• News

  • Singkap Sejarah

Sejarah Gelap Raja Jawa: Membantai Ribuan Ulama Hingga Gemar Main Perempuan

Makam Amangkurat I di Tegalwangi, Kabupaten Tegal
tegalkab.go.id
Makam Amangkurat I di Tegalwangi, Kabupaten Tegal

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ada berbagai catatan hitam tentang perilaku raja-raja Jawa baik di era Hindu-Budha maupun di zaman Kerajaan bercorak Islam. Kali ini kita akan menengok dua sisi gelap yang dilakukan oleh Raja Mataram Islam yang bergelar Amangkurat I.

Sebelum naik tahta, namanya adalah Raden Mas Sayidin. Ia naik tahta menggantikan ayahandanya yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo ketika berusia sekitar 26 tahun. Dan pemerintahan Amangkurat I berlangsung antara tahun 1613 hingga 1645 Masehi.

Selama sekitar 32 tahun memerintah Mataram, tercatat beberapa skandal dan peristiwa tragis sebagai akibat kebijakan yang ia keluarkan. Dua kontroversi itu berupa kegemarannya terhadap perempuan dan kasus pembunuhan terhadap ribuan ulama Jawa.

Gemar Main Perempuan

Sifat buruk Amangkurat I sudah terlihat sejak ia belum menduduki tahta kerajaan. Sejak kecil, Amangkurat I sudah dikenal “beringas dan kuat” tulis Rijklof van Goens seperti dikutip oleh HJ De Graaf dalam buku Puncak Kekuasaan Mataram, Politik Ekspansi Sultan Agung (2002).

Sejak belia, ia sudah berani berpetualang menggoda perempuan di sekitar keraton. Dan korban pertamanya adalah istri Tumenggung Wiraguna. Peristiwa itu terjadi pada 1637, yaitu ketika Raden Mas Sayidin  masih berusia sekitar 18 tahun.

Karena tak kuasa menahan hasrat dan gairahnya, Raden Mas Sayidin merebut dan membawa lari Istri Tumenggung Wiraguna. Walaupun ia adalah putra mahkota, ia tetap saja tidak boleh bertindak semaunya dan merendahkan harga diri orang lain.

Singkat kata, Tumenggung Wiraguna mengadukan perzinahan itu ke ayahandanya yaitu Sultan Agung. Mendengar laporan itu, Sultan Agung marah. Sultan Agung mengeluarkan hukuman agar putra mahkotanya menentukan jenis hukumannya sendiri.

Di hadapan ayahandanya, Raden Mas Sayidin menyatakan akan meninggalkan keraton untuk selama-lamanya. Ia menyatakan akan mendalami ilmu agama. Ia juga memutuskan untuk mengembalikan perempuan yang ia bawa lari kepada suaminya yaitu Tumenggung Wiraguna.

Namun, begitu pengadilan selesai, Tumenggung Wiraguna kalap. Begitu melihat istrinya yang dibawa lari itu diserahkan kembali, ia menarik kerisnya dan menikam istrinya berulangkali. Perempuan itu roboh bersimbah darah dan mati seketika itu juga.

Tahun berganti tahun. Sebelum Sultan Agung wafat, ia memanggil Raden Mas Sayidin yang telah meninggalkan istana untuk datang kembali dan menghadap raja. Ternyata, Sultan Agung tetap menyerahkan tahta kerajaan kepada anaknya tersebut.

Dan setelah menjadi raja Mataram, perilaku Amangkurat I tidak berubah. Ia tetap gemar main perempun baik itu istri orang lain maupun menjadikan perempuan tertentu sebagai istri simpanan.

Dan kurban berikutnya adalah seorang anak dalang wayang yang dikenal dengan nama Ratu Malang. Untuk merebut perempuan itu, Amangkurat memerintahkan punggawanya membunuh suaminya.

Namun ternyata, Sang Ratu sangat setia dan mencintai suaminya. Sepeninggal suaminya, ia pun mengalami sakit payah dan ikut meninggal, menyusul suaminya.

Mendengar berita kematian Ratu Malang, Amangkurat I marah. Ia menuduh para selir kerajaan sengaja mengutus dayang-dayang meracuni Ratu Malang karena cemburu kepadanya.

Maka, Amangkurat I mengukum mati 43 orang selir dan dayang, dengan cara mengasingkan mereka tanpa diberi makan.

Dan skandal ketiga adalah skandal yang terjadi karena ia berebut perempuan dengan anaknya sendiri yaitu Raden Mas Rahmat (Amangkurat II). Perempuan itu bernama bernama Rara Oyi, putra Ki Mangunjaya, yang terkenal jelita. Hanya saja usianya masih belia (belum haid).

Setelah Ki Mangunjaya mengijinkan anaknya dijadikan selir, Rara Oyi dititipkan kepada Tumenggung Wirareja. Namun, tak disangka, Raden Mas Rahmat berjumpa dengan Rara Oyi dan langsung jatuh hati kepadanya.  

Roro Oyi kemudian dinikahi Raden Mas Rahmat. Ternyata, tindakan itu membuat Amangkurat I marah besar. Walaupun Raden Mas Rahmat adalah putranya sendiri, Amangkurat I tidak terima.

Amangkurat menuntut anaknya memilih. Jika ia memang masih mau setia kepada ayahnya sebagai Raja Mataram (ayahnya), maka Raden Mas Rahmat harus menghabisi Rara Oyi di hadapan ayahnya.

Ternyata, Raden Mas Rahmat memilih kekuasaan. Di hadapan ayahandanya, Raden Mas Rahmat menghunjamkan kerisnya ke tubuh Rara Oyi yang kemudian tumbang bermandikan darah dan tewas.

Membantai Ribuan Ulama

Kontroversi berikutnya adalah mengenai keputusan Amangkurat I membantai sekitar 6.000 ulama Jawa atas tuduhan telah melakukan pembangkangan. Mereka dituduh telah membantu Pangeran Alit, adiknya sendiri, yang berusaha menjatuhkan kekuasaannya.

Pangeran Alit sempat berusaha menyerang dan merebut istana Mataram di Plered namun dapat digagalkan. Pangeran Alit pun terwas terbunuh.

Walaupun serangan gagal dan adiknya sudah terbunuh, Amangkurat I masih merasa belum puas. Perilakunya yang beringas kembali kambuh. Tepat bila Merle C. Ricklefs dalam War, Culture, and Economy in Java 1677-1726 (1993) menyebutnya sebagai raja suka “menuntut dan membantai”.

Di hari yang telah ditentukan, Amangkurat I memanggil empat orang anak buah kepercayaannya yaitu Pangeran Aria, Tumenggung Nataairnawa, Tumenggung Suranata, dan Ngabehi Wirapatra.

Mereka diperintahkan untuk melakukan penyelidikan siapa saja yang terlibat mendukung upaya pemberontakan yang dilakukan Pangeran Alit. Seluruh pemuka agama dan keluarganya harus dicatat dan diselidiki.

Dengan cara ini, Amangkurat I dapat melakukan pembasmian kepada semua pihak yang dianggap musuh dengan sekali pukul.

Seperti telah ditulis Rijcklofs van Goen, dalam De vijf gezantschapsreizen naar het hof van Mataram, 1648-1654 (1956), di suatu siang pada tahun 1648, sekitar 6.000 ulama dan keluarganya yang dikumpulkan di alun-alun dibunuh secara keji hanya dalam tempo sekitar 30 menit.

Para ulama itu diberondong dengan tembakan tanpa ada perlawanan. Dalam catatan Rijklofs van Goens seperti dikutip HJ de Graaf menggambarkan: “Belum setengah jam berlalu setelah terdengar bunyi tembakan, 5 sampai 6 ribu jiwa dibasmi dengan cara yang mengerikan.”

Lucunya, sehari setelah pembantaian itu, ia tampil di hadapan rakyatnya dengan berlagak seolah peristiwa keji itu terjadi bukan karena kehendaknya. Ia marah dan seolah terkejut mendengar laporan telah terjadi pembantaian para ulama.

Di sisi lain, ia menyatakan bahwa para ulama dinyatakan bersalah atas kematian adiknya, Pangeran Alit. Sehingga mereka harus diberikan hukuman yang setimpal.

Amangkurat I selanjutnya memerintahkan agar delapan pembesar yang juga dinyatakan terlibat dengan kematian Pangeran Alit juga dihukum berat. Di bawah tekanannya, para pembesar itu dipaksa mengakui telah bersekongkol ingin melengserkan Amangkurat I dari tahtanya yang syah.

Tak ada pilihan lain bagi kedelapan pejabat itu selain mengaku. Dan tentu saja, mereka juga dihukum mati, menyusul para ulama yang telah mati sehari sebelumnya.

Demikianlah penggalan sisi gelap kehidupan raja Jawa di Kerajaan Mataram Islam. Amangkurat I memang sangat berbeda dengan ayahnya, Sultan Agung Hanyokrokusumo yang sangat disegani oleh pasukan kompeni di Batavia.

Seumur hidupnya, Amangkurat I tak pernah mengangkat senjata melawan kompeni. Namun yang ia tindas adalah rakyatnya sendiri.

Editor : Taat Ujianto