• News

  • Singkap Sejarah

Wanita Jelita Simpanan Raja Jawa, Direbut Anaknya dan Mati Mengenaskan

Gua Sunan Mas, tempat Raden Mas Rahmat menyusun kekuatan dan strategi perlawanan
istimewa
Gua Sunan Mas, tempat Raden Mas Rahmat menyusun kekuatan dan strategi perlawanan

YOGYAKARTA, NETRALNEWS - Perjalanan sejarah elit politik, para penguasa kerajaan di Nusantara itu penuh intrik dan tragedi. Tanpa mengurangi kejayaan dan keharuman yang pernah tertoreh dalam catatan sejarah, bagaimanapun juga, ada catatan kelam yang tidak bisa dipungkiri.

Perseteruan antara anak dan ayah berulangkali terjadi. Tidak hanya dalam perebutan kekuasaan, tetapi ternyata juga dalam hal perebutan wanita idaman. Karena seorang wanita cantik jelita, seorang ayah dan putranya saling mendendam, menghancurkan, dan melakukan tindakan tak terpuji.

Dari sekian banyak catatan kelam itu, raja Mataram di tanah Jawa yaitu Amangkurat I dan Amangkurat II adalah salah satunya. Melalui dua tokoh ini, kita bisa melakukan refleksi tentang bagaimana kekuasaan akan hancur bila dikuasai oleh nafsu harta, nafsu tahta, dan nafsu perempuan tanpa terkendali.

Catatan ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari tulisan berjudul “Nasib Perempuan Selingkuhan Keluarga Raja Jawa, Sungguh Tragis”, yang telah dipublikasikan NNC pada 14 Maret 2019.

Tulisan itu menekankan tentang kisah skandal petualangan cinta Raden Mas Sayidin sebelum naik tahta dan skandal sesudah naik tahta dengan gelar Amangkurat I (memerintah tahun 1646-1677 Masehi).

Sementara dalam tulisan ini, lebih menekankan pada kisah perseteruannya dengan anak kandungnya sendiri yang sekaligus menjadi putra mahkota yang akan mewarisi kekuasaan Amangkurat I.

Mengapa seorang ayah bisa berseteru dengan anak kandungnya sendiri? Dan perseteruan itu disebabkan oleh perebutan seorang wanita? Siapa yang diuntungkan dengan perseteruan konyol ini?

Amangkurat I adalah pewaris tahta Sultan Agung Hanyakrakusuma yang terkenal ganas dan berulangkali ingin mengusir VOC dari tanah Jawa (Batavia). Terlepas dari kekejaman dan kegagalannya mengusir VOC, cita-cita Sultan Agung jauh lebih mulia.

Raden Mas Sayidin, putra mahkota yang mewarisi tahta Sultan Agung dengan gelar Amangkurat I, ternyata tidak mewarisi sifat dan sikap Sultan Agung. Raja Amangkurat I cenderung dianggap lemah ketika berhadapan dengan kekuatan VOC Belanda.

Bernard Hubertus Maria Vlekke dalam bukunya yang berjudul Nusantara: Sejarah Indonesia (2008) mencatat, “Meneruskan perang sudah tidak ada gunanya.” Oleh sebab itu, begitu naik tahta, Amangkurat  I justru cenderung melakukan kerjasama dengan pihak VOC.

Kerjasama dengan VOC memang membuat Amangkurat I bisa memperoleh banyak kenikmatan. Ia bisa memperoleh banyak senjata, berlian, dan kekayaan lain dari VOC.  Ia seolah tidak sadar, banyak kekayaan alam dan hasil bumi seperti kayu dan beras, berhasil dikuras oleh VOC.

Singkat kata, kekayaan yang diperoleh Amangkurat I membuat hidupnya tak jauh dari masalah kenikmatan duniawi dengan memiliki banyak perempuan. Selain permaisuri yaitu Ratu Kulon, putri Pangeran Pekik, Amangkurat I juga memiliki tak kurang 40 selir.

Sebelum naik tahta, Amangkurat I sudah dikenal sebagai putra mahkota yang telah membawa lari istri orang lain. Dan setelah berkuasa, ia juga pernah berusaha merebut Ratu Malang dari suaminya yang sah secara keji.

Dengan satu permaisuri dan selir puluhan jumlahnya, nafsu mengauli perempuan cantik belum terpuaskan. Suatu ketika, setelah kasus kematian Ratu Malang, Amangkurat I berjumpa dengan seorang dara jelita dari Surabaya yang bernama Rara Oyi.

Ayah Rara Oyi yang bernama Ki Mangunjaya mengijinkan anaknya untuk dijadikan selir raja. Hanya saja, perempuan jelita itu belum dinyatakan dewasa (mungkin yang dimaksud adalah belum mengalami haid).

Oleh sebab itu, Raja Amangkurat I menitipkan perempuan itu kepada seorang punggawa yaitu Tumenggung Wirareja, tulis Hermanus Johannes de Graaf, dalam Runtuhnya Istana Mataram (1987).

Dengan demikian, Rara Oyi dinyatakan sebagai perempuan simpanan Raja Amangkurat I. Saat menginjak dewasa, Rara Oyi akan dipetik.

Namun tak diduga dan tidak dinyana, putra mahkota atau anak kandung Amangkurat I yang bernama Raden Mas Rahmat (di kemudian hari mewarisi tahta Mataram dengan gelar Amangkurat II),  bertemu Rara Oyi. Kecantikan Rara Oyi membuat putra mahkota mabuk kepayang.  

Dan terjadilah upaya bagaimana ia ingin merebut hati Rara Oyi. Sang Putra Mahkota ternyata mendapat dukungan kakeknya, yaitu Pangeran Pekik. Rara Oyi yang seharusnya akan menjadi selir Amangkurat I, ternyata diperistri Raden Mas Rahmat.

Mendengar perempuan simpanannya ternyata diperistri oleh anak kandungnya sendiri, Amangkurat I marah besar. Ia memerintahkan untuk menghukum mati Pangeran Pekik, mertuanya sendiri.

Bahkan tidak tanggung-tanggung kejamnya. Hukuman bukan hanya diberikan kepada mertuanya seorang diri, tetapi semua anggota keluarganya juga dihukum mati.

Masih belum puas dengan kekecewaannya, Raja Amangkurat I kemudian memanggil Raden Rahmat, putra mahkotanya yang telah merebut perempuan simpanannya. Amangkurat I tidak ikhlas melihat Rara Oyi hidup bahagia bersama anak kandungnya.

Amangkurat I memerintah Raden Mas Rahmat untuk menghabisi Rara Oyi. Dan tindakan itu menjadi bukti kesetiaannya kepada ayahnya sebagai raja Mataram.

Seolah tak ada pilihan dan tak ada hal lain yang bisa melawan perintah ayahandanya, selain melaksanakan perintah itu. Walaupun hatinya sakit, namun karena nafsu untuk mendapatkan pengampunan dan tetap mengharap tahta jatuh ke tangannya jauh lebih kuat, ia pun melaksanakan perintah itu.

Di hadapan ayahandanya, Raden Mas Rahmat menghunjamkan kerisnya ke tubuh Rara Oyi yang kemudian tumbang bermandikan darah dan tewas. Raden Mas Rahmat menggigit bebirnya menahan sakit hati sementara di lubuk hatinya lahir perasaan dendam.

Bibit perseteruan seorang anak dengan ayah kandungnya dimulai. Hal inilah yang kemudian melahirkan kisah bagaimana anak memberontak pemerintahan ayahandanya.

Sekitar 1670, Raden Mas Rahmat bertemu dengan bangsawan Madura yaitu Raden Kajoran dan Trunajaya. Pada mulanya, mereka bersekongkol untuk menumbangkan kekuasaan Amangkurat I.

Namun dalam perjalanannya, persekongkolan itu pecah. Raden Mas Rahmat tak mampu mengendalikan Trunajaya yang semakin kuat karena bekerjasama dengan  Karaeng Galesong dari Makasar, dan berhasil memukul mundur pasukan Amangkurat I.

Pada 28 Juni 1677, pusat pertahanan kerajaan Mataram di Plered bobol akibat gempuran tersebut. Raden Mas Rahmat tampil dan berusaha mengendalikan Trunajaya namun gagal. Ia akhirnya berbalik dan membantu ayahandanya walau sia-sia.

Raja Amangkurat I terpaksa melarikan diri karena tak mampu membendung serangan pasukan Trunajaya. Dalam pelarian yang diliputi hati kecewa dan lelah, Raja Amangkurat I akhirnya meninggal. Ia dimakamkan di Tegalarum (kini menjadi wilayah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah) pada 1677.

Sebelum meninggal, ia sempat membuat wasiat agar Raden Mas Rahmat, putra mahkotanya melanjutkan pemerintahannya. Pesan berikutnya, Raden Mas Rahmat diminta bekerjasama dengan VOC untuk menghancurkan pemberontakan Trunajaya.

Raden Mas Rahmat kemudian naik tahta dengan gelar Amangkurat II. Perseteruan antara anak dan ayah kandung pun berakhir sementara Rara Oyi yang bernasib tragis, seolah hanya menjadi tumbal sejarah kekuasaan raja Jawa.

Editor : Taat Ujianto