• News

  • Singkap Sejarah

Cemerlang, Biker Sepeda Setan Pertama di Jawa Ternyata Seorang Pekerja Pabrik

Klub sepeda motor sekitar tahun 1920-1940
Netralnews/Tropenmuseum
Klub sepeda motor sekitar tahun 1920-1940

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dahulu, sepeda motor biasa dijuluki “sepeda setan”. Sejak awal, alat transportasi ini sudah mencuri perhatian rakyat Hindia Belanda. Hal itu ternyata terus berlangsung di era kemerdekaan hingga era reformasi.

Kini bisa dikatakan bahwa sepeda motor bukanlah termasuk barang mewah. Semua orang bisa membelinya dengan uang muka dan angsuran yang ringan.

Sepede motor dinikmati karena dipercaya bisa menyelinap di antara mobil ketika terjadi kemacetan. Mudik dengan motor pun sangat praktis karena di tempat tujuan, bisa bergerak kemana suka.

Diukur dari sejarahnya, sepeda setan telah berusia lebih dari 130 tahun.  Mari kita tengok kembali asal usul dan bagaimana masyarakat menggunakannya.

Asal Mula Sepeda Motor

Mengutip catatan jurnalis Zaenuddin HM dalam Asal-Usul Benda di Sekitar Kita Tempo Doeloe (2015: 306-307), disebutkan bahwa sepeda motor pertama dibuat oleh ahli mesin Jerman, Gottlieb Daimler pada 1885.

Mulannya, mesin sepeda motor dipasang pada sepeda kayu yang didesain sendiri. Sepeda masih menggunakan empat roda, termasuk roda tambahan layaknya sepeda anak-anak.

Pengendara pertama sepeda motor yang ia rancang adalah putranya sendiri yaitu pada 10 November 1885. Konon kecepatan sepeda motor tersebut mencapai 10 kilometer per jam.

Sejak penemuan tersebut, selain di Jerman, sepeda motor juga mulai diperkenalkan ke Perancis dan Inggris. Banyak orang tertarik karena kepraktisannya. Modifikasi pun mulai dilakukan.

Tahun 1903, Arthur Davidson, Walter, dan William Harley kemudian merancang sepeda motor yang terkenal dengan merek Harley-Davidson untuk pertama kalinya. Setahun kemudian, sepeda motor sudah mulai diproduksi massal untuk diperjual-belikan.  

Tahun 1909, Harley-Davidson memperkenalkan mesin V-Twin yang pertama. Mesin tersebut memiliki dua silinder dengan konfigurasi menyerupai huruf “V”.

Ciri lain dari mesin itu adalah suaranya yang keras, besar, dan bergemuruh, sehingga dianggap melambangkan kejantanan. Mesin inilah yang kemudian digemari masyarakat Amerika klasik.

Memasuki tahun 1914, produksi model sepeda motor sudah mendekati era modern. Mesin sudah diletakkan di antara roda depan dan belakang dan sebuah rantai dipasang untuk mentransfer tenaga dari mesin ke roda belakang.

Ketika Perang Dunia I meletus (1914-1918), sepeda motor telah digunakan sebagai salah satu mesin perang baik bagi pasukan Eropa maupun Amerika. Dengan sepeda motor, serdadu bisa membawa alat komunikasi hingga ke daerah pertempuran garis terdepan.

Perang ikut memopulerkan sepeda motor bagi kalangan sipil. Oleh sebab itu, hingga tahun 1950-an, sepeda motor produksi Harley-Davidson berhasil merajai pasaran Eropa dan Amerika.

Perusahan lain yang menyusul kesuksesannya adalah perusahaan Inggris bernama Birmingham Small Arms Company (BSA), Norton, dan Triumph.

Tahun 1960-1970, bangkitlah orang Jepang. Honda, Yamaha, Kawasaki, Suzuki, Yamaha berlomba-lomba memproduksi sepeda motor dan mengincar daerah pasar baru. Mereka merancang mesin dan suspense yang tak kalah dengan model mesin-mesin pendahulunya.

Di masa selanjutnya, mesin produksi Jepang dengan mesin 2 langkah dengan 250-500 cc dan mesin 4 langkah antara 750-1200 cc yang bertenaga besar berhasil mendominasi pasar dunia.

Sepeda Motor dan Biker Pertama di Jawa

Dalam buku Keadaan Jakarta Tempo Doeloe, Sebuah Kenangan 1882-1959” (2006: 81) karya Tio Tek Hong, diilustrasikan bahwa sepeda motor yang diberi gelar “sepeda setan” sudah ada di Hindia Belanda pada tahun 1893. Sepeda motor tersebut merupakan produk Muenchen, Jerman, bermerek Hildebrand und Wolfmuller.

Dalam buku Sejarah Mobil dan Kisah Kehadiran Mobil di Negeri Ini (2012), James Luhulima mengutip buku Kreta Setan, Autopioners van Insulinde (1977), karya FF Habnit, Moesson Reeks, disebutkan bahwa pemilik motor tersebut adalah seorang warga Hindia Belanda berkebangsaan Inggris. Namanya John C Potter.

Ia adalah seorang masinis di Pabrik Gula Oemboel Probolinggo, Jawa Timur. Ia datang jauh-jauh dari Eropa dan direkrut Pemerintah Belanda untuk menjadi pekerja di pabrik gula mengingat keahlian yang dimilikinya dalam menjalankan mesin lokomotif di masa itu tergolong langka.

Dengan keahliannya itu, Potter menjadi pekerja elite dan dipastikan memiliki gaji lumayan besar. Itu pula yang menyebabkan dirinya bisa membeli barang berharga di masa itu.

Di sisi lain, ia memiliki daya pikir yang sangat maju di zamannya. Bagaimana tidak? Ia berani memesan dan membeli barang mahal yang belum banyak dimiliki warga Hindia Belanda. Untuk apa?

Ia memiliki naluri cemerlang. Selain untuk dirinya sendiri, sepeda setan itu juga menjadi contoh untuk dipamerkan (dipasarkan) kepada kaum bangsawan Jawa.

Buktinya, ia kemudian dipercaya sebagai perantara pembeli mobil pertama di Jawa (bermerek Benz Viktoria), yakni Pakoe Boewono X, bangsawan keraton Surakarta.

Selain itu, naluri cemerlang Potter juga membuatnya dirinya tercatat dengan julukan sebagai biker pertama di Indonesia.   

Ciri sepeda motor  Hildebrand und Wolfmuller yang dibeli Potter adalah tidak menggunakan rantai. Roda belakang digerakkan langsung oleh kruk as.

Model mesin ini masih hingga kini masih dipakai di antaranya untuk twin-silinder horizontal, 4 valve, berpendingin air, dan untuk mesin berkapasitas besar yaitu 1.500 cc dengan bahan bakar bensin atau nafta.

Kehadiran sepeda motor di Jawa tidak berselisih lama dengan kedatangan sepeda motor ke Amerika. Produk Hildebrand Und Wolfmuller tiba di Amerika Serikat untuk pertama kalinya pada 1895. 

Motor produk Jepang seperti skuter, Vespa, kemudian disusul Honda, Suzuki, Yamaha, baru membanjiri Indonesia pada tahun 1960-an.

Jadi, sejak zaman Hindia Belanda, Indonesia memang sudah menjadi pasar dari produk sepeda motor secara komersial. Maka tak heran bila hingga kini, Indonesia adalah surganya para produsen kendaraan bermotor.

Dalam perkembangannya, ada sepeda maka lahir komunitas penggemar sepeda (bahasa gaulnya gowes). Demikian halnya dengan sepeda motor.

Geng motor pertama kali lahir di Batavia pada tahun 1915 dengan nama Motorfiets Rijders Te Batavia. Geng ini terpaut 12 tahun dibanding klub motor tertua di dunia yakni Yonkers Motorcycle Club pada 1903 di Kota New York, Amerika Serikat.

Geng motor yang kemudian menyusul berdiri di antaranya adalah  klub motor asal Bandung yang hingga kini masih aktif berkegiatan yakni Moonraker. Geng ini konon diprakarsai oleh tiga pemuda Bandung pada tahun 1978. Mulanya bernama Moonwalker.

Di tahun-tahun berikutnya, klub sepeda motor kian banyak seiring semakin banyaknya pemilik motor di Indonesia. Kini, di setiap kota bisa dikatakan selalu ada komunitasnya.   

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?