• News

  • Singkap Sejarah

Raja Jawa Dibunuh Istri Tercinta, Intrik Politik Berselubung Asmara?

Sultan Hamengkubuwana V
panduanwisata
Sultan Hamengkubuwana V

YOGYAKARTA, NNC - Apakah memang sudah menjadi suratan bahwa dalam dunia politik tak lepas dari intrik? Dan dalam catatan sejarah Nusantara, tak jarang intrik-intrik itu dikemas atau dibungkus dengan aroma asmara, cinta, dan penuh tragedi.

Ini pula yang terjadi dalam kehidupan bangsawan di Keraton Yogyakarta. Tatkala kesaktian (kekuasaan) feodal Jawa semakin meredup karena kalah terang dengan Kolonial Belanda, intrik politik semakin menjadi-jadi.

Dan intrik itu menampakkan wujudnya dalam peristiwa tragis yang mengguncang jagad kehidupan orang Jawa pada 5 Juni 1855 itu. Raja Jawa yaitu Sultan Hamengkubuwana (HB) V ditemukan tewas bersimbah darah di salah satu ruang istananya.

Peristiwa ini diliputi kabut misteri yang tidak terkuak secara gamblang hingga sekarang. Pasalnya, dalam catatan sejarah, hasil pengusutan dari pembunuhan itu tetap menyisakan sejumlah pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh khalayak banyak.

Dalam pengusutan, disebutkan bahwa Sang Raja ditikam dari belakang dengan menggunakan keris oleh istri kelimanya, yang konon adalah paling ia cintai. Wanita cantik itu bernama Kanjeng Mas Hemawati

Layaknya skandal para penguasa dunia di manapun juga, peristiwa tragis akan selalu ditutupi meskipun bau busuknya sudah terlanjur merebak ke segala penjuru. Para bangsawan keraton sengaja menutup rapat-rapat semua pihak yang ingin menguak apa yang terjadi di balik peristiwa itu.

Dalam catatan sejarah, peristiwa itu diistilahkan sebagai wereng saketi tresno atau “mati di tangan yang dicintai”.  Dan tentu saja, hanya segelintir orang saja yang tahu dan sengaja tutup mulut atau merahasiakannya.

Pertanyaannya, mengapa Kanjeng Mas Hemawati membunuh suaminya yang telah memberikan gelimang harta dan nama harum baginya? Apakah semata karena persoalan cinta? Apakah ia hanyalah kepanjangan tangan dari pihak lain yang bertentangan dengan Sang Raja?

Sekilas tentang Hamengkubuwana V

Hamengkubuwana V dilahirkan pada 24 Januari 1820 dengan nama Raden Mas Gathot Menol atau Pangeran Mangkubumi. Saat berusia 3 tahun, ia dinobatkan sebagai Raja Keraton Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengkubuwana V, tepatnya pada 19 Desember 1823.

Ia dinobatkan sebagai raja saat masih belia karena ayahandanya, Sultan Hamengkubuwana IV, wafat secara misterius. Sebelum mangkat, tubuhnya Sultan Hamengkubuwana IV membengkak.  

Sejarawan G Muedjanto dalam “Kasultanan Yogyakarta & Kadipaten Pakualam: Tinjauan Historis Dua Praja Kejawen” (1994: 18) menduga bahwa ayahanda Raden Mas Menol mangkat akibat diracun.

Karena masih belia, tentu saja kekuasaannya menjadi rentan direcoki oleh banyak pihak dengan berbagai alasan, termasuk pihak Kolonial Belanda. Dengan taktik menyusup dan memecah belah, Sultan Belia itu diturunkan dari singgasananya pada 17 Agustus 1826.

Sebagai penggantinya adalah Sultan Hamengkubuwana II atau Sultan Sepuh yang sebelumnya pernah menjabat sebagai raja pada periode 1792-1810 dan 1811-1812.

Peristiwa pergantian kekuasaan ini tak lepas dari intervensi Hendrik Merkus de Kock. Kita semua tahu bahwa Hendrik Merkus de Kock adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan merupakan tokoh penting dalam Perang Jawa (1825-1830), menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro

Selain karena Hamengkubuwana V masih belum cukup umur, bagi Belanda, Sultan Sepuh II dianggap bisa diajak bekerjasama untuk menarik dukungan rakyat dalam menghadapi perlawanan dari pihak Pangeran Diponegoro.

Dan Taktik tersebut terbukti berhasil memecah belah rakyat Jawa. Namun, dua tahun sebelum Perang Jawa berakhir, Sultan Hamengkubuwana II wafat. Pada 3 Januari 1828, mahkota Keraton Yogyakarta dikembalikan lagi kepada Sultan Hamengkubuwana V.

Dan tentu saja, bayang-bayang atau pengaruh Belanda tetap sangat kuat, apalagi setelah Perang Jawa berakhir dengan kemenangan di pihak Belanda. Tidak mudah bagi Sultan untuk bisa keluar dari campur tangan Belanda.

Di samping itu, Hamengkubuwana V adalah seorang raja yang cenderung bermain aman, artinya tidak berani melawan Belanda. Dengan dalih tidak ingin terjadi pertumpahan darah di pihak rakyat Jawa, maka ia menyetujui berbagai kontrak politik yang cenderung menguntungkan Belanda.

Mungkin ia berpikir akan sia-sia jika melawan Belanda. Oleh karena itu, agar kewibawaannya tetap dipandang oleh rakyat, perhatian Sultan  kemudian beralih ke bidang budaya dan seni. Salah satu buktinya adalah lima kali pagelaran seni (wayang, tari, musik, dll) diselenggarakan secara besar-besaran.

Salah satu peninggalan Sultan Hamengkubuwana V yang patut kita apreasi hingga kini adalah Tari Serimpi sebagai tarian khas Keraton Yogyakarta yang lahir di masa pemerintahannya, dengan berbagai variannya, seperti Serimpi Kandha, Serimpi Renggawati, Serimpi Ringgit Munggeng, dan Serimpi Hadi Wulangun Brangta.

Akan tetapi, cara Sultan Hamengkubuwana memerintah ternyata telah membuat sebagian pihak tidak suka. Hal inilah yang diduga menjadi penyebab lahirnya persekongkolan untuk menumbangkan kekuasaannya.

Berakhir tragis

Menurut catatan Bambang Sularto dalam “KGPA Mangkubumi: Karya dan Pengabdiannya” (1986), pihak yang berseberangan dengan Hamengkubuwana V, ternyata bersumber dari adik kandungnya sendiri yaitu Gusti Raden Mas Mustojo.

Karena terlalu patuh dan dianggap tidak berani menghadapi rongrongan Belanda, munculah persekongkolan untuk mendukung Raden Mas Mustojo agar “merebut” kekuasaan Sultan yang syah. Dukungan itu muncul tidak hanya dari keluarga internal keraton tetapi juga datang dari rakyat.

Hanya saja, tidak diketahui secara pasti bagaimana intrik itu kemudian dirancang dan dilaksanakan. Namun banyak  desas-desus di keraton bahwa intrik dan polemik itu kemudian melibatkan istri sultan, yaitu Kanjeng Mas Hemawati. Dan terjadilah peristiwa berdarah itu.

Walaupun alasan pembunuhan seperti sengaja ditutup-tutupi oleh keluarga keraton, namun beberapa kejanggalan tak berhasil disembunyikan. Salah satu buktinya, sejak peristiwa pembunuhan itu, tiba-tiba keberadaan Kanjeng Mas Hemawati kemudian seperti hilang tertelan bumi.

Selain itu, ada kejanggalan lain yang perlu dicatat. Saat Hamengkubuwana V mengkat, permaisuri yaitu Kanjeng Ratu Sekar Kedaton sedang hamil tua. Menjelang dua minggu, permaisuri Sultan kemudian melahirkan seorang putera dan diberi nama Raden Mas Kanjeng Gusti Timur Muhammad.

Maka, sudah semestinya yang harus naik tahta adalah Raden Mas Kanjeng Gusti Timur Muhammad. Namun dengan alasan masih bayi, pihak yang kemudian naik tahta menjadi Raja adalah Raden Mas Mustojo dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwana VI.

Dan babak selanjutnya, intrik Raden Mas Mustojo alias Hamengkubuwana VI, terlihat lebih kentara. Saat ia wafat pada 20 Juli 1877. Tahta kerajaan seharusnya diserahkan “kembali” kepada Raden Mas Kanjeng Gusti Timur Muhammad.

Namun ternyata yang naik tahta adalah anak dari Hamengkubuwana VI, yakni Gusti Raden Mas Murtejo yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwana VII (1839-1931).

Dan ketika permaisuri Hamengkubuwana V dan Gusti Timur Muhammad menuntut haknya, mereka justru ditangkap dan dibuang ke Manado, Sulawesi Utara, dengan tuduhan telah melakukan pembangkangan.

Dari sini, bisa ditarik benang merah sejarah. Intrik politik berselubung asmara dengan tragedi pembunuhan Hamengkubuwana V, oleh istri selir yang paling ia cintai itu, sepertinya berjalan sesuai rencana.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber