• News

  • Singkap Sejarah

HUT TNI 5 Oktober 1965 yang Paling Sedih Sepanjang Sejarah Republik

TNI 5 Tahun 1965
dipandjaitan
TNI 5 Tahun 1965

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Jenazah para Jenderal korban penculikan Gerakan 30 September 1965 pada tanggal 4 Oktober 1965 semuanya disemayamkan di Mabesad. Baru pada pukul 08.00 Jenazah para Pahlawan Revolusi dibawa ke Taman Makam Pahlawann Kalibata untuk dimakamkan. Untuk Upacara  PELEPASAN jenazah dipimpin oleh Jenderal AH Nasutin dengan amanat sebagai berikut :   

 Pidato dibacakan oleh Menko Hankam  Jenderal Abdul Haris di mana saat sebelum pemakaman berlangsung di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Dengan terbata-bata dan sesekali menitikkan air mata, Jenderal AH Nasution membacakan pidatonya dengan suara berat.

Inilah Pidatonya

Para Pradjurit sekalian, kawan-kawan terutama rekan- rekan jang sekarang kami sedang lepaskan.

- Bismillahirrochmanirochim.

 Hari ini hari Angkatan Bersenjata kita, hari yang selalu gemilang. Tapi hari ini jang kami rasakan dihinakan oleh chianat, dihinakan oleh penganiayaan. 

Tetapi hari Angkatan Bersenjata kita, kita setiap tetap rajakan dalam hati sanubari kita masing-masing dengan tekad kita dengan nama Allah Jang maha Kuasa bahwa kita akan tetap menegakkan kedjudjuran, kebenaran, dan keadilan.

Djenderal Acmad Jani, , Djenderal Suprapto, Djenderal S Parman, Djenderal Sutojo S, Djenderal Harjono MT, Djenderal DI Panjaitan, dan Lettu Pierre Tendean. 

Kamu semua mendahului kami, kami semua jang kamu tinggalkan, punya kewadjiban meneruskan perdjuangan kita. meneruskan tugas Angkatan bersendjata kita, meneruskan perdjuangan TNI kita, meneruskan tugas jang suci,. 

Kamu semua tidak tidak ada yang lebih tahu dari pada kami jang disini., daripada saja, sedjak dua puluh tahun kita telah bersama-sama, membela Negara kita dan membela perdjuangan kemerdekaan kita. Membela pemimpin Besar Kita, membela tjita-tjita rakyat kita. 

Saya tahu kamu semua manusia ada kekuarangan, ada kesalahan, kita semua juga demikian. api saja tahu kamu semua telah dua puluh tahun penuh memberikan semua dharma bahaktimu, semua jang ada padamu untuk tjita-tjita yang tinggi itu. 

Karena itu kamu biarkan hendak dicemarkan, hendak difitnah, bahwa kamu pengkhianat, djustru disini kami semua saksi yang hidup, kamu adalah telah berdjuang sesuai dengan kewadjiban, kita semua menegakkan keadilan, kebenaran, kemerdekaan, tidak ada jang ragu-ragu.

Kami semua sedia djuga mengikuti djalan kamu djika memang fitnah mereka benar, kami akan buktikan. 

Rekan-rekan, adik-adik saja, saja sekarang sebagai yang tertua dalam TNI, jang tinggal bersama lainnya akan meneruskan perdjuangan kamu, membela kehormatan kamu. 

Menghadaplah sebagai pahlawan, pahlawan dalam hati kami seluruh TNI, sebagai Pahlawan menghadaplah kepada asal mula kita jang  mentjiptakan kita Allah Subhanahu Wa ta’alla, karena akhirnya Ialah Panglima kita yang paling tertinggi. Dialah yang menentukan segala sesuatu djuga atas diri kita semua.   

Tetapi dengan kleimanan ini djuga kami jakin, bahwa jang benar akan tetap menang djuga, dan jang nggak benar akan tetap hancur. Fitnah Fitnah berkali kali, Fitnah lebih kedjam dari pembunuhan! Fitnah lebih djahat dari pembunuhan ! . kita semua difitnah dan kamu semua telah dibunuh !.    

Kita diperlakukan demikian djangalah kita mendjadi dendam hati iman kita Allah Subhanahu Wa ta’alla, iman kepadanya kita akan mendjadi teguh. Karena Dia perintahkan kepada kita untuk berkewadjiban menegakkan kebenaran, dan keadilan, dan Dia pulalah yang mendjandjikan kepada kita bahwa kita akan sukses!

Dan Dia juga jang menentukan  semua pada kita, maka menghadplah kepadaNja. Ja Allah do’a kami manusia tidak ada jang tidak berdosa, ampunilah dosanja dan kami jang ditinggalkan mengampuni semua pula jang mungkin ada perasaan, ada sadja tidak enak, mari kita senua dengan hati bersih bersih malapetaka adik adik saya ini. 

Rekan-rekan ini untuk menghadap kepada Jang maha Kuasa. Maha Tinggi, pemimpin yang terhormat Allah  Subhanahu Wa ta’alla.

Para Pradjurit sekalian, dari seluruh Angkatan Bersendjata kita harus teruskan perdjuangan mereka, hanya penglhianat yang tidak akan mengikuti acara ini, rakyat seluruhnja  saja mohonkan lepaskanlah mereka ini dan kalau memang benar ada kesalahan pada mereka. Sampaikan pada saya, dan kami semua jang ditinggalkan sampaikan kepada Djenderal Soeharto kalau memang benar.

 Rakyat kami mohonkan maaf, djika ada kekuarangan dari pada mereka djuga Panglima tertinggi saja kalau mereka ini djuga ada kesalahan dalam melaksanakan tugas kita. Para keluarga yang ditinggalkan kita semua mari kita lepaskan karena dengan ini djuga, usaha penggelapan, penghinaan, Hari Angkatan Bersenjata kita hari ini, dengan kita berdiri disini bersama kita dijernihkan kembali dengan hati jang ichlas dengan keimanan kita untuk berbhakti, bertakwa sepenuhnya kepada Allah Subhanahu Wa ta’alla, Selamat djalan adik-adiku sekalian selamay djalan terima kasih segala baktimu dan pengabdianmu. Selamat JDjalan Sampai bertemu. Ja Allah terimalah mereka. !!!

 Ada satu hal yang penting dicatat pada hari ABRI (kini TNI) Kecintaan Rakyat kepada para Pahlawan Revolusi sungguh tidak terduga. Semenjak malam dan pagi hari rakyat sudah memadati di sepanjang jalan yang akan dilaui oleh iringan jenazah dari Mabesad menuju Kalibata. 

Mereka semua mencucurkan air mata, ketika melihat iring-iringan Panser yang bermahkotakan peti jenazah Pahlawan revolusi. Doa rakyat ini yang mengiringi mereka menuju peristirahatan terkhir dan keikhlasan rakyat juga yang menjadikan ketabahan bagi semua yang ditinggalkan.

Kehadiran rakyat juga memberikan keyakinan kepada TNI bahwa apa yang dilakukan mempertahankan Pancasila adalah sebuah kebenaran. 

Keberadaan rakyat mencerminkan akan rasa cintanya kepada TNi dan tugas serta kewajibannya. 

Pada kenyataannya kedekatan dengan rakyat dan TNI diperlukan tidak hanya pada tahun 1945 saja, atau 1948, atau tahun 1965 saja tetapi kedekatan itu harus terjalin sepanjang masa dan sepajang masa.

Dan jika diamati, rasa cinta rakyat terhadap TNI sampai hari masih terus  terasa. Itu bisa dimengerti mengingat TNI bagi rakyat tetap dijadikan sang pelindung. Rakyat sangat sadar kalau negara yang sangat besar ini tanpa memiliki tentaranya yang kuat dan solid.

Dalam posisinya atau diposisikan oleh rakyat sebagai pelindung itulah tatkala melihat anggota TNI mulai bermain politik, rakyat langsung mengajukan protes keras. Karena dengan berpolitik, TNI akan mulai lupa tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelindung dan pengayom rakyat.

Kalau sudah begitu, ke mana dan di mana atau kepada siapa rakyat berlindung dan minta diayomi?

 

Editor : Thomas Koten
Sumber : Dari berbagai sumber