• News

  • Singkap Sejarah

Tradisi dan Ritual Paling Unik dan Berbahaya di Dunia, Penangkapan Ikan Paus di Lembata 

Berburu ikan paus
hipwee
Berburu ikan paus

LEMBATA, NETRALNEWS.COM - Ada sebuah tradisi sekaligus ritual yang paling unik di dunia, sekaligus sangat berbahaya adalah tradisi pengangkapan ikan paus di Lamalera, Lembata (dulunya Flores Timur) Nusa Tenggara Timur (NTT).  Tradisi ini terpelihara sejak ratusan tahun lalu. 

Banyak peneliti dan antropolog mengatakan bahwa tradisi ini sudah berlangsung sejak abad 16. Tepatnya, sejak suku nenek moyang orang Lamalera Lembata menempati daerah itu. Artinya, tradisi ini telah berlangsung dalam rentang sejarah yang sangat panjang dan dipelihara hingga hari ini dan akan diteruskan pada masa-masa yang akan datang.   

Rata-rata setiap anak laki-laki dalam keluarga di Lamalera dibina oleh keluarga atau suku supaya bisa memiliki keahlian menangkap ikan secara tradisional, yaitu dengan menggunakan tombak. 

Sebelum berburu ikan paus di lautan luas,  mereka semua melakukan ritual memanjatkan doa-doa kepada Tuhan agar diberi keberhasilah dalam perburuan Ikan paus. 

Presentasi keberhasilan penangkapan ikan paus ini tidak bisa dibilang tinggi, karena metode perburuan yang dilakukan memang menggunakan cara tradisional, yaitu dengan menancapkan tombak ke badan ikan paus.

Perburuan paus biasanya dimulai pada bulan Mei. Perburuan dilakukan menggunakan perahu yang terbuat dari kayu yang disebut "Paledang" . Orang yang bertugas menikam paus disebut "Lama fa", Lama fa nantinya akan berdiri diujung perahu dan untuk menikam paus lama fa akan melompat dan menikamkan tombak "tempuling" pada paus.

Daging paus yang diperoleh dari perburuan ini nantinya akan dibagikan kepada seluruh penduduk sesuai besar kecilnya jasa wakil anggota keluarga mereka dalam proses perburuan pausnya. 

Selain hasil daging, masyarakat juga memanfaatkan minyak paus sebagai minyak urut, bahan obat dan bahan bakar untuk pelita atau lampu teplok.

Meskipun dunia melarang perburun ikan paus, dan beberapa konversi yang menyatakan pelarangan terhadap perburuan paus tersebut, tapi tradisi berburu paus ini sampai sekarang masih tetap dipertahankan. 

Para penduduk lamalera mengatakan bahwa paus yang mereka buru sudah mereka konservasi terlebih dahulu, sehingga paus yang masih hamil serta masih terlalu kecil tak akan diburu. Hal itu dilakukan untuk tetap menjaga populasi paus di daerah lamalera.

Lagipula bukankah cara yang kami lakukan masih tradisional dan bukan menggunakan racun seperti yang banyak dilakukan nelayan modern. Penduduk Lamalera juga mengklaim bahwa hasil dari perburuan paus itu tidak sampai 20 ekor per tahun, sehingga tidak akan terlalu mempengaruhi populasi ikan paus.

Kini para orang Tua di Lamalera berusaha keras untuk melatih anak mereka menjadi seorang lama fa, Hal ini disebabkan karena makin hilangnya kesadaran para pemuda lamalera dalam mempertahankan tradisi berburu paus. Sehingga dengan melatih anak-anak, diharapkan tradisi ini kan tetap lestari sampai kapan pun

Panorama kisah

Memasuki desa Lamalera, gerbang unik yang terbuat dari tulang paus akan menyambut kalian. Bukti tradisi berburu baleo itu nyata

Untuk kamu yang ingin mengunjungi desa Lamalera, ada sebuah pemandangan unik di pintu masuk desa. Jika pada umumnya terdapat gapura selamat datang, di Lamalera gerbang yang ada justru terbuat dari tulang paus yang telah mengering. Tulang berwarna putih keabuan tersebut seakan menyambut dengan berteriak lantang “Selamat datang di desa pemburu paus!”

Anda yang pada awalnya meragukan kapasitas pemburu paus yang menggunakan perlengkapan tradisional itu pasti tertohok begitu melihat tulang paus di gerbang desa. Tulang paus itu jadi bukti nyata, bahwa tradisi berburu baleo di Lamalera bukan cuma main-main belaka.

Sedari ratusan tahun yang lalu, perburuan baleo sudah mendarah daging bagi masyarakat Lamalera. Kalau tak percaya, silahkan saja datang dan saksikan betapa menegangkannya.

Tradisi yang biasanya berlangsung Mei hingga Oktober ini memiliki resiko tinggi. Namun, tak menyurutkan nyali para pemburu baleo ini

Tak mudah untuk berburu baleo atau paus. Bagi masyarakat Lamalera, berburu paus adalah sebuah tradisi sakral yang sudah berlangsung turun temurun sejak zaman nenek moyang mereka. Tak bisa dilakukan begitu saja dan melanggar tradisi yang sudah ada.

Untuk itu bagi kamu yang ingin membuktikan betapa menegangkan dan ‘gila’-nya tradisi berburu paus ini, silahkan datang antara Mei hingga Oktober.

Pada bulan Mei hingga Oktober, ada banyak paus yang bermigrasi dan melewati Laut Sawu. Pada masa itu perburuan baleo berlangsung. Berbeda dengan perburuan paus yang ada di Jepang, masyarakat Lamalera masih menggunakan perlengkapan tradisional. Karena itu mereka punya cara tersendiri untuk berburu paus.

Alih-alih mendatangi paus ke tengah lautan, mereka tetap menunggu di daratan. Baru setelah paus terlihat menyemburkan air di sekitaran pantai, mereka berlomba mendekatinya dengan menggunakan Peledang,  ebuah perahu kayu tradisional.

“Baleo! Baleo!” Itu sinyal yang mereka gunakan kala masyarakat melihat paus melintas di lautan

Satu kesalahan kecil saja bisa membuat kapal mereka terbalik dan bahkan hancur disapu paus. Dengan hanya bermodal perahu kayu dan alat tikam sederhana, resiko terjadi kecelakaan tentunya sangat tinggi. 

Namun, hal itu tak menyurutkan nyali para Lama fa (pemburu paus). Berbekal pengalaman dari nenek moyang, tradisi berburu paus di Lamalera masih terus berlangsung dengan tetap menjaga aturan adat bahkan hingga di era modern seperti sekarang ini.

Anak-anak muda Lamalera tetap berniat untuk melestarikan tradisi pelangkapan ikan yang dianggap sakral itu. Lantaran paus sendiri dianggap sebagai makhluk sakral yang sangat dihormati, sehingga tidak dilakukan pembunuhan secara brutal. 

 

 

Editor : Thomas Koten
Sumber : Dari berbagai sumber