• News

  • Singkap Sejarah

Kisah Sepeda Kuno dan Orang Tionghoa Penggemar Gowes Perdana

Potret gadis-gadis Batavia dengan sepedanya sekitar tahun 1925-1935
Netralnews/Tropenmuseum
Potret gadis-gadis Batavia dengan sepedanya sekitar tahun 1925-1935

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Komunitas pecinta sepeda kian hari semakin bertambah banyak. Ini patut disyukuri sebab selain sehat, bersepeda adalah perilaku menggunakan transportasi yang ramah lingkungan ketimbang mengendarai sepeda motor maupun mobil.

Dalam bahasa gaul, kegiatan keliling naik sepeda sering diistilahkan gowes. Tidak pasti dari mana asal kata ini muncul. Konon, ada hubungannya dengan serapan dari bahasa Inggris go west yang artinya “pergi ke Barat”.

Ada pula yang mengaitkan dengan singkatan dalam bahasa Jawa yakni genjot ora genjot wis teles yang artinya “dikayuh tidak dikayuh, badannya basah”. Bahkan ada yang menyebut sebagai istilah selorohan goblok gak uwes-uwes atau “bodoh terus-terusan”.

Apapun asal katanya, gowes yang jelas kegiatan bersepeda zaman now ini merupakan budaya yang positif. Komunitas penggemar gowes layak kita berikan dukungan dan apresiasi.

Bagi para penggemar gowes, tahukah bahwa kebiasaan membentuk gowes sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu? Kegiatan melancong menggunakan sepeda di Nusantara sudah ada seiring dengan munculnya sepeda-sepeda kuno paling awal. Mari kita tengok bersama.

Asal Usul Sepeda

Mengutip catatan jurnalis Zaenuddin HM dalam Asal-Usul Benda di Sekitar Kita Tempo Doeloe (2015: 299), disebutkan bahwa sepeda pertama kali muncul di Perancis dan Inggris pada abad ke-18. Di Jerman, benda itu dinamai velocipede. Istilah ini sempat berlaku selama bertahun-tahun.

Hanya saja, sepeda perdana belum menggunakan kostruksi besi dan modelnya masih sangat sederhana. Konon, mulanya tanpa pedal dan kemudi (setang) dan dibuat dengan berbahan kayu.

Tahun 1818, seorang Jerman bernama Baron Karls Drais von Saurbronn tercatat sebagai penyempurna velocipede pertama kalinya. Sebagai pengawas hutan Baden, ia mencari cara agar berkeliling hutan bisa dilakukan secara lebih mudah.

Namun, bentuk velocipede yang ia kembangkan masih terkesan seperti kereta kuda sehingga kala itu sering dinamakan dandy horse.

Tahun 1839, Kirkpatrick Macmillan, seorang pandai besi di Skotlandia membuat velocipede dengan berbahan besi. Ia menciptakan model engkol sepeda. Dengan menggerakkan naik turun, kaki mengayuh pedal. Ia juga menghubungkan engkol dengan tongkat kemudi (setang sederhana).

Penyempurnaan berikutnya dilakukan oleh orang Perancis bernama Ernest Michaux pada 1855. Ia membuat pemberat engkol sehingga laju sepeda bisa lebih stabil.

Petugas pos yang mengantarkan surat dengan sepeda onthel 

Tahun 1865, disempurnakan lagi oleh orang Perancis juga yakni Pierre Lallement. Ia membuat roda dengan menambahkan lingkaran besi di sekelilingnya. Inilah cikal bakal pelek atau velg perdana. Ia juga memperkenalkan bentuk roda depan yang lebih besar dibanding roda belakang.

Sepeda mengalami kemajuan ketika ada penemuan sistem pembuatan baja berlubang dan teknik penyambungan besi, serta penemuan karet sebagai bahan baku ban. Namun, untuk sistem per sebagai teknik menimbulkan kenyamanan, belum dikenal.

Karena belum ada per, maka sepeda perdana membuat goncangan keras dan berefek kepada penunggangnya. Hal ini menyebabkan munculnya istilah boneshaker yang artinya “penggoyang tulang”.

Produksi sepeda secara massal pertama kali dirintis oleh James Starley di Coventry, Inggris, pada 1885. Sepeda yang diproduksinya semakin maju setelah tahun 1888, John Dunlop menemukan teknologi ban angin (pneumatic tire) sehingga sepeda bisa melaju lebih kencang.

Di masa-masa selanjutnya, muncul pula berbagai aksesori pelengkap yang menambah kenyamanan dan keamanan bersepeda seperti teknologi rem, perbandingan gigi gir yang bisa diganti dan dipindahkan, lampu dinamo, dan sebagainya.

Pemilik Sepeda dan Gowes Perdana di Batavia

Dalam buku Batavia, Kisah Jakarta Tempo Doeloe (1988: 56), Tio Tek Hong menyebutkan bahwa sepeda sudah populer di Batavia (Jakarta) pada tahun 1890-an. “Velocipede alias fiets atau kereta angin ini dijual Tuan Gruyter di Gambir (sekarang Jl Medan Merdeka Barat, red).”

Pada masa itu, satu unit sepeda merek Rover dijual seharga 500 Gulden. Bila bisa memilikinya, menjadi semacam barang bergengsi dan membanggakan karena belum banyak orang yang bisa membelinya.

Di toko penjualan sepeda Gambir juga disediakan lapangan balap sepeda untuk para pelanggannya. Para pembalap kenamaan pada masa itu adalah Versteeg, van Emmerick, Orsini, van Deventer, HH Kan, Tjee Hoei Tjong, dan lain-lain.

Seorang pemuda dan sepeda tempo dulu

Sementara itu, dalam Keadaan Jakarta Tempo Doeloe, Sebuah Kenangan 1882-1959 (2006: 81-82), Tio Tek Hong sebenarnya juga memiliki race-fiets (sepeda balap) pesanan Amerika, akan tetapi ia tidak suka ikut bergabung menjadi pembalap di lapangan Gambir.

Sepeda itu cukup unik. “Spaak-nya kira-kira setebal jarum layar, beratnya sembilan kilo, telalu ringan untuk dibuat balapan,” tulis Tio Tek Hong.

Tio Tek Hong lebih menyukai bersepeda untuk  pesiar saja. “Race-fiets ini saya pakai untuk jalan-jalan pesiar saja.”

Tio Tek Hong ternyata juga membentuk komunitas penggemar sepeda (sekarang disebut gowes). Nama perkumpulannya adalah Perkumpulan Pengendara-Pengandara Sepeda atau Fietsclub.

Anggotanya adalah teman-teman Tio Tek Hong antara lain Oey Keng Hin, Tjoe Siauw Hoei, Tjee Hoei Tjeng, dan Kwee Kim Hong. Setiap hari Minggu, mereka beramai-ramai gowes menunggang fiets berkeliling ke Pejongkoran (Petit Trouville), Paal Merah, Bekasi, Tangerang.

Pada waktu tertentu, mereka juga gowes-gowes menuju Bogor atau Buitenzorg, “untuk mandi di Kota Batu dan makan ayam panggang dengan sayur selada air yang luar biasa enaknya.”

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?