• News

  • Singkap Sejarah

Tak Pernah Kelahi: Tionghoa Pakai Kotoran Babi, Madura Pakai Kotoran Sapi

Foto kondisi Jl Diponegoro, Pontianak, Kalimantan Barat, pada tahun 1974
Netralnews/ Dok.Istimewa
Foto kondisi Jl Diponegoro, Pontianak, Kalimantan Barat, pada tahun 1974

PONTIANAK, NETRALNEWS.COM - Tahun 1999 di Sambas, Kalimantan Barat (Kalbar), pernah meletus konflik rasial antara suku Madura dengan warga setempat terutama etnis Dayak. Konflik ini sangat memilukan karena mengakibatkan tak kurang dari 1.189 orang tewas dan 168 orang luka berat.

Dalam rangka mengurai akar-akar penyebab konflik, Hendro Suroyo Sudagung sempat melakukan kajian yang dibukukan dengan judul Mengurai Pertikaian Etnis: Migrasi Swakarsa Etnis Madura di Kalimantan Barat (2001).

Ada temuan Hendro yang unik, bukan dalam konteks kerusuhan rasial, tetapi temuan yang mengulas tentang bagaimana sejarah etnis Tionghoa menetap di daerah Kalimantan Barat khususnya,  serta bagaimana uniknya kehidupan orang Tionghoa dan Madura di Kalbar.

Etnis Tionghoa di Kalbar, sebenarnya berasal dari Tionghoa perantauan yang berdatangan secara bergelombang. Di antara mereka berasal dari Kuang Tung dan Kuang Si. Mereka kebanyakan adalah petani yang ingin menjadi pekerja tambang emas di abad ke-19.

Di masa itu, Tionghoa pendatang sempat diperkenankan mendirikan kongsi dan memperoleh otonomi penambangan emas dari raja-raja setempat. Pusat kongsi mereka adalah di Montrado, Budok, dan Mandor.

Konon, kongsi Tionghoa pendatang ini pernah mengorganisir diri, kuat, dan sempat berselisih paham dengan Kesultanan Sambas. Keduanya pernah dua kali bentrok bersenjata yang diduga terjadi akibat perselisihan yang dipicu oleh aktivitas penambangan emas.

Bentrokan berhasil diredakan setelah ada campur tangan pihak Kolonial Belanda di Kalimantan Barat. Tentu saja, pihak kongsi Tionghoa berada di pihak yang kemudian ditaklukkan.

Memasuki tahun 1854, otonomi kaum Tionghoa akhirnya dicabut oleh penguasa Kesultanan di Sambas dan Kesultanan di Menpawah. Mereka kemudian beralih profesi sebagai pedagang, petani, hingga membuka perkebunan.

Tahun 1905, jumlah Tionghoa di Pontianak sudah mencapai sekitar 7.085 orang sementara jumlah penduduk keseluruhan mencapai 20.353 jiwa.

Seperti halnya di daerah lain, orang Tionghoa di Kalimantan Barat, sejak abad ke-20 sudah memegang peranan penting di sektor perekonomian dan perdagangan. Namun, Tionghoa yang menjadi petani di daerah tersebut juga tidak sedikit.

Mereka menanam sayuran, membuka perkebunan jeruk dan karet untuk diambil getahnya. Bahkan tak sedikit etnis Tionghoa di sana yang menjadi sopir bus, penjual buah, kuli pikul, hingga menjadi pembantu rumah tangga bagi etnis Tionghoa lainnya yang lebih kaya.

Uniknya pula, banyak etnis Tionghoa yang tidak mahir berbahasa Indonesia. Dalam lingkungan mereka sendiri, sehari-hari mereka menggunakan bahasa asli mereka. Baru bila sedang berinteraksi dengan warga etnis lain, mereka menggunakan bahasa Indonesia.

Lalu bagaimana hubungan antara Tionghoa dan Madura di Kalimantan Barat? Ternyata, kedua etnis ini memiliki hubungan relasi yang cukup baik. Selama hampir satu abad, tidak pernah terjadi ketegangan-ketegangan antar kedua etnis yang mengarah ke timbulnya konflik.

Kedua etnis selalu berhubungan di bidang ekonomi. Di bidang perkebunan karet, tak sedikit etnis Madura menjadi buruh penoreh getah dan majikan mereka adalah orang Tionghoa. Ada juga etnis Madura yang menarik becak dan pemilik becak adalah orang Tionghoa.

Orang Madura yang bekerja sebagai penoreh getah karet akan menjual hasil torehannya ke warung-warung milik orang Tionghoa. Hasil penjualan getah karet biasanya digunakan untuk membeli aneka kebutuhan sehari-hari di warung milik orang Tionghoa.

Hendro Suroyo Sudagung juga sempat membuat kuesioner dimana 2 orang dari 400 responden mengaku pernah menjadi pekerja upahan kepada majikan Tionghoa selama bertahun-tahun dan tidak ada konflik.

Uniknya, relasi di bidang pertanian, banyak etnis Madura yang menjadi petani sama halnya dengan etnis Tionghoa. Kedua etnis ini memiliki ciri khusus. Mereka sama-sama menggunakan pupuk kandang namun jenisnya berbeda.

Pupuk kandang orang Tionghoa menggunakan kotoran babi yang mereka ternak dan dagingnya biasa mereka konsumsi. Sementara orang Madura menggunakan kotoran sapi yang diternakan. Antara kedua kelompok petani juga tak pernah terjadi konflik atau saling olok karena perbedaan jenis pupuk yang digunakan.

Mencermati sejarah relasi sosial antara etnis Tionghoa dengan etnis Madura di Kalimantan Barat, Hendro Suroyo Sudagung memang tidak menemukan terjadinya konflik. Akan tetapi, kedua masyarakat tetap patut senantiasa menjaga hubungan yang baik.

Dalam bidang perekonomian, misalnya dalam perkebunan karet, pola relasi penoreh getah (madura) dan majikan (Tionghoa) berlangsung terus-menerus secara saling menguntungkan, maka peluang munculnya konflik akan kecil terjadi.

Akan tetapi bila suatu ketika ada salah satu pihak merasa dicurangi atau merasakan ketidakadilan, ditambah munculnya jurang miskin kaya yang menganga, maka bisa jadi konflik akan lahir. Oleh sebab itu, kedua belah pihak senantiasa waspada dan saling menjaga.

Editor : Taat Ujianto