• News

  • Singkap Sejarah

Babi Bisa Menyelamatkan Bencana di Nusantara? Inilah Sejarahnya!

Perburuan babi hutan dan harimau di Lampung pada tahun 1939
Nationaal Archief / Spaarnestad Photo
Perburuan babi hutan dan harimau di Lampung pada tahun 1939

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dalam kehidupan masyarakat Nusantara, keberadaan babi di satu sisi dianggap sebagai hama perusak pertanian. Oleh sebab itu, banyak penduduk yang berburu babi bukan untuk dikonsumsi namun untuk dimusnahkan.

Daging babi juga dianggap sebagai salah satu jenis yang dilarang untuk dikonsumsi (haram), khususnya bagi umat Islam. Namun di sisi lain, sebagian masyarakat membudidayakannya sebagai salah satu sumber asupan makanan yang kaya nutrisi.

Kecenderungan tersebut sebenarnya sudah berlangsung sejak dahulu kala. Dari berbagai sumber sejarah, menunjukkan bukti bahwa hewan yang satu ini dikonsumsi oleh masyarakat asli Nusantara, pendatang dari Tiongkok, orang Belanda, bahkan hingga para raja.

Dan ada kecenderungan yang unik. Walaupun daging babi diharamkan dalam ajaran Islam, namun ada satu kondisi dimana daging babi diperbolehkan untuk dikonsumsi, yaitu saat terjadi situasi darurat.

Kaidah yang mengaturnya di antaranya adalah kaidah Adh-Dharurat Tubihu Al-Mahzhurat, artinya “dalam kondisi darurat, hal-hal yang terlarang dibolehkan”.

Bila terjadi bencana sehingga manusia benar-benar mengalami kesulitan sehingga tidak memiliki banyak pilihan untuk bisa mempertahankan hidup sementara terdapat daging babi di sekitarnya, maka hukumnya adalah diperbolehkan.

Situasi darurat, salah satunya tercermin dalam cerita rakyat Sulawesi Tengah. Dahulu kala, sekitar abad ke-16, di daerah Poso, terdapat kerajaan kuno bernama Kerajaan Mori. Rajanya bernama Raja Mori Marunduh.

Sebelum daerah Sulawesi jatuh dalam genggaman tentara Kompeni Belanda, Raja Mori Marunduh mengibarkan perang untuk melawan dan mengusir pasukan Kompeni.

Bersama rakyat dan pasukannya, Raja Mori membangun daerah pertahanan dengan mendirikan permukiman di daerah Ranoitole. Selain menggalang persenjataan, raja juga memerintahkan mengumpulkan bahan makanan.

Jenis makanan yang sangat membantu rakyat dan pasukan Kerajaan Mori adalah daging babi. Babi-babi yang dipotong digunakan sebagai persediaan makanan dari ancaman bencana kelaparan akibat peperangan yang terjadi di kala itu.

Berbeda lagi dengan catatan sejarah bangsa Eropa. Dalam catatan harian Antonio Pigafetta penjelajah Venesia sekitar tahun 1524,  binatang babi dianggap binatang yang menjijikkan oleh para Raja Tidore.

Ketika Fernando de Magelhaens mendarat di Tidore dan menghadap raja, ia diminta membunuh babi-babi yang ia bawa dalam kapalnya. Dan raja akan menggantinya dengan kambing dan ayam. Dan permintaan itu diturutinya.

"Kalau orang-orang itu kebetulan melihat babi mereka menutup muka agar tak melihat atau mencium baunya," tulis Pigafetta seperti dikutip Anthony Reid dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid 2 (2011).

Rupanya, larangan mengonsumsi daging babi karena dianggap sebagai salah satu makanan yang diharamkan sudah menjangkiti sebagian masyarakat Nusantara, khususnya di Tidore. Sementara di daerah lain, daging babi masih dikonsumsi sesuai tradisi di masa-masa sebelumnya.

Di era prasejarah, manusia purba dipastikan sudah terbiasa mengonsumsi daging babi. Hal ini dapat kita lihat fosil-fosil yang ditemukan di Sangiran yang berusia tak kurang dari 780.000 tahun lalu.

Selain itu, juga bisa dilihat dari lukisan-lukisan dinding di gua-gua di Maros, Sulawesi Selatan. Babi rusa jelas dilukis oleh manusia purba sebagai salah satu hewan yang diburu dan dikonsumsi.

Bukti lainnya yang sangat jelas terdapat dalam relief-relief di Candi Borobudur, di antaranya pada bagian relief Karmawibhangga. Diperkirakan, di masa Mataram Kuno, babi (celeng) adalah salah satu hewan  peliharaan dan sengaja diternakkan selain kerbau dan ayam.

Daging babi cenderung lebih dipilih menjadi sumber makanan yang dikonsumsi dibanding kerbau. Sebab, kerbau peliharaan bisa digunakan sebagai hewan pembajak sawah.

Dan di masa itu, sudah ada pasar yang bisa menjualbelikan daging-daging eceran maupun hewan-hewan ternak masih hidup yang diperlukan kawula kerajaan.

Dalam kajian Titi Surti Nastiti berjudul Pasar di Jawa Masa Mataram Kuno Abad VIII-XI Masehi, di masa Mataram Kuno, sudah ada profesi penjagal atau pemotong hewan yang disebut hajagal.

Dan sama halnya di zaman sekarang, rakyat jelata yang membeli daging di pasar, biasanya karena akan merayakan hari raya atau upacara tertentu. Daging adalah jenis makanan mewah yang hanya dinikmati pada waktu-waktu tertentu saja.

Bahkan, daging babi juga dijajakan ketika ada pertunjukkan seperti dikisahkan Titi Surti Nastiti dalam kajiannya yang berjudul Kedudukan dan Peranan Perempuan Dalam Masyarakat Jawa Kuna, Abad VIII-XV Masehi (2009: 202).

Titi Surti Nastiti mengutip isi teks Sumanasāntaka pupuh 113. Isi teks kuno itu melukiskan suasana pesta pernikahan yang diramaikan dengan pertunjukan wayang wang (wayang orang) dan banyak penjaja makanan di sekitar panggung.

“Orang-orang desa yang diikuti temannya, memamerkan kekasihnya memakai perhiasan emas, bergembira membeli daging asap, daging babi rebus, dan kerupuk. Anak-anak suka dengan kue dari sagu dan gajah-gajahan” tulis Titi .

Sementara itu, Mpu Prapanca dalam Kitab Nagarakrtagama sekitar abd ke-14, mengisahkan bahwa selain mengonsumsi daging kambing, kerbau, ayam, dan ikan, para raja Kerajaan Majapahit juga terbiasa menikmati sajian daging babi liar (wok).

Besar kemungkinan, daging babi yang dimaksud adalah daging babi liar, hasil perburuan. Dan tradisi makan daging babi juga diikuti oleh rakyat Majapahit.

Bisa jadi, syiar agama Islam pertama kali di tanah Jawa, mengalami benturan ketika kebiasaan makan dagin babi kemudian harus dilarang. Dipastikan memerlukan proses yang tidak mudah untuk meyakinkan rakyat Jawa agar percaya bahwa daging itu dilarang untuk dikonsumsi.

Mangapa? Sebab, selain dikonsumsi, daging babi juga biasa menjadi hidangan dalam ritual keagamaan. Sementara ajaran Islam melarangnya. "Meninggalkan babi menjadi satu ciri masuknya Islam masyarakat Nusantara, selain menyunat dan meninggalkan berhala," tulis Anthony Reid.

Ketika peradaban Islam terbukti berhasil menggeser Hindu-Budha di sebagian besar Jawa dan Sumatera, kata “babi” kemudian cenderung menjadi simbol kekafiran.

Dalam catatan Mendes Pinto, penjelajah Portugis pada 1578, Sultan Aceh dan Sultan Demak sering disebut-sebut sebagai pahlawan antikafir. Konon, para Sultan melarang mayat orang Portugis dikubur di daratan.

Orang Portugis yang tewas itu disebut-sebut bisa mengganggu kesuburan lahan karena “mayat-mayat belum dibersihkan dari daging babi yang banyak dimakan.”

Dan terakhir, sebagai pertanyaan untuk direnungkan. Boleh dijawab, boleh juga tidak.

Mungkinkah dalam rangka membangun ketahanan pangan dan sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana kelaparan, dibuat semacam daerah atau hutan khusus agar babi berkembang biak dengan aman?

Sehingga, bila terjadi hal-hal tidak diinginkan akibat bencana yang menimbulkan wabah kelaparan, tersedia stok pangan yang mencukupi. Sebab, dalam kondisi darurat, daging babi bisa menjadi sumber asupan yang baik.

Selain kaya nutrisi, pertumbuhannya juga relatif cepat dibanding hewan lainnya.

Editor : Taat Ujianto