• News

  • Singkap Sejarah

Kisah Dokter Perempuan yang Dianggap Komunis dan Khatam Alquran

dr Sumiyarsi Siwirini (1925-2003)
Netralnews/ Dok.Istimewa
dr Sumiyarsi Siwirini (1925-2003)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dalam disertasi berjudul Mematahkan Pewarisan Ingatan: Wacana Anti-Komunis Dan Politik Rekonsiliasi Pasca-Soeharto (2004), Budiawan menulis bahwa di masa Orde Baru, wacana ateis yang disematkan kepada mereka yang dituduh komunis begitu masif.

Tuduhan komunis biasanya diarahkan kepada mereka yang menjadi anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan dituduh terlibat dalam penculikan tujuh jenderal TNI AD oleh gerombolan yang mengaku bernama “Gerakan 30 September” (G-30-S) tahun 1965.

Cerita populer yang dihembuskan terus menerus agar masyarakat percaya bahwa komunis adalah ateis mengisahkan tentang bagaimana guru Taman Kanak-Kanak (TK) di lembaga sekolah yang berafiliasi dengan PKI mengajarkan pembuktian tentang ada tidaknya sosok yang disebut Tuhan.

Konon di suatu pagi yang indah, seorang ibu guru di sebuah TK-PKI mengajak anak didiknya meminta kembang-gula kepada Tuhan. Anak diminta meniru apa yang diucapkan gurunya sambil menutup mata dan menegadahkan tangan mereka untuk siap menerima pemberian Tuhan.

“Ya Tuhan, berilah kami permen.” Setelah itu guru berkata: “Sekarang buka matamu. Apakah ada kembang gula di tanganmu?” Tentu saja anak-anak segera menjawab: “Tidak, Bu.”

Kemudian guru itu menegaskan, “Tentu saja tidak. Itu berarti Tuhan itu tidak ada.” Ia selanjutnya mengulang perintah agar anak-anak kembali memejamkan mata dan mengikuti apa yang diucapkan guru. Kali ini ucapannya berbeda.

Ya Ibu Guru, berilah kami permen,” demikian “doa” anak-anak. Saat mereka membuka mata, di tangan masing-masing anak sudah ada kembang gula. Ibu Guru kemudian menerangkan bahwa itulah bedannya benar-benar ada dengan yang tidak ada.

Cerita semacam itu memang mujarab untuk membangun opini bahwa komunis itu ateis dan pantas untuk ditangkap, ditahan, dibina, dibuang, bahkan dibunuh. Tak peduli bahwa tidak sedikit anggota PKI yang terkenal tekun beribadat sesuai agama dan kepercayaannya.

Salah satu tokoh menarik bagaimana pergumulan komunis yang dituduh ateis adalah kisah tentang seorang dokter perempuan yang sangat terkenal di era 1965. Ia bernama dr Sumiyarsi Siwirini.

Selama 11 tahun, dokter ini mendekam dalam penjara setelah sempat berpindah-pindah kamp penahanan. Menarik pula bahwa saat dalam tahanan, ia terbukti khatam membaca Alquran.

Membantu cita-cita Bung Karno

Sebelum meninggal, Sumiyarsi sempat membuat catatan-catatan pengalaman hidupnya yang kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Plantungan Pembuangan Tapol Perempuan (2010).

Dari buku ini, kita bisa melongok gambaran kehidupan para tahanan politik (tapol) perempuan yang dianggap komunis oleh pemerintahan Orde Baru.

Sumiyarsi adalah perempuan kelahiran Surakarta 20 November 1925. Ia lulus Fakultas Kedokteran UGM tahun 1959. Selesai kuliah ia sempat bekerja di RS Kotapraja Jakarta. Selain sebagai perempuan terpelajar bergelar dokter, ia juga pernah menjadi tokoh penting di era Orde Lama.

Sebelum ditangkap, ia menjabat Bendahara Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Sarjana Indonesia (HSI) dan anggota panitia bagian medis dalam Konferensi Asia, Afrika, Oceania yang berlangsung di Hotel Indonesia, bulan Oktober 1965.

Konferensi di Hotel Indonesia adalah bagian dari cita-cita Konferensi Asia Afrika di Bandung yang salah satunya digagas oleh Presiden Soekarno. Kala itu Soekarno memimpikan persatuan bangsa-bangsa bekas jajahan dalam menandingi negara adidaya.

Selama konferensi, Sumiyarsi sempat berbincang dengan Raja Muangthai Bhumibol Adulyadej dan Pangeran Akihito. Mereka mengenal Sumiyarsi mengingat ia adalah satu-satunya perempuan yang menjadi anggota panitia.

Usai konferensi, tepatnya tanggal 13 Oktober 1965, dr Sumiyarsi hendak pulang. Sebelum sampai, ia melihat rumahnya yang terletak di Jalan Kesehatan, Jakarta sedang diobrak-abrik gerombolan pemuda. Barang-barang dijarah dan sebagian dikeluarkan di halaman lalu dibakar.

Sumiyarsi yang diantar supirnya tak berani mendekat. Ia mengamati dari rumah tetangganya yang tidak jauh dari lokasi itu. Sumiyarsi tahu bahwa gerombolan itu bukanlah orang setempat tetapi orang-orang bayaran yang dikerahkan untuk menyerang anggota PKI.

Sejak peristiwa itu, Sumiyarsi sadar bahwa hidupnya sedang dalam incaran aparat TNI AD. Ia kemudian mengungsi ke sejumlah kota seperti di Bandung hingga Sukabumi. Setelah sempat menjadi buron selama setahun lebihm, pada 2 Mei 1967, ia ditangkap di Sukabumi.

Sumiyarsi dianggap terlibat peristiwa G-30-S dan ditahan aparat TNI AD. Ia sempat mendekam dalam sejumlah tahanan seperti penjara Kebayoran, Pesing, Gunung Sahari, Bukit Duri, dan pada bulan Juli 1971 ia dikirim ke kamp tahanan politik di kaki Gunung Prau, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, atau biasa disebut Plantungan.

Khatam Alquran

Nama Plantungan terkenal sejak tahun 1870 karena di sini dibangun rumah sakit untuk menampung penderita lepra oleh Kolonial Belanda. Tahun 1960 rumah sakit kemudian ditutup dan di tahun 1970 dijadikan sebagai pusat pelatihan tapol perempuan, khususnya mereka yang dituduh terlibat G-30-S.

Plantungan bisa disejajarkan dengan proyek “Inrehab”  di Pulau Buru. Bila Pulau Buru ditujukan bagi tapol laki-laki, sedangkan Plantungan ditujukan bagi tapol perempuan.

Di tahanan ini, Sumiyarsi mengalami begitu banyak pengalaman dari mulai tekanan aparat militer, bekerja di bidang pertanian, tugas memasak bagi 400 orang temannya, menjahit, bertugas sebagai dokter klinik, hingga bagaimana kehidupan spiritual yang tetap ia jalani dalam tahanan.

Sebagai dokter, ia paham betul bagaimana pada masa tertentu terjadi wabah diare, muntaber, kolera, desentri, tipus, dan sebagainya. Ia juga terbiasa dengan kejadian tapol meninggal di kliniknya.

Salah satu keunikan yang akan diangkat dalam catatan ini adalah cerita bagaimana ia kemudian khatam membaca Alquran.

Sumiyarsi sebenarnya tergolong sebagai muslim yang baik. Saat di Plantungan, bersama teman-temannya sepakat mengadakan perayaan Khataman Alquran yakni pada 15 November 1973.

Untuk itu, kelompok tapol muslim jauh-jauh hari sudah rajin membaca dan menghafal ayat-ayat suci Alquran. “Aku berusaha menghafal suarat-surat Juz Amma kadang sampai jauh malam,” tulisnya (halaman 111).

Tapol yang menjadi peserta khataman wajib menjalani tes. “Pada testing pertama, aku mendapat nilai kurang... Pada testing kedua aku sudah beranjak menjadi lumayan.”

Sumiyarsi terus berusaha keras untuk meningkatkan kemampuannya, mempelajari secara teliti untuk surat-surat yang dianggap paling sulit.

“Surat yang paling sulit menurut anggapanku yakni Surat Adh Dhuha. Berulangkali aku berusaha keras menghafalkannya,” tulis Sumiyarsi.

Saat ujian terakhir pun tiba. Sumiyarsi dinyatakan lulus. Ia termasuk dalam 50 orang yang menjalani kataman Alquran dengan nilai yang memuaskan.

“Acara (khataman, red) ditutup dengan resepsi yang dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Alquran, kemudian lagu-lagu kasidah, dan ditutup dengan lagu Rayuan Pulau Kelapa,” kenang Sumiyarsi.

Sumiyarsi baru dibebaskan pada 26 September 1978. Ia sempat menikmati udara kebebasan sambil berkarya di RS Panti Usaha Mulia Cengkareng, Jakarta Barat antara tahun 1983-2001.

Pada tahun 1985, ia sempat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah. Sejak tahun 1985, ia juga membuka praktik sebagai dokter umum di Jl H Mochtar Raya No 6, Jakarta Selatan. Pada 17 Juli 2003, Sumiyarsi dipanggil Sang Khalik. 

Editor : Taat Ujianto