• News

  • Singkap Sejarah

Astagfirullah, Dahulu Anak Keturunan Arab di Jakarta Disebut ‘Anak Dajal‘

Anak-anak keturunan Arab di Batavia tahun 1910
Netralnews/Dok.KITLV
Anak-anak keturunan Arab di Batavia tahun 1910

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Stereotip (sebutan negatif) ternyata pernah disematkan tidak hanya bagi “anak kolong” di Jakarta tempo dulu. Anak-anak keturunan Arab, pada tahun 1970-an ternyata tak luput dari sebutan yang identik dengan kebandelan dan kenakalan.

Dalam catatan Firman Lubis berjudul Jakarta 1950-an ( 2008) dan Jakarta 1960-an ( 2008), disebutkan bahwa di Jakarta masih banyak orang-orang Belanda (Eropa) dan keturunannya. Tetapi, memasuki tahun 1960 mereka sudah tidak ada lagi. Kalaupun ada hanya anak-anak Indo (campuran).

Ketika Jakarta masih bernama Batavia, memang dikenal terdapat sejumlah tangsi militer. Para serdadu Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) tak sedikit yang hidup dengan memelihara nyai atau gundik di tangsi-tangsi militer.

Karena terbatasnya gaji, para serdadu dan gundik mereka biasanya hidup bersama di bangsal atau barak tentara yaitu bangunan kompi yang disebut chambree,  seperti dikisahkan dalam tulisan karya Lin Scholte dalam Verzamelde Romans en Verhalen (2002: 97). 

Ruangan luas memanjang dengan langit-langit tinggi. Kedua sisinya membujur barisan ranjang besi bertingkat dan bernomor, lengkap dengan kasur jerami. Di samping ranjang tersisa ruang sekitar satu setengah meter. Di ruang inilah para gundik tidur dan beranak pinak.

Ruang di bawah ranjang tidur adalah kolong. Gundik yang beranak banyak, kolong adalah ruang khusus bagi anak-anaknya. Dari sinilah muncul istilah “anak kolong”, sebutan anak serdadu yang lahir di tangsi militer.

Label “anak kolong” pernah begitu populer hingga era kemerdekaan. Istilah itu sering juga disematkan kepada anak-anak tentara khususnya yang berasal dari Ambon. Sehari-hari anak-anak  tersebut keluar masuk tangsi militer.

Entah mengapa, mereka memiliki kecenderungan melakukan tindakan kriminal kecil-kecilan.

“Karena kenakalannya, mereka akhirnya dikenal dan dijuluki sebagai anak berandalan atau anak-anak crossboys,” tulis Zeffry Alkatiri  dalam  Pasar Gambir, Komik Cina, dan Es Shanghai: Sisik Melik Jakarta 1970-an (2010: 9).

Bisa jadi, kecenderungan negatif itu terjadi karena disebabkan oleh kondisi kehidupan tangsi dimana orang tua terlalu keras mendidik, pendidikannya rendah, sehingga memengaruhi anak-anak mereka.

Di sisi lain, tindakan mereka bisa disebut juga sebagai semacam survival of the fittes sebagai dampak pendapatan keluarga militer yang minim dan pas-pasan.

Pada tahun 1970-an, entah mengapa, sebutan “anak kolong” tiba-tiba menghilang dan diganti dengan sebutan baru yang lebih elite yaitu “anak komplek”.

Hanya saja, stereotip  negatif ternyata tidak hanya ditujukan kepada mereka. Pada era ini, “selain mereka (anak komplek, red), stereotip tipologis kebandelan sebenarnya identik juga dengan anak-anak keturunan Arab,” tulis Alkatiri (halaman 12).

Perbedaannya, anak-anak keturunan Arab biarpun bandel tetapi tidak melakukan tindak kriminal. Tindakan mereka lebih mendekati pada sebutan “jail” atau “menggoda” dan merugikan pihak lain dengan kelihaian dan kepandirannya.

Komunitas Arab pada tahun 1970 antara lain terdapat di Krukut, Pondok Dayung, Pekojan, Petojo, Taman Sari (Kebon Jeruk), Sawah Besar, Tanah Abang, Kwitang, Kampung Melayu, dan Cawang. Anak-anak keturunan Arab biasanya bersekolah di sekolah negeri.

Kebandelan dan banyaknya “tingkah aneh” menyebabkan orang-orang tua sering “menyebut” kalimat tertentu sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kenakalannya tidak hanya di rumah, tetapi sangat dirasakan juga oleh komunitas di sekolah dan masyarakat sekitar.

Bisa jadi, kebiasaan bandel tersebut disebabkan karena budaya dalam keluarganya. “Pola keluarganya yang secara tidak langsung memberikan angin dan peluang untuk mereka menjadi anak yang susah diatur,” tulis Alkatiri.

Ketika orang tua berusaha mengendalikan dan mengarahkan tetapi tidak digubris oleh anak-anak keturunan Arab, sering keluarlah kata-kata istigfar, “Astagfirullah..., anak siapa sih ente?” atau “MasyaAllah..., dasar anak dajal, ade aje ulahnye.”

Sebutan “anak dajal” keluar karena saking bandelnya anak-anak tersebut dan tidak sesuai dengan nilai-nilai agama yang mereka anut. Istilah menyebut nama iblis akhirnya keluar. Tetapi, terkadang bukan dengan marah, tetapi justru sambil tertawa.

Sementara reaksi anak-anak Arab kemudian bergumam, “Allah ya ‘fat, tuh anak!” Dalam bahasa Betawi sering disebut juga “anak bandel nggak ketulungan”.

Selain “anak dajal” sebutan lain yang disematkan kepada mereka adalah anak kepala batu atau koopieg.

Walaupun demikian, bukan berarti semua anak keturunan Arab adalah anak nakal. Dalam setiap komunitas Arab, tetap saja ada yang baik dan ada yang sangat nakal. Anak yang baik biasa disebut “khoir”.  

Dibawah anak “khoir” ada anak “bahlul” yaitu anak yang tidak nakal tetapi tidak juga sangat baik.

Anak-anak  keturunan Arab terkadang dikirim ke Hadramaut untuk belajar bahasa Arab dan tata krama menurut budaya Arab. Sepulangnya dari Hadramaut, biasanya berubah menjadi anak yang lebih baik. Tetapi ada juga yang sebaliknya, malah menjadi anak bandel nggak ketulungan.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?