• News

  • Singkap Sejarah

Dulu Bukan Makar, Marco Meledek Pemerintah: ‘Syukur Kepada Allah’ Dipenjara 7 Bulan

Mas Marco Kartodikromo (1889-1935)
Netralnews/ Dok.Istimewa
Mas Marco Kartodikromo (1889-1935)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Publik pasti masih ingat bahwa cikal bakal Sarekat Islam (SI) adalah Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan di Surakarata, Jawa Tengah pada 16 Oktober 1905, oleh  Haji Samanhoedi. Organisasi ini sempat berjaya dan didukung para pedagang batik dan bangsawan Kesunanan.

Memasuki tahun 1912 dan seterusnya, Sarekat Islam di Surakarta justru meredup. Kaum “kromo” (rakyat biasa) kehilangan minat terhadap SI dan kembali sibuk dengan dunianya sehari-hari.

Toko-toko batik yang didirikan SI mengalami kebangkrutan. Pindahnya papan nama Central Sarekat Islam (CSI) di bawah HOS Tjokroaminoto ke Surabaya, Jawa Timur ikut berdampak berhentinya aliran dana SI-SI cabang ke Surakarta.

Para pedagang Batik di Laweyan, Surakarta, sudah tidak mau membiayai organisasi. Pangeran-pangeran kesunanan dan pegawai tinggi kepatihan (kaum ningrat) lebih memilih bergabung ke dalam Boedi Oetomo (BO) karena dianggap lebih terhormat.

Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (1997: 109) melukiskan situasi ini, “Yang tersisa di SI Surakarta hanyalah para jurnalis yang beralih menjadi pemimpin pergerakan.” Salah satunya adalah Mas Marco Kartodikromo.

Ia lahir di Cepu sekitar 1890 dari keluarga priayi rendahan, tidak mengenyam pendidikan Belanda setinggi para cendikiawan perdana lainnya (Tjokroaminoto, Soewardi, Tjipto Mangoenkoesoemo).

Ia hanya sempat bersekolah bumiputra Angka Dua di Bojonegoro dan sekolah swasta bumiputra Belanda di Purworejo, Jawa Tengah. Tahun 1905 ia masuk dinas kehutanan sebagai juru tulis, lalu pindah ke Semarang dan berkenalan dengan dunia pergerakan.

Tahun 1911 ia meninggalkan Semarang menuju Bandung untuk magang sebagai jurnalis dalam surat kabar Medan Prijaji besutan Tirtoadhisoerjo.  Setahun kemudian Medan Prijaji bangkrut, ia kemudian pindah sebagai editor dan administrator di Sarotomo.

Selama di Bandung, mentornya adalah Tirtoadhisoerjo dan Soewardi (di kemudian hari mengganti nama Ki Hadjar Dewantara), dua di antara teman dekatnya. Maka tak mengerankan jika tulisan-tulisannya tajam dalam mengkritik Pemerintah Kolonial karena ia mencontoh kedua jurnalis itu.

Tahun 1914, Marco mendirikan Doenia Bergerak sebagai surat kabar Inlandsche Joernalistenbond (IJB). Marco menjabat ketua dan Sosrokoernio sebagai sekretaris. IJB kemudian diramaikan oleh bekas-bekas Indische Partij (IP) seperti Tjipto yang telah kembali dari pembuangan.

Di tangan Marco, Doenia Bergerak dijadikannya sebagai alat melancarkan “perang saudara” dan sekaligus sebagai alat menyerang pemerintah Kolonial. Suaranya tajam, berteriak, dan meledek penguasa kala itu.

Suatu kali, ia menyerang Douwe Adolf Rinkes, penasehat urusan bumiputra. Tulisan itu membuat Rinkes marah dan mengirimkan surat teguran secara pribadi melalui Samanhoedi karena “dianggap lalai mengawasi ‘orang oepahan’-nya,” tulis Shiraishi (halaman 111).

Dalam Doenia Bergerak No 1 tahun 1914, Marco menulis artikel berjudul “Marco: Pro of Contra Dr Rinkes” dengan gaya bahasa yang jujur, keras, tanpa menyembunyikan identitasnya.

“Apakah PT Dr Rinkes, atau leden daru Welvaartscommissie sudah sama menjaksikan sendiri, bila hidupnja orang2 ketjil di dalam kesukaan?” tanya Marco.

“Orang2 ketjil kebanjakan hidupnya: sehari makan sekali; jang sedikit mam perkara ikan tidak sekali2 dipikirkanja, asal ada garam dan tjabe-rawit sudah tjukup,” sambungnya.

Masih tulisan Marco, “Saja sangat pertjaja bahwa leden WC itu itu djuga tjinta kepada orang2 ketjil, tetapi masih terlalu amat tjinta diri sendiri.”

Di kala itu, istilah “dukun” mengandung ledekan yang merendahkan, namun Marco justru menggunakan kata itu untuk menunjuk Rinkes.

“Kalau saja pikir pandjang, leden WC seakan2 Dokter (dukun) umpamanja. Tetapi kita orang Bumi-putra, orang2 jang sakit sudah pajah. Siapakah jang lebih keras minta sembuh dari sakit? Dokter (dukun) kah? Atau orang jang sakitkah?” demikian tulisan Marco.  

Di bagian akhir tulisannya, ia secara terang-terangan menuding Rinkes dengan cetak miring sesuai tulisan aslinya.

Tetapi saja berani berkata bahwa PT Dr Rinkes dan leden WC jang berpangkat Regent, tentu sekalian itu kurang – atau boleh djadi tidak pernah bertjampur gaul dengan orang-orang desa.

Barangkali leden WC itu hanya tanja sadja kepada prijaji jang berpangkat Wedono ke bawah sampai Lurah desa.

Rinkes adalah sosok penting yang membantu Tjokroaminoto ketika memimpin SI. Rinkes berhasil “menjinakkan" SI sehingga sejalan dengan kepentingan pemerintah kolonial.  

Welvaarts Commissie (komisi penyelidik tingkat kesejahteraan rakyat Hindia Belanda) yang disebut Marco adalah simbol penting dari realisasi politik etis.

Artinya, dengan mengritik Rinkes dan Welvaarts Commissie, Marco sama saja melancarkan “perang saudara” (di antaranya ke kubu Tjokroaminoto) dan menyerang pemerintah kolonial secara langsung.

Mengapa bisa demikian? Tulisan Marco, di masa itu dianggap sangat keras. “Welvaartscommissie yang mulia diubahnya menjadi WC dan Doktor yang diambil dari Padoeka Toean Dr Rinkes, disamakan dengan dukun, yang tentunya bukan status yang terhormat” tulis Shiraishi (hal 114).

Selain “Marco: Pro of Contra Dr Rinkes”, Marco juga menulis beberapa tulisan lain yang sama kerasnya. Alhasil, buah pahit harus dipetik oleh Marco. Awal tahun 1915, Ia dituntut melakukan persdelicten (pidana pers) setelah menerbitkan empat surat pembaca dalam Doenia Bergerak.

Dahulu belum ada istilah hoaks, UU ITE, ataupun tuduhan melakukan makar seperti berlaku akhir-akhir ini. Persdelicten adalah produk hukum Kolonial Belanda yang memang marak digunakan pada masa itu untuk menjerat para tokoh pergerakan karena dianggap melawan atau menebar kebencian terhadap pemerintah kolonial.

Uniknya, jerat pengadilan tersebut dihadapi oleh Marco secara kesatria. Ia bertanggung jawab penuh terhadap tulisan-tulisan dalam Doenia Bergerak dan dengan tegas menolak menyingkap identitas para penulis lain di Doenia Bergerak.

Dalam pengadilan landraad, Marco dijatuhi hukuman tujuh bulan penjara. Berita hukuman tersebut didengar oleh pemimpin Central Sarekat Islam yang kemudian menulis “Sjoekoer kepada Allah” dalam Oetoesan Hindia.

Tulisan pimpinan CSI (dimana Tjokroaminoto ada di dalamnya) tersebut menjadi pertanda bahwa “perang saudara” yang dilancarkan Marco seolah menjadi bumerang, sementara pihak lawan bertepuk tangan.

Akan tetapi, Marco tidak sendiri. Bahkan dukungan kepada Marco jauh lebih besar dan diberikan oleh tokoh-tokoh penting pergerakan dari Insulinde dan Indische Sociaal-Demicratische Vereeniging (ISDV), serta bekas pentolan IP.

Soewardi menulis apresiasi dan dukungannya kepada Marco secara khusus dari tempat pembuangannya di Den Haag pada 15 Agustus 1915.

“Memang tidak moedah dan djoega tidak enak orang membela bangsa, akan tetapi boeat kita jang demikian itoe wadjib. Tiada sekali kita boleh melepaskan pengharapan kita. Walaoepoen besar korbannja, kita wadjib mengorbankan diri djika perloe,” tulis Soewardi yang dimuat dalam “Soerat Terboeka”, Sarotomo.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?