• News

  • Singkap Sejarah

Kisah Tempo Dulu Pelacur Kepung Matraman, Embok-Embok Penjual Kue Baskom pun Tersingkir

Suasana Jl. Salemba, pada dekade 1980
foto: afandriadya.com
Suasana Jl. Salemba, pada dekade 1980

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ini adalah sepenggal kisah kehidupan malam di sudut kota Jakarta sekitar tahun 1970-an, tepatnya di sekitar kawasan Salemba, Matraman (depan Perpustakaan Nasional lama), hingga pinggiran Monas, Jakarta Pusat.

Catatan ini dikisahkan ulang dari buku Pasar Gambir, Komik Cina, dan Es Shanghai: Sisik Melik Jakarta 1970-an (2010: 20-22) karya Zeffry Alkatiri. Catatan ini bukan mengisahkan tentang kehebatan seseorang tapi tentang secuil kehidupan masyarakat bawah yang berusaha mengais rezeki dengan menyusuri malam.

Cukup unik karena tidak disangka, di tengah hiruk pikuk dan gemerlapnya lampu kota metropolitan (kala itu belum disebut megapolitan), pernah ada peristiwa persaingan antara embok-embok penjual kue baskom dengan para pelacur.

Tahun 1970-an, banyak pekerja malam seperti tukang becak, kuli proyek bangunan, penjual sayuran, sekuriti kantoran, dan sebagainya membutuhkan layanan makanan untuk sekedar menahan kantuk.

Kepada mereka itulah embok-embok dengan baskom di gendongannya berusaha mengais remah-remah dari keberlimpahan kekayaan kota Jakarta. Embok-embok menjajakan aneka kue jajanan pasar dari mulai bakwan, lontong, tahu goreng, kue pukis, dan sebagainya.

Embok-embok yang setia menyusuri trotoar jalanan di Salemba hingga Monas, Jakarta Pusat, sempat merebak karena jumlahnya tidak sedikit. “Lahan subur” kaum wanita tua (embok) itu ternyata kemudian dikepung oleh munculnya perempuan-perempuan yang lebih muda.

Perempuan-perempuan lebih muda dengan dandanan menor itu terang saja lebih menarik pemandangan kaum pria, apalagi para lelaki hidung belang. Dan memang, mereka ini adalah para pelacur yang juga menjajakan kue baskom.

Mereka kemudian berhasil menyingkirkan para embok-embok penjual kue baskom. Sambil mencari pelanggan, mereka nyambi menjajakan kue dengan penerangan cempor (lampu minyak tanpa kaca semprong) di sepanjang trotoar Salemba dan pinggiran Monas.

Bila ada pembeli, mereka akan melayani sambil memberikan kode apakah juga membutuhkan layanan yang lebih “spesial”. Bila iya, maka akan ada tawar menawar dan penentuan lokasi transaksi. Transaksi jual-beli layanan “spesial” bisa dilakukan di losmen terdekat.

Selain pelacuran dengan berkedok menjual kue baskom, di era yang sama dan di lokasi yang tak terlalu jauh, juga ada pelacuran dari kaum waria atau bencong. Mereka mangkal di sekitar Taman Lawang, Menteng, Jakarta Pusat.

Lokasi ini bahkan masih bertahan hingga tahun 2000-an. Kaum waria menganggap lokasi ini cukup strategis karena berada di tengah kota. Dahulu daerah ini masih kurang penerangan. Suasana yang remang-remang sangat mendukung transaksi jasa pelacuran.

Konon, para waria ini pernah berbaur pula dengan pelacur perempuan yang tinggal di sekitar Monas. Mungkin karena kalah persaingan atau faktor lain, mereka kemudian menjadikan Taman Lawang sebagai lokasi khusus bagi mereka yang membutuhkan belaian kaum waria.

Di siang hari, kaum waria ini pulang di rumah-rumah kontrakan tak jauh dari Taman Lawang. Sebelum malam tiba, mereka akan berdandan secantik mungkin. Selanjutnya mereka akan menghabiskan sepanjang malam di Taman Lawang.

Sebenarnya, masih banyak kisah kehidupan malam dan pelacuran lain di Jakarta di era itu. Untuk daerah Jakarta Pusat, selain Salemba, Taman Lawang, dan Monas adalah di Pejompongan (dekat setasiun Tanah Abang), dan Planet Senen (dekat setasiun Senen).

Lokasi pelacuran di daerah Jakarta Barat dan di Jakarta Utara juga tidak kalah banyak. Di Jakarta Barat antara lain di Kebun Sayur, Mangga Besar, dan Gang Houber.

Untuk daerah Jakarta Utara, yang sangat terkenal tentu saja di Kramat Tunggak. Lokalisasi ini mulanya tersebar seperti di  Bina Ria, Volker (deretan rel kereta api depan Ancol). Karena ada yang mengorganisir (germo) maka mereka merapat dan berkumpul di Kramat Tunggak.

Editor : Taat Ujianto