• News

  • Singkap Sejarah

Orang Tua Sekarat, Bagaimana Sikap Anak di Zaman Jawa Kuno?

Tradisi Sati
selarasmedia
Tradisi Sati

JAKARTA, NNC - Bagi orang Jawa, pesan atau perintah orangtua sebelum meninggal merupakan kalimat wasiat yang wajib dilaksanakan oleh anak-anaknya. Tentu saja, bila dilaksanakan akan mendatangkan berkah. Namun, bila tidak dilaksanakan akan menjadi beban batin dalam kehidupan anak-anak yang ditinggalkan. 

Pesan orangtua yang sedang sekarat atau menjelang ajal tiba bisa berupa perintah pembagian warisan, perintah pemakaman, ataupun ramalan. Anak-anak biasanya akan menuruti. Sistem kepercayaan seperti ini sudah ada sejak zaman Jawa Kuno dan dipelihara turun temurun hingga kini. 

Oleh sebab itu, detik-detik saat orang tua menghadapi sakratul maut adalah peristiwa yang sangat penting. Anak-anaknya harus berjaga siang dan malam. Anak akan sangat menyesal apabila momen terakhir orangtua meninggal itu terlewat sehingga tidak mendengar wasiat apapun. 

Melaksanakan wasiat orangtua yang sedang menghadapi sakratul maut menjadi wujud kesetiaan anak kepada orangtuanya untuk terakhir kalinya. Dalam kondisi sehat, tak jarang orangtua sudah memberikan banyak nasihat, namun pesan saat sekarat, jauh lebih penting dan tak boleh diabaikan. 

Catatan bagaimana anak menghadapi situasi orangtua menjelang kematian, ternyata sudah ada sejak Kerajaan Mataram Kuno (abad ke-8). Bisa jadi, tradisi itu juga sudah ada pada masa sebelumnya. Bagaimanakah isi catatan-catatan sejarah itu?

Kematian sebagai peristiwa penting

Peristiwa kematian selalu membuat manusia tersentak. Sebelum meninggal, orang masih bisa bercanda, tertawa, bersama dalam suka dan duka. Setelah ajal tiba, orang yang meninggal tak lagi bisa bergerak. Jasadnya membusuk dan tak mungkin lagi kembali seperti saat masih hidup. 

Munculah berbagai perilaku dan cara manusia untuk memaknai peristiwa kematian, sehingga melahirkan sistem kebudayaan benda (nisan, kubur batu, dan lain-lain)  dan kebudayaan tak benda (ritual, sistem kepercayaan, tradisi, dan lain-lain). Semua itu ingin mengatakan bahwa kematian adalah peristiwa mengesankan. 

Menurut kajian Titi Surti Nastiti berjudul “Kedudukan dan Peranan Perempuan dalam Masyarakat Jawa Kuno, Abad VIII-XV Masehi” (2009), pada era Hindu-Budha, tidak banyak tulisan mengenai kematian yang berasal dari Jawa. Justru yang lebih banyak, berasal dari berita Tiongkok dan Portugis. 

Dalam prasasti-prasasti Jawa Kuno abad VIII-IX, lebih banyak mengisahkan upacara kelahiran dan perkawinan. Contoh prasasti yang memuat tentang kisah perkawinan, di antaranya adalah Prasasti Mantyasih I yang berangka tahun 829 Saka (907 M) dan Prasasti Pucauan (1037 M) yang berbahasa Sansekerta. 

Sementara dalam catatan Ma Huan yang ditulis sekitar 1433 Masehi berjudul “Ying-yai Sheng-lan” (1970: 95), mengisahkan kebiasaan orang Jawa dalam menghadapi  peristiwa kematian. Jika mereka mempunyai ayah atau ibu yang sedang sekarat, anak laki-laki dan anak perempuannya akan menanyakan pesan-pesan terakhir orangtua mereka. 

Orangtua juga akan ditanyakan permintaannya setelah meninggal. Apakah jasadnya harus diberikan kepada anjing untuk dimakan, dibakar, atau dibuang ke laut. Setelah orangtua mereka benar-benar sudah meninggal, anak laki-laki dan anak perempuan akan melaksanakan perintah-perintah tersebut. 

Jika orangtua berpesan agar jasadnya dimakan anjing, maka Sang Anak akan membawa jasad atau mayat orangtuanya ke tepi sungai atau menempatkannya di tanah, di mana sejumlah anjing mengikutinya. Jika daging dari mayat dimakan habis, tanpa ada yang disisakan, itu pertanda baik. 

Namun, jika masih tersisa, maka anak laki-laki dan perempuannya akan menangis dengan sedih. Mereka kemudian akan mengambil sisa-sisa tulang dan membuangnya ke laut. 

Yang disayang ikut menyusul kematian

Ma Huan mengisahkan juga bahwa apabila ada orang kaya atau kalangan bangsawan terhormat memberikan wasiat agar jasadnya dibakar, biasanya budak, pelayan, istri, atau selir yang paling disayangi, juga akan ikut menyusul kematian dengan terjun ke dalam kobaran api. 

Ma Huan tidak menyebutkan apa yang terjadi bila sebaliknya. Maka dapat dipastikan, jika yang mati terlebih dahulu adalah pihak istri atau selir yang disayangi suaminya, tak ada keharusan bagi pihak suami (bangsawan maupun orang kaya) kemudian dituntut setia ikut mati dalam kobaran api. 

Budak, istri, atau selir yang paling disayang, biasanya bersumpah setia kepada suami atau tuannya dengan mengatakan, “Dalam kematian, saya akan pergi menyertaimu.” Maka saat suami atau tuannya meninggal, mereka menyiapkan perapian untuk membakar mayat tuan atau suaminya itu. 

Saat api berkobar, dua atau tiga budak, istri, dan selir yang telah bersumpah, dengan mengenakan bunga di kepala dan berbalut kain lima warna akan melompat ke dalam api. Tubuh mereka kemudian ikut terbakar dan mati. 

Dapat dibayangkan bagaimana hati anak-anak dari orangtua yang sudah meninggal (ayah) dan ibu mereka yang akan menyusul mati. Peristiwa itu tentu saja sangat membekas dan memberikan efek psikologis tersendiri. Betapa mahalnya arti kesetiaan dan kematian orangtua mereka. 

Kisah serupa juga ditulis dalam berita Portugis yang ditulis Tome Pires dalam “The Suma Oriental” yang ditulis sekitar tahun 1512-1515. Dalam tradisi kerajaan-kerajaan di Jawa, ketika raja wafat, “Sejumlah istri dan selirnya membakar dirinya dan juga ketika seorang tuan atau seorang laki-laki penting meninggal.” 

Selain dengan membakar diri, perempuan yang memutuskan setia  ikut mati bersama suami atau tuannya, terlebih dahulu akan menenggelamkan diri mereka sendiri diiringi dengan musik dan jamuan makan. Barulah kemudian mereka ikut mati dengan menggunakan keris. 

Akan tetapi, Tome Pires memberikan catatan khusus, “Adat ini dilakukan oleh orang Jawa, bukan orang Jawa yang telah beragama Islam.” Orang Jawa yang telah menganut Islam sudah tidak mempraktikkan tradisi itu. 

Pada masa peradaban Hindu-Budha masih bercokol dengan kuat di tanah Jawa, apabila ada seseorang meninggal, jasadnya dibakar. Abunya akan dihanyutkan ke sungai atau laut. 

Ketika Islam berkembang dan menggeser peradaban Hindu-Budha di tanah Jawa, tradisi ini ditinggalkan. Namun, jejak kebiasaannya masih bisa kita lihat dalam budaya Bali. Hanya saja, model kesetiaan istri atau pihak yang disayangi ikut mati bersama dengan membakar diri, sudah ditinggalkan. 

Tradisi seperti itu bisa berkembang di Jawa Kuno, tak lepas dari pengaruh ajaran Hindu dari India. Salah satu buktinya tergambar dalam kisah Ramayana yang dipahatkan di Candi Prambanan. Di sana terdapat adegan saat Rahwana meninggal. Jasadnya dibaringkan di atas tumpukan kayu bakar, dan istri-istrinya berada di sampingnya. 

Istri dan pelayan yang memilih ikut mati dengan membakar diri disebut sati. Istilah ini berasal dari Bahasa Sanskerta, yaitu satya yang berarti setia. Berkaitan dengan sati. Di Candi Jago, juga terdapat relief tentang cerita Tantri Kamandaka yang cukup detail bagaimana sati berlaku di masa itu. 

Cerita Tantri Kamandaka mengisahkan adegan Dewi Mayawati yang menerjunkan diri dalam kobaran api karena suaminya, Prabu Aridarma (biasa disebut juga dengan sebutan Angling Darma), tidak mau menceritakan rahasia tentang ilmu menguasai bahasa binatang yang diperolehnya dari raja ular bernama Nagaraja. 

Bila membocorkan ilmu tersebut, pemilik ilmu akan mati. Prabu Aridarma berusaha setia dengan larangan itu. Di sisi lain, ia juga mencintai istrinya. Mulanya, ia juga memutuskan bersedia mati bersama dengan istri yang ia cintai. Ia memerintahkan punggawa keraton menyiapkan perapian. 

Setelah selesai upacara dan perapian menyala, Prabu Aridarma dan Dewi Mayawati siap menerjunkan diri. Tiba-tiba, telinga Prabu Aridarma mendengar percakapan kambing jantan bernama Banggali dengan kambing betina bernama Wiwita. 

Wiwita meminta Benggali mengambilkan janur kuning sebagai bukti cinta. Namun, Banggali tidak mau. Wiwita marah dan merasa tidak dicintai. Ia kemudian mengajak Benggali menyusul terjun ke api seperti Dewi Mayawati dan Prabu Aridarma. 

Benggali tidak mau diajak bunuh diri dan justru menertawai kebodohan Prabu Aridarma sambil mengatakan, “Kalau ingin mati, mati saja jangan mengajak saya.” 

Mendengar kata-kata Bengali, Prabu Aridarma sadar dan berubah pikiran. Ia tidak jadi terjun dalam perapian. Sementara Dewi Mayawati kemudian mati terbakar dan disusul oleh Wiwita, Si Kambing Betina.

Wasiat membagi harta warisan

Sebelum meninggal, orang tua biasanya sudah membuat keputusan membagi warisan kepada keturunannya agar tidak menimbulkan sengketa atau perselisihan. Namun tidak jarang, wasiat pembagian warisan baru disampaikan kepada anak-anaknya saat menjelang kematian. Dalam hal ini, anak juga akan melaksanakan pesan tersebut. 

Berdasar sejumlah prasasti, seperti Prasasti Kancana (860 M), Prasasti Kinawe (928 M), dan Prasasti Patapan II (1418 M) menunjukkan tidak adanya perbedaan hak waris antara anak laki-laki dan anak perempuan. Namun, dalam praktiknya tidak bersifat baku. 

Dalam Prasasti Kancana seperti dikutip oleh Titi Surti Nastiti, disebutkan Paduka Mpungku i Boddhimimba membagikan warisan kepada kedua anaknya. Anak yang sulung bernama Dyah Imbangi (laki-laki) dan yang bungsu bernama Dyah Anārgha (perempuan). 

Mereka sama-sama diberi tempat tinggal di lingkungan daerah perdikan dan mempunyai wewenang atas dharmma sima lpas. Hal ini memperlihatkan bahwa hak antara anak laki-laki dan anak perempuan tidak dibedakan. 

Namun, dalam masyarakat Jawa sekarang, banyak pula dijumpai perbedaan perlakuan. Dalam hukum waris, orang Jawa mengenal pembagian di mana anak laki-laki mendapat sepikul dan perempuan mendapat segendhongan

Artinya anak laki-laki mendapat warisan dua bagian dan anak perempuan mendapat satu bagian. Pembagian warisan ini sama dengan hukum Islam yang menyebutkan bahwa anak perempuan mendapat satu bagian dan laki-laki dua bagian. Pada kenyataannya, peraturan pembagian harta warisan seperti ini tidak bersifat mutlak atau tidak selalu diikuti.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?