• News

  • Singkap Sejarah

Tragedi di Tanah Jawa, Raja Digulingkan Anaknya Karena Dianggap ‘Kafir’?

Masjid Agung Demak tempo dulu
tropenmuseum
Masjid Agung Demak tempo dulu

DEMAK, NETRALNEWS - Dalam sejarah Nusantara, kisah tentang perpecahan kerajaan akibat perebutan kekuasaan antara anak dengan ayahandanya bukanlah hal asing.

Dari sekian banyak tragedi anak memerangi ayah kandungnya, salah satunya adalah kisah tragis di balik penyerangan kerajaan Majapahit oleh pasukan Demak sekitar tahun 1518 M.

Dalam catatan Antonio Pigafetta,  disebutkan bahwa sekitar 1521 M, Pati Unus adalah raja Majapahit yang sangat berkuasa ketika masih hidup. Dan seperti kita ketahui, Pati Unus adalah salah satu putra Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak.

Sementara dalam kajian Moh Yamin, Majapahit runtuh sekitar tahun 1522 M dan tujuh tahun kemudian atau pada 1528 M,  pusat politik Kerajaan Majapahit sudah tidak ada lagi.

Mengapa? Pati Unus wafat pada 1522 M. Jadi benar bila Pigafetta menulis “ketika rajanya (Pati Unus) masih hidup.” Dan sesudah itu, Majapahit runtuh karena pusat pemerintahan berpindah ke Kerajaan Demak di pesisir Utara Jawa Tengah.

Lalu apa hubungannya dengan pernyataan anak menyerang  ayahandanya?

Dalam Carita Purwaka Caruban Nagari yang ditulis Pangeran Arya Carbon sekitar 1720 M, disebutkan bahwa Raden Patah (kadang ditulis Raden Fatah), Sultan Demak I, adalah putra Prabhu Brawijaya Kretabhumi, Raja Majapahit (yang terakhir berkuasa).

Sementara dalam Serat  Darmagandul menyebutkan bahwa ketika Majapahit diserbu tentara Demak, Prabhu Brawijaya dengan pengiring-pengiringnya dapat meloloskan diri dan meninggalkan Majapahit.  

Saat rombongan sampai di Blambangan, konon mereka diislamkan oleh Sunan Kalijaga (Pupuh VIII-X)

Sedikit berbeda dengan yang  tertulis di Serat Darmagandul, bila kita baca Serat Kanda dikatakan bahwa Majapahit terdesak oleh serangan pasukan Demak. Prabhu Brawijaya dan keluargannya mengungsi ke Sengguruh.

Saat di Sengguruh, pasukan Demak kembali menyerang rombongan Prabhu Brawijaya karena ia menolak tawaran untuk masuk Islam. Ia dengan keluarga dan pengikutnya kemudian melarikan diri ke Pulau Bali (Par2: 229-230)

Lalu dalam Babad Tanah Jawi, mengenai keruntuhan Majapahit  mengemukakan bahwa ketika tentara Demak mengepung Majapahit, Prabhu Brawijaya melihat  putranya memimpin tentara Demak. Ia kemudian “merad” bersama-sama pengiringnya.

Pertanyaannya, mengapa seorang anak tega menyerang ayahandanya? Demi tahta kerajaan semata? Karena ingin menumbangkan kerajaan ayahandanya yang beraliran agama Hindu? Karena ayahnya dianggap sebagai “kafir”?     

Sebelum Prabhu Brawijaya memerintah Majapahit, kita ketahui bahwa telah terjadi perang saudara (1404-1406) antara kubu Wikramawardhana dengan Bre Wirabhumi. Mereka sama-sama mengaku sebagai penerus syah mendiang Raja Hayam Wuruk.

Sayangnya, perang tersebut masih terus berlanjut dan berlarut-larut. Selain mengakibatkan kemunduran bagi Majapahit, juga mengakibatkan ketidakmenentuan tentang siapa sebenarnya yang paling berkuasa di tanah Jawa.

Menyitir kajian Hasan Djafar dalam Masa Akhir Majapahit (2009: 123), Demak menyerang Majapahit pasti didasari oleh kondisi latar belakang politik yang sedang berlangsung di masa itu, sementara Raden Patah merasa berhak atas tahta Kerajaan Majapahit.

Akan tetapi, tak bisa dipungkiri juga bahwa berkembangnya Islam sedang menunjukkan kecenderungan baru. Islam semakin berjaya dan menggeser sistem kepercayaan Hindu-Budha.

Hal itu bisa dikatakan sebagai faktor kedua yang mendorong Demak menaklukkan Majapahit. Motif “perang sabil” yang dilancarkan Demak dihayati sebagai semacam perang terhadap pihak yang dianggap “kafir”.

Kerajaan Demak yang sendi-sendi kehidupan dan sistem pemerintahan sudah menggunakan cara Islam ingin melebarkan sayap kekuasaannya. Sementara sebagian tanah Jawa masih dikuasai Majapahit yang masih tetap bercorak Hindu-Budha.

Benturan tak bisa dihindari. Dalam pertempuran ini, Raden Patah dipastikan pernah mengalami dilematis. Bagaimanapun juga, seorang anak pasti memiliki hubungan psikologis dengan ayahandanya.

Namun, visi membangun pemerintahan kasultanan di tanah Jawa, jauh lebih menggelora. Di samping itu, peran para Wali yang mendampingi Raden Patah juga sangat penting.

Para Wali selalu meyakinkan Raden Patah bahwa ia tidak boleh ragu untuk menumbangkan kekuasaan ayahandanya.

Zaman dan peradaban baru telah lahir menggantikan sistem peradaban lama yang mungkin dianggap sudah usang. Dengan keruntuhan Majapahit, kerajaan-kerajaan yang bermunculan di era selanjutnya (hingga abad ke-19) selalu menggunakan “kemasan” agama Islam.

Dan untuk direnungkan kita semua, apakah model sejarah seperti ini akan kembali diulang di masa mendatang? Mungkin dengan cara-cara berbeda?

Editor : Taat Ujianto