• News

  • Singkap Sejarah

Peringatan Seorang Pastor Katolik: Presiden Telah Dikentutin Partai Jahiliyah

Pater Beek, SJ pendiri CSIS
istimewa
Pater Beek, SJ pendiri CSIS

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Seorang yang mengaku berinisial Dadap Waru, menulis surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Soekarno. Surat itu ditulis di Jakarta pada 5 November 1965.

“Bung Karno, Revolusi Indonesia, dan seluruh bangsa serta negara telah secara besar-besaran dibohongi, ditipu, dikentutin, dan dikhianati oleh Partai Komunis Indonesia, partai JAHILIYAH MODERN (huruf kapital seperti aslinya, red),” demikian salah satu petikan surat itu.

Belakangan baru diketahui, sosok Dadap Waru itu tak lain dan tak bukan adalah seorang pastor atau pemimpin umat Katolik yang bernama Josephus Gerardus Beek atau biasa dikenal dengan sebutan Pater Beek.

Surat tersebut ditulis sebagai salah satu bentuk kepedulian dan kekhawatirannya terhadap situasi kekacauan Indonesia setelah terjadinya operasi penculikan sejumlah jenderal angkatan darat yang dilakukan oleh gerombolan yang menamakan dirinya Gerakan 30 September (G30S).

Dalam biografi berjudul Pater Beek SJ, Larut tetapi Tidak Hanyut (2008: 177), JB Soedarminta menuliskan “Pater Beek yang pada dasarnya tidak anti-Soekarno merasa perlu untuk mengingatkan Presiden Soekarno” dari rongrongan kelompok komunis.

Lelaki yang sepanjang hidupnya tidak menikah (sesuai aturan gereja, pastor harus selibat) itu, sebenarnya bukan warga kelahiran Indonesia. Pater Beek berdarah Belanda dan lahir di Amsterdam pada 12 Maret 1917.

Namun demikian, Pater Beek memiliki ikatan batin yang sangat mendalam dengan rakyat Indonesia.

Pater Beek menghabiskan masa kecilnya di Belanda. Pada usia 18 tahun, dia menyatakan diri bergabung dengan ordo Serikat Yesus (SJ) sebagai calon imam. Ia dikirim sebagai misionaris ke tanah Jawa pada tahun 1935.

Ketika meletus Perang Dunia II, ia sempat ditahan oleh pasukan Jepang, Selama empat tahun, ia lolos dari lubang jarum kekejaman penjajahan Jepang setelah berpindah-pindah kamp interniran, seperti layaknya orang Belanda lainnya.

Kamp interniran yang pernah ia huni antara lain di di Kesilir, Banyuwangi (1943), kamp Banyubiru, Semarang (1944), kamp Cikudapateuh, Bandung (1945), dan terakhir di kamp Pundong, Bantul (1946).

Pascakekalahan Japang, Pater Beek kembali menyelesaikan pendidikan calon imam Katoliknya di jurusan teologi Maastricth, Belanda. Dan pada bulan Desember 1948, ia ditahbiskan sebagai seorang Pastor atau imam Katolik.

Pater Beek kembali berkarya di tanah Jawa pada tahun 1952. Mulanya ia dikaryakan di sekolah pendidikan calon imam Katolik (Seminari) Menengah Kanisius di Jl. Code 2, Yogyakarta. Setahun kemudian ia membangun sebuah asrama untuk mahasiswa, bernama Asrama Mahasiswa Realino.

Asrama itu banyak dihuni mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Mereka bukan hanya dari kalangan Katholik tetapi juga ada yang berasal dari kalangan agama lain.

Bersama mahasiswa, Pater Beek membangun kelompok diskusi, membahas pentingnya berorganisasi, melatih kemampuan bicara di hadapan publik, dan sebagainya. Dari sinilah gagasan “pengkaderan” tumbuh yang kelak ikut menentukan karir dan kiprah Pater Beek.

Hingga akhir hidupnya di 66 (wafat pada 17 September 1983), Pater Beek mencurahkan tenaga dan pikirannya bagi segala hal yang ia anggap terbaik bagi bangsa Indonesia, gereja, dan dunia.

Ia yang terbiasa hidup disiplin keras menyerupai militer sesuai didikan Ordo Yesuit, ikut menjadi tokoh penting dalam membendung dan membasmi paham komunisme di dunia, khususnya di Indonesia. Dan tentu saja, semua dijalankan secara tidak terang-terangan.

Walaupun ia seorang rohaniwan yang berkewarganegaraan asing, Pater Beek berhasil menjaga keseimbangan antara tugas gereja dan kewajibannya sebagai warga sipil. Sesuai aturan gereja, seorang pastor atau imam dilarang berpolitik praktis.

Maka, Pater Beek lebih banyak mencurahkan karyanya melalui gagasan dan pemikiran untuk bisa digunakan oleh orang lain yang memiliki jabatan publik atau memiliki kekuasaan.

Hal ini tercermin ketika ia menjadi salah satu tokoh penting dalam berdirinya lembaga CSIS (Center for Strategic and International Studies) pada 1 September 1971. Melalui lembaga ini, Pater Beek berhasil mengarahkan organisasi untuk ikut menentukan kebijakan-kebijakan Orde Baru.

Salah satu peran penting bagi Orde Baru adalah keterlibatannya dalam menghadapi kelompok komunis. Kiprah dalam upaya membendung komunisme tercermin dalam surat terbuka yang bernada cukup keras mengritik Presiden Soekarno agar bertindak tegas terhadap PKI.

“Satu bulan telah berlalu semenjak dimakamkan para Pahlawan Revolusi, Para Kesuma Bangsa, dengan iringan tangis rakyat Indonesia dan ketetapan hati seluruh bangsa untuk menumpas kaum kontra-revolusi, musuh revolusi Indonesia, sampai ke akar-akarnya,” tulis Pater Beek di awal suratnya.

Pater Beek menyebut dirinya, “Sebagai orang yang ingin dan berusaha mati-matian untuk menjadi murid yang baik dari Bung Karno, Pemimpin Besar Revolusi,” maka ia mengajukan hasil analisa segala sesuatu tentang “30 September”.

Pater Beek mengungkit kelakuan-kelakuan PKI yang tercermin dalam Resolusi PKI berjudul “Jalan Baru untuk Republik Indonesia” atau “Rekoreksi Musso” yang dirumuskan pada konferensi PKI tahun 1948.

Pater Beek juga mendasarkan analisa pada hasil-hasil kongres V PKI tahun 1945, Kongres VI tahun 1959, dan kongres VII tahun 1963, baik tersurat maupun tersirat.

Dengan dasar itulah, Si Dadap Waru  mengingatkan Presiden Soekarno bahwa “Kita sudah terlampau banyak di masa silam ‘memberi angin’ dan ‘turut membesarkan dan mendewakan’ Partai Komunis Indonesia. Dan celakanya, membawa mereka dengan hati yang jujur dan tulus ikhlas ‘turut memimpin revolusi’.”

Dengan sebulan tanpa ketegasan Presiden Soekarno, Pater Beek atau Si Dadap Waru menganggap bahwa “sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, memberikan kesempatan lagi dalam bentuk ‘adem pauze’ (istirahat untuk bernafas) kepada mereka untuk menyelamatkan diri dan mengadakan atau mengubah taktik dan strategi baru.”

Pater Beek menganggap PKI adalah “tikus-tikus yang menyolong kue di dalam rumah kita.” Dan kritikan keras kembali ditorehkan Pater Beek kepada Soekarno, “Kenapa masih tetap ‘bureng dalam pandangan’ serta ‘horende doof  en yiende blind’ (mendengar tapi tuli, melihat tapi buta).”

Sebagai rohaniwan, Pater Beek juga mengajak Soekarno untuk ingat bahwa kelak setelah mati, kita akan diadili oleh Tuhan atas apa yang kita lakukan di dunia. Dan apa yang harus dilakukan sudah tercermin dalam Pancasila. Jangan sampai Indonesia jatuh ke arah berbeda (komunis).

Pater Beek mengingatkan, “Apakah Bung Karno tidak selalu senantiasa memupuk kekuasaan diri sendiri menuju ke ‘kultus perorangan’ dan mungkin merelakan/merestui digenjotnya ‘Dewan Jenderal’ yang tidak ada sehingga mengakibatkan gugurnya jenderal-jenderal.”

Pater Beek mempertanyakan apakah Bung Karno tetap memegang pendirian yang teguh terhadap PKI dengan semboyan “Dudu sanak, dudu kadang, yen mati, aku melu kelangan” (bukan famili, bukan keluarga, kalau matu, saya turut kehilangan)?

Di akhir suratnya, Pater Beek yang tentu didukung oleh banyak mahasiswa yang selama bertahun-tahun ia bina, berseru meminta jawaban kepada Soekarno. “Kami dan seluruh rakyat menunggu jawaban, dan semoga Bung Karno dalam keadaan sehat-walafiat.”

Bulan-bulan berikutnya, di seluruh Indonesia diwarnai pergolakan. Kebencian terhadap PKI semakin memuncak apalagi hoaks tentang Gerwani menari telanjang memotong kemaluan para jenderal disebar begitu massif.

TNI AD di bawah RPKAD kemudian memantik benturan secara langsung sehingga masyarakat bergerak sendiri-sendiri, secara kelompok, maupun diorganisir langsung oleh anggota TNI AD.

Banjir darah dan tindakan tidak manusiawi terjadi di mana-mana. Semua yang dianggap terlibat PKI ditangkap, disiksa, dianiaya, dilecehkan, dan ratusan ribu orang dibunuh tanpa proses pengadilan, sementara lainnya dipenjara dan dibuang ke Pulau Buru.

Tahun 1965 dan beberapa tahun kemudian adalah babak kelam sejarah Indonesia. Antar anak bangsa saling menikam karena perbedaan paham politik dan anggapan kebenaran “kalau tidak membunuh, maka akan dibunuh”.

Dalam pusaran itulah Pater Beek, SJ, seorang rohaniwan Katolik tidak bisa menghindar. Ia bukanlah manusia sempurna yang mampu mencegah tindakan yang oleh banyak pihak disebut sebagai "genosida politik" yang mengakibatkan pembasmian sekelompok manusia Indonesia.

Pembasmian paham dan kelompok komunis telah mencederai perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dan Pater Beek berdiri di antara itu semua.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?