• News

  • Singkap Sejarah

Lebaran 1957 Bersamaan Hari Buruh, Inilah Uniknya Kotbah ‘Kiai Komunis‘

Lebaran tahun 1957, jatuh bersamaan dengan perayaan Hari Buruh 1 Mei
Netralnews/ Dok.Istimewa
Lebaran tahun 1957, jatuh bersamaan dengan perayaan Hari Buruh 1 Mei

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tahun 1957, perayaaan Lebaran atau Idulfitri 1 Syawal 1376 Hijriah  jatuh pada hari Rabu, 1 Mei. Hari itu sekaligus merupakan perayaan Hari Buruh Internasional. Uniknya, lebaran ternyata juga dirayakan oleh Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC PKI).

Mengapa unik? Sebab, di era setelah peristiwa G-30-S tahun 1965, banyak orang memandang anggota PKI  adalah para penganut ateis sehingga umumnya berpikir bahwa mereka tidak akan merayakan Lebaran sebab ateis adalah orang yang tidak percaya adanya Tuhan.

Selain mengucapkan Hari Buruh, pada hari itu, Sekretaris Jenderal CC PKI DN Aidit juga memuat berita ucapan selamat Idulfitri yang dipublikasikan melalui Harian Rakjat.

“Central Comite Partai Komunis Indonesia mengucapkan selamat Hari Raya Idulfitri 1376 H kepada Rakyat Indonesia yang beragama Islam. Hidup kerjasama dan persatuan seluruh Rakyat Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam aliran keagamaan dan politik!” ucapnya.

Berkaitan dengan perayaan dua hari besar itu, Kiai Haji Achmad Dasuki Siradj menulis artikel khusus berjudul “Menyongsong Datangnya Dua Hari Besar: Satu Syawal dan Satu Mei”. 

Sebelum kita melongok isi kotbahnya dalam artikel itu, ada baiknya kita mengenal lebih jauh siapa sosok Kiai Haji Achmad Dasuki Siradj. Ia dilahirkan di Surakarta tanggal 23 Mei 1903.

Ia sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat kemudian melanjutkan di Pondok Pesantren Djansaren, Madrasah Mambaul Ulum Surakarta, dan Pondok Pesantren Kasingan Rembang.

Kiai Haji Achmad Dasuki Siradj

Setelah dewasa, ia terjun di dunia politik Indonesia. Mula-mula ia bergabung dalam Sarekat Islam kemudian menjadi anggota PKI di tahun 1920-an. Ia pernah dibuang ke Boven Digul selama tahun 1927 hingga 1933. Ia ternyata berhasil bertahan hidup hingga era kemerdekaan.

Tahun 1955, Kiai Haji Achmad Dasuki Siradj menjadi salah satu perwakilan dari PKI untuk memperebutkan kursi parlemen melalui Pemilu 1955. Ia lolos dan menjadi anggota Konstituante.  

Konon, dalam sidang Konstituante yang pada akhirnya mengalami deadlock dan dibubarkan Presiden Soekarno, ia pernah berpidato, “Apabila Saudara yang terhormat memang dengan sungguh-sungguh hati menjalankan hukum Allah dan beramal dengan ikhlas marilah bersama dengan saya di dalam lingkungan Partai Komunis Indonesia (PKI).”

Sementara itu, tulisan Siradj berjudul “Menyongsong Datangnya Dua Hari Besar: Satu Syawal dan Satu Mei” dalam Harian Rakjat 1 Mei 1957, juga tak kalah menarik.

“Dalam memperingati dan merayakan hari 1 Syawal ini, orang tidak boleh bersenang-senang sendiri (sekeluarga), tetapi mesti dengan seluruh masyarakat di sekitarnya. Pada hari itu jangan ada masyarakat sekitar mereka yang merasakan susah, tetapi sebaliknya, harus turut serta senang dan gembira,” tulis Siradj.

Ia juga menyerukan agar umat muslim yang berkecukupan untuk membagikan zakat fitrah kepada mereka yang tidak mempunyai nafkah dan wajib mendahulukan mereka yang ada di sekitarnya atau tetangga-tetangga yang kurang mampu.

Siradj kemudian mengajak semua orang untuk memperingati 1 Syawal dengan menanamkan dan memperdalam benih-benih persatuan di dalam sanubari seluruh rakyat Indonesia.

“(Peringatan Lebaran) memupuk kebutuhan serta pengluasan rasa persaudaraan yang tidak membedakan antara golongan satu dengan golongan yang lain, serta kembali mengingat benar-benar dan meneliti langkah-langkah kita, sesuai atau tidaknya dengan apa yang telah ditunjukkan oleh Al-Quran,” tegas Siradj.

Di bagian akhir, ia kembali tandaskan, “Jadi, sekali lagi, Selamat Lebaran –Untuk saling-mengerti dan saling-harga-menghargai.”

Selain Lebaran, CC PKI ternyata juga sering mengucapkan selamat Hari Natal kepada umat Kristiani setiap hari raya itu tiba. Salah satunya adalah ucapan yang dimuat di Harian Rakjat setahun sebelum tragedi G-30-S meletus.

Pada pojok editorial Harian Rakjat, 24 Desember 1964, CC PKI mengucapkan selamat Hari Natal untuk umat Kristiani di Indonesia dengan seruan “Damai di Dunia.”

Di hari itu, CC PKI secara khusus juga menyatakan bahwa kondisi dunia saat itu bukanlah dunia yang damai tetapi dunia yang “gaduh”. Di Vietnam Selatan umat Kristen tidak dapat merayakan hari Natal dengan suasana damai. Demikian juga yang terjadi di Konggo.

“Di mana2 imperialis menebarkan mesiu dan kemiskinan, dan mencegah umat Kristen merayakan hari Natal menurut harapan agama mereka. Dan yang lebih keterlaluan lagi, ialah bahwa kedjahatan ini dilakukan kaum imperialis dengan sering2 menggunakan nama agama pula!” tulis CC PKI.

Di bagian akhir, CC PKI kemudian menyerukan, “Marilah kita berjuang lebih hebat melawan segala ketidakadilan sosial, melawan imperialisme. Selamat Hari Natal, selamat berjoang!”

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?