• News

  • Singkap Sejarah

Pertempuran Surabaya, dari Jarang Ganti Celana hingga Pisau Dapur

Bung Tomo
Nanyang Post
Bung Tomo

JAKARTA, NNC - Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya memang dahsyat dan unik. Kedahsyatan perang dapat dilihat dari tingginya jumlah korban yang meninggal. Menurut catatan MC Ricklefs dalam “A History of Modern Indonesia Since c. 1300” (1993), setidaknya 6.000-16.000 jiwa melayang di pihak pejuang Indonesia.

Sedangkan, menurut taksiran Woodburn Kirby dalam “The War Against Japan” (1965), korban di pihak Sekutu mencapai sekitar 600-2.000 tentara. Perang juga mengakibatkan sekitar 200.000 rakyat Surabaya mengungsi dan meninggalkan Kota Surabaya.

Tingginya perbedaan jumlah korban menunjukkan bahwa di balik perang tersebut ada unsur “kenekatan”. Bagaimana tidak? Pemuda Indonesia menantang pemenang Perang Dunia II hanya bermodal tekad “hidup atau mati” menghadapi artileri, kapal perang, dan pesawat tempur. 

Beberapa pucuk senjata dari hasil merampas pasukan Jepang ditambah bambu runcing, melawan tank, kapal perang, mortir, mitraliur, dan senapan mesin. Ya tentu saja, hasilnya adalah kekalahan di pihak pejuang Indonesia.

Tetapi, jangan dilupakan, walaupun jumlah korban di pihak Indonesia mencapai lima persen dari seluruh jumlah pejuang, namun ada dua jenderal di pihak Sekutu (Brigjen RG Loder-Symonds dan Brigjen AWS Mallaby) yang menjadi korban. Hal itu mengakibatkan pihak Sekutu merasa dipermalukan.

Jenderal pemenang Perang Dunia II dan dielu-elukan dunia karena kehebatannya, tanpa diduga bisa terbunuh di Surabaya. Lebih menohok lagi, tewas oleh pemuda-pemuda lugu yang tak tahu-menahu rumitnya teknologi dan strategi perang. Karena itu, Sekutu dipaksa untuk mengakui bahwa rakyat Surabaya tak bisa diremehkan.

Pertempuran pertama sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 itu, berhasil menyulut semangat juang para pemuda dari Sabang sampai Merauke. “Sekali merdeka tetap merdeka” bergaung ke seluruh pelosok negeri. Karena tekad itu, bendera proklamasi tetap berkibar.

Jejak dan kisah di balik pertempuran Surabaya yang begitu heroik dapat ditemukan dari berbagai sumber, seperti PRS Mani dalam “Jejak Revolusi 1945, Sebuah Kesaksian Sejarah” (1989), “Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946” (1988) karya Ben Anderson, atau bisa juga melalui novel “Surabaya” (1947) karya Idrus.

Menelusuri berbagai sumber sejarah tentang pertempuran Surabaya, ternyata ada sejumlah fakta unik dan menarik untuk disimak. Heroisme, duka akibat banyaknya korban, harus mengaku kalah, tetapi juga banyak kejadian yang mengundang senyum. Berikut ini beberapa fakta tersebut.

1. Diwarnai aksi premanisme
Dalam novel “Surabaya”, imajinasi Idrus melukiskan perilaku para pemuda Surabaya saat melawan tentara Inggris dan Gurkha, laksana koboi atau bandit. Dengan dada membusung, pemuda yang berhasil merampas senjata Jepang selalu memamerkan Revolver atau belati di pinggang.

Idrus mau mengatakan bahwa di era tersebut, senjata pembunuh sangat menentukan seseorang menjadi penguasa atau tidak. Orang-orang yang sedang dimabuk kemerdekaan (eforia) sedang belajar memunggungi Tuhan. Kiblat mereka berubah dan tidak lagi memuji Tuhan, tetapi memuja kehebatan bom, mitraliur, mortir, dan lain-lain.

Sementara itu, di tengah perang yang berkecamuk, ada sejumlah pemuda yang memanfaatkan kekacauan dengan memancing di air keruh. Pemuda tak bertanggung jawab itu melakukan aksi perampokan, pemerkosaan, dan menjarah pihak-pihak yang sebelumnya dianggap pendukung Jepang atau Belanda.

Banyak pemuda bertindak konyol. Bila ada seseorang dianggap mata-mata atau telik sandi musuh, tanpa penyelidikan, langsung dibunuh. Sementara itu, banyak wanita dalam pengungsian tak mampu menahan birahi lalu melakukan praktik perselingkuhan.

2. Bung Tomo, pemuda berbau apek
Masih menurut Idrus, Bung Tomo digambarkan sebagai kepala pemberontak, berambut gondrong, mengenakan baju lusuh, dan berbau apek. Padahal, dalam narasi sejarah Indonesia, ia digambarkan sebagai sosok heroik yang berpidato di radio untuk membakar semangat juang seluruh pemuda Surabaya.

Siapa sangka bahwa ia pernah ditahan oleh sesama pejuang Indonesia? Peristiwa itu menjadi bukti kekacauan lainnya. Ketika pemimpin tentara di Jawa Timur, Dr Mustopo, memberikan komando kepada Pemuda Republik Indonesia (PRI) untuk 'melindungi' Bung Tomo, ternyata perintah itu dipahami sebagai perintah untuk menangkap Bung Tomo.

3. Pejuang jarang ganti celana
Heroisme dan eforia kemerdekaan telah menyulap para pemuda menjadi tergila-gila dengan kostum tentara Indonesia. Banyak pemuda yang menjadi anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) selalu membanggakan model celana kostum mereka yang berwarna khaki (coklat muda).

Namun, saat perang berkecamuk selama berhari-hari, mereka tak sempat lagi berpikir dan mengurus kebersihan badan maupun berganti pakaian. Celana kebanggaan itu, mereka kenakan selama berhari-hari. Akibatnya, warna celana berubah menjadi dekil dan kehitam-hitaman.

4. Baru pertama kali pegang senapan
Banyak pemuda, yang berjuang dalam pertempuran Surabaya, baru pertama kalinya memegang senapan dan langsung ikut perang. Ada juga yang baru pertama kali memegang granat. Senjata itu mereka peroleh dari hasil merampas tentara Jepang.

Mereka mengira granat akan meledak dengan sendirinya ketika dilempar dan membentur tanah atau benda keras. Mereka tidak tahu, sebelum melemparkan ke arah musuh, ada kunci yang harus dilepas terlebih dulu agar aktif dan siap meledak. Makannya, banyak yang heran, mengapa granat yang mereka lempar tidak meledak.

5. Kyai dan santri turun ke medan perang
Dalam kondisi biasa, para kyai dan santri beraktivitas mengasah spiritualitas di pesantren. Namun, karena ada panggilan ibu pertiwi, mereka keluar dari sarangnya.
Pertempuran Surabaya menjadi semakin mengerikan bagi pihak Sekutu, karena diwarnai suasana takbir “Allahu Akbar” di bawah pimpinan para kyai seperti KH Hasjim Asy'ari dan KH Wahab Hasbullah.

KH Hasyim Asy'ari menyerukan resolusi jihad dalam berperang melawan Sekutu. Dampaknya tentu saja luar biasa. Ribuan santri turun ke medan laga tanpa takut lagi nyawa sebagai taruhannya.

6. Memalak pasukan NICA
Di antara pasukan Sekutu, terdapat pasukan Netherlands-Indies Civil Administration (NICA). Seperti taktik pada era Hindia-Belanda, mereka berusaha merekrut pemuda Indonesia untuk dipersiapkan melawan saudara sebangsa. Di antara pemuda yang direkrut berasal dari Madura.

Suatu ketika, mereka berhadapan dengan pejuang prokemerdekaan di Kali Porong, Surabaya. Para pemuda dari Madura itu diejek dan disoraki sebagai pengkhianat.

Selanjutnya, markas mereka diserbu para pejuang Indonesia. Mulai dari persediaan makanan hingga stok amunisi dirampas. Ketika “dipalak”, para pemuda Madura pendukung NICA itu pasrah tanpa perlawanan.

7. Pisau dapur mengganti bayonet
Taka ada rotan akar pun jadi. Senjata hasil rampasan pasukan tentara Jepang tidak semua lengkap. Ada pemuda hanya mendapat senapan tetapi tidak mendapat peluru atau kebalikannya. Ada juga yang mendapat senapan tanpa bayonet. Pisau dapur pun bisa digunakan.

Kisah unik ini dialami Bung Tomo. Berbekal kartu pers wartawan Domei, ia aktif melobi selama proses perampasan senjata dari tentara Jepang. Suatu ketika ia menerima pengaduan dari pihak salah seorang tentara Jepang.

Tentara itu merasa keberatan dengan bayonetnya yang dirampas karena sering dipakai untuk memasak. Tak kehilangan akal, Bung Tomo menggantikan bayonet yang diminta tentara itu dengan pisau dapur.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro