/2018).

Untuk membuat temuan mereka, tim melihat data dari beberapa sistem perburuan asteroid paling produktif di Bumi, termasuk Pan-STARRS, Survei Langit Catalina, Survei Energi Kegelapan, dan Teleskop Pengintai Antariksa.

 

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Widita Fembrian