• News

  • Singkap Sejarah

Simbol Kegagahan, Ini Sejarah Bir di Indonesia

Ilustrasi bir.
Konfrontasi
Ilustrasi bir.

JAKARTA, NNC - Minuman beralkohol satu ini, digemari di kalangan masyarakat bawah hingga kalangan elite. Dalam pandangan penggemar minuman beralkohol, bir lebih bergengsi dibanding anggur orang tua (AO) atau minuman beralkohol sejenisnya.

Cukup menarik bila kita menyimak asal-usul sejarahnya. Ketika mulai tersebar dan diminati rakyat Indonesia di era Kolonial, minuman ini dikenal sebagai simbol “kegagahan”.

Sementara di Jakarta, ada isu bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan melepas saham yang dimilikinya pada sebuah perusahaan bir, yakni PT Delta Djakarta. Bila bir menjadi simbol kegagahan, apakah Pemprov DKI tidak menyesal melepas saham tersebut?

Sekilas asal-usul bir
Bir adalah hasil proses fermentasi bahan biji-bijian berpati tanpa melalui proses penyulingan. Bahan utama yang sering digunakan antara lain barley, bunga hops, dan yeast.

Barley adalah bahan alami dari tumbuhan sejenis gandum yang menghasilkan warna keemasan pada bir. Selain itu, barley juga mempengaruhi rasa dan kadar busa. Bunga hops mempengaruhi rasa pahit dan aroma bir. Sedangkan yeast adalah organisme untuk mengaktifkan proses fermentasi.

Minuman berkadar alkohol empat sampai enam persen ini, sudah dikenal sejak era peradaban Mesir Kuno, Asiria, dan Tiongkok Kuno. Salah satu buktinya ada dalam Prasasti Babilon yang ditulis sekitar 4300 Sebelum Masehi (SM). Dalam prasasti tersebut, terdapat catatan tentang resep pembuatan bir.

Sementara di Mesir Kuno, resep pengobatan dengan menggunakan bir sudah dikenal sekitar tahun 1600 SM. Cairan beralkohol tersebut, kala itu menjadi salah satu jenis obat pembersih luka.

Produksi bir secara modern dimulai abad ke-16 di Jerman. Tahun 1506, Pemerintah Jerman mengeluarkan undang-undang yang mengatur produksi bir. Tertera pada ketentuan itu, bahan yang boleh digunakan adalah air, barley, gandum, dan buah hops. Di Jerman, bir mulai dikemas dalam botol pada 1605.

Digemari di Hindia Belanda sebagai simbol kegagahan
Seiring dengan kemenangan kekuatan Kolonial Belanda di Nusantara, lambat laun budaya Barat mulai diadopsi (weternisasi) oleh semua kalangan Bumiputra, mulai dari pakaian, bahasa, pergaulan, hingga minuman. Bir kemudian menjadi salah satu simbol budaya Barat yang bergengsi.

Sebelum bir dikenal, sebenarnya ada minuman beralkohol yang umurnya lebih tua dibanding bir, antara lain tuak dan arak. Minuman ini telah dikonsumsi di kalangan bangsawan di era Hindu-Budha. Saat pengaruh Islam masuk, minuman ini sempat dilarang.

Sementara itu, untuk menekan hasrat minuman "kebarat-baratan" semacam bir, para raja Jawa membuat minuman tandingan yang tidak beralkohol. Salah satu contohnya adalah bir Jawa, kesukaan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939).

Bir Jawa terbuat dari bahan aneka macam rempah seperti bunga cengkeh, kayu manis, serutan kayu secang, jahe, kapulaga, daun serai, daun pandan, jeruk nipis, dan gula pasir atau gula batu. Semua bahan ini direbus dan akan menghasilkan cairan kemerahan seperti bir.

Bir beralkohol mulai dikenal di Hindia Belanda pada abad ke-20. Diperkirakan, dibawa pertama kali oleh orang-orang Jerman yang menjadi para serdadu Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Mereka membawa bir dan memperkenalkannya pada para serdadu lain yang hobi minuman keras.

Bir kemudian menyebar di Hindia Belanda dan dianggap sebagai simbol para laki-laki yang perkasa atau gagah. Penilaian ini salah satunya dapat kita lihat melalui iklan-iklan bir pada saat itu, di antaranya iklan Java Bier, Ankerpils, dan Heinekens dalam majalah Trompet.

Dalam iklan Juni 1939, digambarkan seorang pemadam kebakaran yang gagah berani, seorang diri menyemprotkan brandweer melawan si jago merah. Sementara pada Februari 1949, iklan Java Bier menggambarkan seorang laki-laki berbadan kekar seperti Tarzan.

Iklan tersebut juga dipertegas dengan kalimat, “Orang-orang yang begitu kuat dan dikagumi minum selamanya: Java Bier.” Dalam iklan lain, memuat pula kalimat provokatif, “Orang tegap dan kuat minum Java Bier.”

Perusahaan bir di Indonesia
Java Bier adalah salah satu jenis bir yang diproduksi NV Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen di Medan dan di Ngagel, Surabaya, Jawa Timur, sekitar tahun 1929. Pada 1936, saham pabrik dikuasai oleh Heinekens Group dan namanya pun berubah menjadi Heinekens Indische Bierbrouwerijen.

Lambang iklan bir Belanda yang dibuat di Hindia Belanda ini menggunakan gambar bintang. Sementara kata Heinekens sulit diucapkan orang Bumiputra. Akibatnya, sering disebut dengan bir cap Bintang. Hingga kini, simbol itu lebih dikenal di Indonesia.

Saat Indonesia dikuasai Jepang, perusahaan ini sempat tutup. Tahun 1949 kembali dibuka dan memakai nama Multi Bintang Indonesia. Hingga kini, bir Bintang ini merupakan salah satu yang mendominasi peredaran bir di Indonesia, setelah Anker.

Anker sendiri adalah perusahaan yang didirikan perusahaan Jerman dengan nama NV Archipel Brouwerij Compagnie pada tahun 1932. Dalam majalah Trompet edisi Juni 1939, iklan bir ini tertulis Ankerpils dengan gambar ketel raksasa pengolah bir dan gambar sebotol Ankerpils.

Dua tahun sebelum kedatangan Jepang, tepatnya 11 Mei 1940, Ankerpils dijual ke NV Borneo Sumatra Maatschappij atau Borsumij. Kemudian sempat tutup selama pendudukan Jepang. Pascakemerdekaan Indonesia, perusahaan ini bangkit kembali.

Sekitar tahun 1970, produsen bir Anker berubah nama menjadi PT Delta Djakarta. Perusahaan ini juga memroduksi minuman lain, yaitu Anker Stout, San Mig Light, Carlsberg Beer, dan beberapa minuman sejenis lainnya.

Saham Pemprov DKI Jakarta akan dilepas?
Tahun 2016, Pemprov DKI memiliki saham di PT Delta Djakarta Tbk sebesar 23,34 persen. Keuntungan bersih perusahaan itu mencapai sekitar Rp254,5 juta. Jika dihitung berdasarkan jumlah harga per lembar saham, nilai total penyertaan modal Pemprov DKI Jakarta mencapai sekitar Rp934,23 miliar.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berencana melepas saham tersebut. Hal ini terkait program kerja beliau di saat kampanye pemilihan gubernur.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber