• News

  • Singkap Sejarah

Anggota TNI Beretnis Tionghoa Pernah Mencapai Tiga Persen

Brigjend TNI Daniel Tjen
Dwigatta
Brigjend TNI Daniel Tjen

JAKARTA, NNC - Ternyata, etnis Tionghoa di Indonesia bukanlah semata merupakan orang yang hanya menghabiskan hidupnya berkutat dengan uang dan bisnis semata. Buktinya, tidak sedikit dari mereka yang mengabdikan hidupnya dengan menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Namun hingga kini, bila ada orang Tionghoa menjadi anggota TNI atau Polri masih dianggap aneh. Kejadian seperti itu pernah terjadi di Polres Metro Jakarta Barat. Seorang warga terbengong-bengong saat ia menerima pelayanan dari Kasubnit Kriminal Khusus yang bernama Inspektur Satu Polisi Steven Chang.

Pengalaman serupa juga pernah dialami oleh perwira TNI-AL berdarah Tionghoa yang bernama Kapten Laut (K) dr Bangun Pramujo. Sejak awal mendaftar sebagai anggota TNI, ia sudah ditanyakan, “Kenapa orang Tionghoa kok ikut tes tentara?”

Ia mengungkapkan bahwa memang sejak dari awal perekrutan, orang yang beretnis Tionghoa dibatasi. Dari 360 orang teman seangkatannya, hanya ada empat orang yang beretnis Tionghoa.

Kapten Laut (K) dr Bangun Pramujo merupakan lulusan perwira karir 2008 dan merintis prestasinya sebagai anggota awak KRI Dewa Ruci. Ia adalah salah satu etnis Tionghoa yang kini menjadi anggota TNI-AL.

Pandangan aneh terhadap pemuda Tionghoa yang menjadi anggota TNI adalah sisa-sisa dari praktik diskriminasi politik yang pernah terjadi dalam perjalanan sejarah Indonesia, khususnya selama Orde Baru. Kebijakan negara yang diskriminatif mengakibatkan segregasi berbasis rasial antara orang Tionghoa dengan rakyat kebanyakan.

Apalagi ketika muncul kebijakan asimilasi yang dilakukan pemerintah Soeharto. Semua orang Tionghoa diwajibkan mengganti nama Tionghoa menjadi nama Indonesia. Mereka yang beretnis Tionghoa menjadi tidak mudah dilacak jika hanya berdasarkan dari nama yang tertulis di atas kertas.

Kebijakan politik yang kontroversial tersebut justru semakin mempersulit upaya konsolidasi kekuatan sipil dan demokrasi di akar rumput. Sentimen berbau SARA yang menempatkan orang Tionghoa sebagai sosok-sosok “liyan” menjadi tidak mudah dihapus.

Kiprah orang Tionghoa dalam kemerdekaan
Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, banyak pemuda Tionghoa bergabung untuk turut serta dan ingin berbakti kepada Indonesia. Nasionalisme telah menyatu dalam darah mereka. Salah satu sosok terkenal di antaranya adalah Kapten John Lie Tjeng Tjoan (1911-1988).

Saat meninggal, John Lie dianugerahi gelar sebagai Laksamana Muda TNI oleh pemerintah Indonesia atas jasanya sebagai pejuang kemerdekaan. Kontribusi, kegigihan, dan kesuksesannya dalam menyuplai persenjataan bagi TNI melalui penyelundupan telah mencengangkan dunia.

Sesungguhnya, tokoh selain John Lie ada banyak. Namun di masa itu, orang Tionghoa menjadi tentara atau polisi bukan suatu hal yang aneh.

Dalam buku “Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran” (2014: 204-208), Iwan Ong Santosa mengatakan, “Hingga sekitar tahun 1970an, di berbagai daerah, orang Tionghoa menjadi tentara bukan hal aneh. Apalagi saat tahun 1960an saat konfrontasi Trikora dan Dwikora di zaman Orde Lama.”

Lebih lanjut Iwan mengatakan bahwa jika statistik dibuka, ada semacam kebijakan khusus yang diterapkan pemerintah dalam perekrutan anggota TNI. Komposisi jumlah anggota TNI juga mempertimbangkan komposisi penduduk Indonesia secara proporsional.

Misalnya, penduduk beretnis Jawa di Indonesia ada 50 persen, maka komposisi jumlah tentara yang akan direkrut juga 50 persen. Dengan pertimbangan ini, keterwakilan dan upaya konsolidasi seluruh rakyat Indonesia menjadi sangat terkondisikan.

Dalam kajian Lie Ay Mei berjudul “Uniform in Diversity” disebutkan bahwa pada 1960, prosentasi jumlah perwira TNI beretnis Tionghoa mencapai sama dengan perbandingan antara penduduk beretnis Tionghoa dengan keseluruhan jumlah penduduk Indonesia, yaitu sekitar dua sampai tiga persen. Makalah Lie Ay pernah disajikan dalam sebuah seminar di Guangzhuo, Tiongkok.

Ada ratusan perwira TNI beretnis Tionghoa berhasil diidentifikasi. Tingginya minat orang Tionghoa menjadi tentara seperti diungkapkan Lie Ay, juga senada dengan catatan Brigjend (Purn) Tedy Jusuf atau Him Tek Ie, yang pernah dimuat dalam “Buletin Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI)”.

Menurut Brigjend Tedy, pada 1962 jumlah teman seangkatan yang masuk Akademi Militer adalah 469 orang. Dari jumlah itu, 11 orang di antaranya adalah beretnis Tionghoa. Ia juga menjelaskan bahwa 20 persen dari angkatannya berhasil mencapai pangkat perwira tinggi.

Pernyataan Brigjend Tedy juga diperkuat oleh mantan Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) almarhum Marsekal Muda TNI (Purn) Faustinus Djoko Poerwoko. Sebelum wafat, ia pernah menyatakan bahwa sepanjang tahun 1963-1966 banyak perwira Tionghoa terlibat dalam konfrontasi “Ganyang Malaysia”.

Di antara mereka adalah seorang pilot tempur terkenal di TNI-AU bermarga Tjong dan dikenal dekat dengan Jenderal LB Moerdani. Tjong merupakan pilot pesawat Mig-21 yang pernah bertempur melawan sepasang Hawker Hunter milik Royal Australian Air Force (RAAF). Hanya saja, Tjong sampai akhir hayatnya enggan mengisahkan pengabdiannya ke publik.

Pemuda Tionghoa lain yang pernah turut serta dalam jajaran AURI adalah Gan Sing Liep dan The Tjing Hoo. Sejak tahun 1951 mereka telah bergabung dalam TNI sebagai navigator alumnus TALOA California. Gan Sing Liep di kemudian hari mengubah namanya menjadi Sugandi dan saat wafat dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Berharap ada generasi penerus
Pascameletusnya Gerakan 30 September (G30S) dan disusul jatuhnya kekuasaan Soekarno, kebijakan negara cenderung berubah. Bukan rahasia lagi bahwa di masa Orde Baru, dua bidang profesi ditabukan bagi etnis Tionghoa yaitu menjadi pegawai negeri sipil dan tentara.

Dampak dari kebijakan itu, pemuda Tionghoa yang ingin mendaftar menjadi anggota TNI dan Polri menjadi sangat sedikit. Pemuda Tionghoa lainnya menjadi terpinggirkan dan akhirnya menekuni bidang perdagangan, kedokteran, dan profesi lain yang tidak dipersulit.

Namun demikian, jarang bukan berarti tidak ada. Beberapa perwira TNI dari etnis Tionghoa masih tersisa dan tetap menjabat sebagai anggota TNI sampai akhir hayatnya.

Mereka antara lain:
1. Brigadir Jenderal TNI Teguh Santosa atau Tan Tiong Hiem (jabatan terakhir Wakil Asisten Perencanaan Kepala Staf Angkatan Darat tahun 1993-1995)
2. Mayor Jenderal TNI Iskandar Kamil atau Liem Key Ho (jabatan terakhir adalah hakim agung).
3. Brigadir Jenderal TNI Teddy Yusuf atau Him Tek Ji (anggota Fraksi ABRI di Dewan Perwakilan Rakyat tahun 1995-1999)
4. Marsekal Pertama TNI Ir Billy Tunas, MSc (Kepala Pusat Data dan Informasi Departemen Pertahanan tahun 1992-1993)
5. Brigadir Jenderal TNI Paulus Prananto (jabatan terakhirnya adalah Kepala Pusat Data dan Informasi Departemen Pertahanan tahun 1999-2002)
6. Laksamana Pertama TNI FX Indarto Iskandar atau Siong Ing (Kepala Biro Perencanaan Sekretariat Jenderal Departemen Pertahanan)
7. Mayjen TNI dr Daniel Tjen, SpS (Kepala Pusat Kesehatan TNI).
8. Kolonel Surya Margono atau Chen Ke Cheng (Atase Pertahanan di KBRI Beijing, Tiongkok).

Dalam publikasi Kodam XII Tanjung Pura, Pontianak, ada seruan khusus bagi generasi muda Indonesia, terutama yang beretnis Tionghoa dan berasal dari Kalimantan Barat, untuk mau mendaftar dan bergabung menjadi tentara. Generasi muda dari etnis Tionghoa tidak boleh melupakan para pendahulu mereka.

Dalam publikasi tersebut, sosok Mayjend TNI dr Daniel Tjen SpS dijadikan sebagai inspirasi kaum muda untuk terpanggil memenuhi amanat UUD 1945 untuk aktif melakukan upaya pembelaan terhadap negara Indonesia dengan menjadi anggota TNI.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber