• News

  • Singkap Sejarah

Keras Kepala di Batavia: Sekali Tionghoa Tetap Tionghoa

Gerbang Kehormatan di Kamp Cina di Batavia menyambut Ratu Wilhelmina pada 6 September 1898
Netralnews/Dok.KITLV
Gerbang Kehormatan di Kamp Cina di Batavia menyambut Ratu Wilhelmina pada 6 September 1898

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - “Sekali Tionghoa tetap Tionghoa.” Keseragaman yang kuat, ras yang bersatu padu, terpisahkan oleh lautan dan tapal batas, pada hakikatnya adalah rakyat yang sama-sama mewarisi peradaban Tionghoa

Paragraf di atas ditulis CP Fitzgerald dalam The Third China (1965: 82). Fitzgerald berusaha menggambarkan bagaimana kecenderungan perwatakan dan perilaku orang Tionghoa perantauan di mana saja berada.

Pandangan Fitzgerald  juga diperkuat oleh Charles A Coppel dalam Tionghoa Indonesia dalam Krisis (1994: 31-32). Pertanyaannya, mengapa disebut demikian?

Totok dan Peranakan

Coppel menyebut orang Tionghoa cenderung kepala batu dalam memegang teguh budayanya namun juga sangat piawai dalam menyesuaikan diri dengan budaya di mana ia tinggal saat merantau (budaya setempat).

Orang Tionghoa yang datang ke Wilayah Nusantara tidaklah homogen dan datang secara bergelombang. Sebagian memang berasal dari propinsi-propinsi di Fukien dan Kwangtung. Secara kultural, mereka berlaianan antara yang satu dengan lainnya.

Dalam penggunakan bahasa dialek pun kadang tidak saling memahami walau sama-sama beretnis Tionghoa. Dan di abad ke-20, mereka yang merantau dari daerah itu juga ditandai dengan latar belakang pendidikan yang rendah.

Oleh sebab itu kemudian timbul gerakan untuk mengharuskan sekolah-sekolah Tionghoa agar menggunakan bahasa pengantar kuo-yu (Tionghoa Mandarin) sebagai cara untuk mengatasi perbedaan dalam bahasa.

Keragaman para perantau juga ditambah ketika sudah berada di Nusantara. Para keturunan mereka mengalami pembauran sehingga melahirkan budaya-budaya campuran sehingga menjadi “penduduk Tionghoa yang berakar setempat”.

“Biasanya bila suatu daerah Indonesia dihuni oleh orang Tionghoa dalam jumlah cukup besar sebelum abad ini, sekarang ini menjadi masyarakat Tionghoa yang banyak hal bercorak dua” tulis Skinner dalam The Chinese Minority (1963: 103).  

Ketika mereka sudah menetap di daerah perantauan, orientasi ke Tiongkok  pun ikut dipengaruhi dan menjadi lebih berkurang.

Dalam catatan Skinner, perbedaan budaya Tionghoa di negeri rantau dipengaruhi oleh faktor lamanya di rantau, lamanya imigran wanita datang, dan perbandingan antara jumlah Tionghoa dengan warga pribumi di daerah itu.

Ini pula yang kemudian berpengaruh terhadap lahirnya konsep Tionghoa totok dan peranakan. Tionghoa totok  dianggap sebagai Tionghoa yang masih murni dan asli sedangkan peranakan berasal dari campuran atau sudah tidak murni.

Tionghoa peranakan banyak lahir di era sebelum abad ke-20 di mana di masa itu belum banyak kaum wanita imigran dari Tiongkok berdatangan ke Nusantara. Akibatnya, laki-laki Tionghoa sering menikah dengan kaum pribumi.

Salah satu ciri khas yang menandai kaum Tionghoa peranakan adalah bahasa yang digunakan sehari-hari adalah menggunakan bahasa Melayu atau bahasa-bahasa daerah lain di Nusantara.      

Berbeda dengan perantauan yang datang mulai abad ke-20 baik dari Hokian, Hakka, Kanton, dan Teochiu, setibanya di Nusantara berusaha tetap mempertahankan bahasa asli mereka.

Dengan pengelompokan pemakaian bahasa sehari-hari, etnis Tionghoa di Nusantara akan bisa ditengarai mana yang disebut totok dan mana yang disebut peranakan. Hanya saja, mereka yang peranakan jauh lebih sulit karena pembaurannya (asimilasi) dengan pribumi sudah sangat masif.

Dalam konteks itulah, Tionghoa peranakan menjadi tidak bisa disebut sebagai asli ”pribumi”. Di sisi lain mereka juga tidak bisa disebut sebagai “totok”.

Di daerah tertentu dan era tertentu, mereka ini justru ikut menentukan lahirnya etnis baru. Misalnya di Batavia. Pengaruh Tionghoa terhadap penduduk Batavia perdana hingga abad ke-20 memberikan pengaruh sangat besar bagi lahirnya etnis Betawi.

Sementara jika dilihat dari aspek linguistik, Coppel berusaha menganalisa berdasarkan data sensus penduduk di Nusantara tahun 1920. Menurutnya, 40 persen dari seluruh Tionghoa di Nusantara tidak lagi menggunakan bahasa asli yang digunakan di Tiongkok.

Tionghoa yang berjumlah 40 persen itu lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia untuk percakapan sehari-hari. Ini menjadi catatan penting untuk menunjukkan bagaimana etnis Tionghoa di Indonesia mengalami akulturasi bahasa dan semakin menambah keragaman etnis Tionghoa

Tabel Komunitas Tionghoa Peranakan dan Totok tahun 1920

Menjadi Penduduk Perdana di Batavia

Untuk melihat bagaimana gambaran lebih detail mengenai kondisi etnis Tionghoa di Nusantara mengalami pembauran, bisa kita tengarai dengan menyimak sejarah etnis Tionghoa di Jakarta perdana yang dahulu dinamakan Batavia.

Melongok sejarah asal mula Batavia, ternyata mayoritas penduduk paling awal di kota ini bukanlah pribumi tetapi adalah orang-orang Tionghoa yang direkrut Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sejak abad ke-17.

Tahun 1619, armada VOC berhasil memukul mundur penguasa Kota Jayakarta. VOC kemudian membangun Kota Batavia yang kelak berubah nama menjadi Jakarta. Kota ini dijadikan sebagai pusat pangkalan armada Belanda dalam upaya menguasai seluruh wilayah Nusantara.

Berdasarkan catatan Lance Castles dalam Profil Etnik Jakarta (2007), di era tersebut sebenarnya wilayah Batavia lama (sekarang sekitar Kota Tua) masih sangat jarang penduduknya. Daerah ini menjadi wilayah perbatasan kekuasaan Kesultanan Banten dan Cirebon.

Pada abad 17-18, VOC sengaja tidak mengerahkan orang-orang Jawa (pribumi) yang berasal dari daerah Selatan atau pedalaman. VOC merasa lebih aman bila tidak merekrut mereka. Orang-orang Jawa yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sunda dicurigai tidak pro-VOC.

Orang-orang Jawa atau pribumi pada pembangunan Kota Batavia, tinggal di wilayah luar tembok kota (Ommelanden). Awalnya jumlahnya relatif sedikit. Baru pada akhir abad ke-19 jumlah mereka semakin banyak. Mereka berdatangan sebagai imigran yang ingin mengadu nasib di Batavia.

Jan Pieterszoon Coen sebagai Gubernur Jendral VOC, lebih percaya pada orang-orang dari luar Jawa. Ia memerintahkan anak buahnya merekrut orang-orang Tionghoa, tawanan dari Banda yang telah ditaklukkan, orang Moor dari India Selatan, Arab, Bali, Bugis, Ambon, Melayu, dan kaum Mardijkers. Mulai 1636, VOC juga merekrut sejumlah tentara bayaran dari Jepang.

Namun dari semua itu, ternyata jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan kaum budak yang dibawa VOC ke Batavia.

Kaum budak yang dipekerjakan membangun kota berasal dari Pantai Coromandel, Malabar, dan Burma (sekarang Myanmar). VOC membeli para budak di pasar budak yang kala itu berpusat di Arakan, Burma. Sementara, budak lain juga diperoleh dari Bali dan Sulawesi Selatan.

Hingga abad ke-18, selama terus menerus dibangun, ada banyak kejadian yang menyebabkan timbulnya wabah kematian massal. Kala itu, malaria, kolera, dan disentri, merupakan malapetaka yang paling ditakuti.

Setiap kali terjadi kematian massal, VOC mendatangkan kembali budak dari Burma (mayoritas laki-laki), Bali dan Sulawesi (kebanyakan perempuan). Keturunan yang beranak pinak dari budak paling awal, juga sangat membantu VOC dalam mengendalikan sumber daya manusia yang dibutuhkan.

Ada sejumlah budak beragama Kristen juga dimerdekakan (Mardijkers). Jumlah mereka juga semakin besar.

Selain itu, juga ada imigran bebas yang berdatangan tanpa sengaja direkrut VOC. Mereka biasanya ingin mengadu nasib di Batavia, baik dari Jawa maupun luar Jawa.

Dari luar Jawa, imigran baru berasal dari India yang disebut Toepassen atau "penerjemah" dalam Bahasa Portugis. Mereka menggunakan Bahasa Portugis sebagai lingua franca. Juga ada pendatang dari Pampanga, Luzon, dan disebut Papanger.

Kaum Papanger dan Mardijker yang banyak berdarah campuran (Mestizo), pernah suatu masa sangat berpengaruh dalam masyarakat di sekitar Ommelanden. Mereka berbaur dengan tetap menggunakan Bahasa Portugis.

Corak bahasa dan seni Portugis ikut mewarnai keseharian Batavia. Sisa-sisa peninggalan budayanya dapat dilihat dari musik Keroncong Tugu dan musik Tanjidor.

Namun pada abad ke-19, terjadi perubahan sangat mencolok. Perubahan budaya masyarakat Batavia terjadi karena peleburan berbagai unsur, yaitu budaya Islam dari Arab dan Melayu, budaya Bali dan Indonesia Timur lainnya, serta budaya Tionghoa.

Logat Bahasa Portugis yang sebelumnya kental berganti dengan logat baru yang kemudian dinamakan logat Betawi atau “omongan ala Jakarta”.

Di kemudian hari, orang-orang dari percampuran darah dan budaya inilah yang disebut sebagai etnis Betawi. Jadi, etnis ini relatif muda dan lahir dari rahim Batavia.

Berdasarkan data statistik yang dimuat dalam Dagh-Register (1673), catatan Jendral Raffles dalam History of Java, dan Encyclopaedia van Nederlandsch Indie (1893), dapat diketahui gambaran komposisi etnik penduduk Batavia.

Dari data di bawah ini, terbukti bahwa mayoritas penduduk perdana di Batavia bukanlah kaum pribumi.

Sumber: Castles, Lance. Profil Etnik Jakarta (2007) Catatan: Data penduduk tahun 1673, tidak termasuk anggota militer yang terdiri dari 1.260 orang Belanda, Eropa, dan Jepang, serta 359 orang pribumi.

Teguh Hati dan Tahan Banting

Mengenai bagaimana keteguhan hati dan betapa keras kepalanya etnis Tionghoa sehingga mampu bertahan hidup dengan berbagai rintangan dapat dilihat ketika mereka sempat menjadi warga mayoritas namun kemudian mengalami penindasan.

Dari total sekitar 60.000 penduduk Batavia, jumlah orang Tionghoa pada tahun 1719 mencapai sekitar 11.641 orang, kemudian di tahun 1739 sekitar 14.773 orang, belum termasuk mereka yang tinggal di luar benteng yaitu 10.574 yang tersebar termasuk di wilayah Tangerang.

Kontrol dan upaya menghambat laju pertumbuhan penduduk Tionghoa ternyata gagal dibendung. Ledakan penduduk Tionghoa membuat Belanda semakin khawatir.

VOC kemudian mengeluarkan ordonansi dan merazia mereka yang tidak punya surat yang sah. Mereka ditangkap dan dikirim ke Sailon, Srilangka. Desas-desus beredar bahwa sebagian dari mereka dibuang ke laut.

Akibatnya sejumlah orang Tionghoa melakukan perlawanan dan mereka dituduh merencanakan pemberontakan. Bulan Oktober 1740, tentara kompeni menyapu warga Tinghoa di Batavia dengan pembunuhan dan penangkapan besar-besaran.

Dalam tragedi berdarah tersebut, tak kurang 10.000 Tionghoa terbunuh. VOC menyebut peristiwa itu sebagai “pemberontakan Cina” di Batavia.

Dampak peristiwa itu menjadi salah satu penyebab penting terjadinya migrasi besar-besaran warga Tionghoa ke Tangerang. Mereka yang berhasil lolos dari pembantaian menetap di sekitar Barat dan Timur benteng.

Di antara mereka yang mampu, kemudian bisa membeli lahan kepada VOC dan menjadi tuan-tuan tanah baru. Sementara itu, mereka yang tak mampu kemudian hidup bercocok tanam, menjadi pedagang, pengumpul hasil bumi, dan lain-lain.

Keragaman profesi mereka bisa dilihat hingga sekarang. Banyak orang Tionghoa tinggal di daerah tersebut yang kemudian mendapat julukan “Cina Benteng”.  Mereka pernah hidup dengan menjadi penarik becak, petani, penjaja makanan, dan sebagainya.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?