• News

  • Singkap Sejarah

Inilah Kuburan Tertua di Jakarta yang Terkenal Bernuansa Romantis

Taman makam tertua di dunia itu kini bernama Museum Taman Prasasti
harnas.co
Taman makam tertua di dunia itu kini bernama Museum Taman Prasasti

JAKARTA, NNC - Setiap kali mendengar kata makam atau kuburan, persepsi orang langsung mengarah pada sesuatu yang dianggap angker, mistis, dan beraroma menyeramkan.

Pikiran, perasaan, atau asosiasi orang tentang suasana mistis di lokasi kuburan tercipta dan tak bisa dilepaskan dari sistem keyakinan. Bisa juga disebabkan oleh pengalaman orang tertentu ketika menjumpai roh halus atau hantu yang bergentayangan di tempat tersebut.

Hantu atau roh halus bagi sebagian orang dipercaya berasal dari arwah atau roh-roh orang yang sudah meninggal, terutama yang meninggal secara tidak wajar. Arwah orang yang meninggal karena dibunuh, diperkosa, disantet, dan lain-lain dipercaya bisa mengantui orang yang masih hidup.

Namun, ternyata tidak semua kuburan selalu menyeramkan. Buktinya, ada pemakaman tertua di Jakarta yang kini telah menjelma menjadi sebuah lokasi yang sangat romantis dan ditata dengan suasana modern.

Makam itu tak lain dan tak bukan adalah sebuah kuburan yang bernama Museum Taman Prasasti. Artinya, makam tersebut telah dijadikan sebagai museum. 

Lokasi Museum Taman Prasasti berada di Jl. Tanah Abang I, Jakarta Pusat. Pemakaman ini juga pernah menjadi pemakaman umum Kebon Jahe Kober. Luasnya mencapai 5,5 hektare.

Makam dibangun pada 1795 oleh pemerintah Batavia untuk menggantikan kuburan lain yang berada di samping gereja  De Nieuwe Hollandse Kerk (sekarang bernama Museum Wayang) karena sudah penuh.

Pemakaman ini bisa dikatakan merupakan salah satu taman makam modern tertua di dunia. Mengapa?

Umur Museum Taman Prasasti lebih tua dari Fort Canning Park (1926) di Singapura, Gore Hill Cemetery (1868) di Sydney, Pere Lachaise Cemetery (1803) di Paris, Mount Auburn Cemetery (1831) di Cambridge-Massachusstes, dan juga lebih tua dari Arlington National Cemetery (1864) di Washington DC.

Pemakaman ini beroperasi hingga pada 1945. Pengelolaannya diserahkan pada Yayasan Palang Hitam.

Setelah Indonesia merdeka, sebagian jenazah di kuburan ini dipindahkan ke Menteng Pulo dan Tanah Kusir. Kemudian pada 1977, di lokasi kuburan ini didirikanlah Museum Taman Prasasti yang diresmikan oleh Gubernur DKI waktu itu, Ali Sadikin.

Disebut Museum Taman Prasasti karena museum memiliki koleksi beraneka ragam patung, batu nisan, juga sejumlah prasasti yang berusia ratusan tahun. Menurut keterangan petugas museum, total koleksi meliputi 1.372 nisan yang tersebar di lahan museum.

Sebagian batu nisan dan marmer dahulu didatangkan langsung dari Italia. Memang, pada masa kolonial, upacara pemakaman dilakukan dengan cara mewah. Semakin mewah, semakin menunjukkan strata kebangsawanan bagi pihak yang dimakamkan.

Salah satu batu nisan di museum itu adalah batu nisan milik Olivia Mariana Raffles, istri Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang juga pendiri Singapura.

Olivia sangat suka bunga, maka Raffles membuatkannya Kebun Raya Bogor. Tapi sebelum meninggal, Olivia berpesan agar dimakamkan di dekat sahabat dekatnya yaitu John Casper Leyden.

Di bagian tengah makam terdapat satu nisan patung, berukuran lebih tinggi dari yang lain. Dia adalah makam H Van Der Grinten, seorang pastor Imam Katolik yang begitu dihormati dan menjadi panutan di Batavia pada masa itu.

Nisan yang dibuat lebih tinggi itu seolah menujukkan bahwa sosok yang dimakamkan itu ingin “mengayomi” nisan-nisan lain yang ada di sekitarnya.

Menurut sebuah sumber, bahwa di kuburan ini juga ada dua warga pribumi yang dimakamkan di sini, yaitu Soe Hok Gie dan Miss Riboet.

Hok Gie adalah aktivis mahasiswa angkatan 1966 yang semasa hidupnya menjadi tokoh pergerakan yang terkenal kritis terhadap pemerintah. Sedangkan Miss Riboet adalah seorang selebriti yang sangat terkenal pada masanya.

Tak kalah terkenal adalah nisan dari Dr Jan Laurens Andries Brantes. Dia adalah ahli sastra, arkeologi, juga ahli tafsir bahasa Jawa kuno. Dia wafat di Batavia pada 26 Juni 1905. Tanpa dia, kita tidak akan tahu artinya kitab-kitab kuno seperti Negarakertagama dan Sutasoma.

Satu nisan lagi yang tak kalah penting adalah milik JHR Kohler, seorang Mayor Jenderal tentara Belanda yang ditembak mati oleh sniper Aceh di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Konon, sniper Aceh itu juga ditembak sniper Belanda sesaat setelah menewaskan Kohler.

Nisan ini menjadi favorit para traveler penggemar kisah-kisah misteri dan konspirasi. Karena, nisan sang Mayor Jenderal punya simbol-simbol yang menjurus pada identitas bangsa Yahudi, serta kelompok-kelompok rahasia seperti Templar dan Freemasonry yang terkenal dengan simbol salibnya.

Terlepas dari semua itu, Museum Taman Prasasti juga merupakan kuburan yang sangat fotogenik. Tak heran banyak foto pre-wedding dibuat dengan mengambil latar belakang museum ini.

Museum Taman Prasasti buka pada Selasa-Minggu pukul 09.00-15.00 WIB. Bagi yang tertarik menikmati nuansa romantis di bekas kuburan ini, dipersilakan dan akan dilayani petugas museum dengan baik.

 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Taat ujianto
Sumber : Disarikan dari berbagai sumber