• News

  • Singkap Sejarah

Kisah Tionghoa Playboy: Binal di Usia Belia, Usai Bulan Madu Selingkuhi Janda

Eksekusi hukum gantung Oey Tamba Sia di Batavia tahun 1856
Netralnews/Dok.KITLV
Eksekusi hukum gantung Oey Tamba Sia di Batavia tahun 1856

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ini adalah kisah yang sangat terkenal pada abad ke-19  tentang sosok pemuda Tionghoa playboy kelas berat yang menggegerkan Jakarta tempo dulu (Batavia). Kisahnya populer dari masa ke masa.

Selain karena kaya raya, ia tampan, memiliki banyak wanita simpanan, namun mati di tiang gantungan di usia muda (31 tahun). Ia dilahirkan tahun 1827 dan dijatuhi hukuman mati pada 7 Oktober 1856.

Dialah Oey Tamba Sia yang kadang disebut juga Oeij Tambah Sia (sering disebut dengan nama keliru Oey Tambahsia). Istilah “sia” adalah tanda kehormatan bagi anak-anak Tionghoa berpangkat di masa itu.

Oey Tamba mamang pemuda yang beruntung karena lahir dari Tionghoa berada berpangkat Luitenant der Chinezen bernama Oey Thay Lo. Sayang, ayahnya hanya sempat menjabat letnan beberapa tahun karena kemudian meninggal dunia.

Ditinggal mati ayahnya bukan membuat Oey Tamba menjadi menderita. Ia justru menjadi pemuda belia yang kaya raya berkat warisan peninggalan ayahnya.

Setidaknya ia menerima beberapa bidang tanah luas di Pasar Baru, daerah Curug, Tengerang yang disewakan 95.000 Gulden per tahun, tanah di daerah Pintu Kecil Batavia yang disewakan per tahun 40.000 Gulden per tahun.

Di samping tanah, ia juga menerima rumah, barang dagangan, uang, dan perhiasan senilai tak kurang dari dua juta Gulden. Rupanya, warisan harta karun yang seolah jatuh sekonyong-konyong itu, membuat Oey Tamba lupa daratan.

Ia tidak pernah merasakan artinya bekerja keras mengumpulkan kekayaan tetapi langsung menikmati gelimang kemewahan. Alhasil, kejiwaannya menjadi terguncang. Munculah tabiat-tabiat buruk, khas seorang anak yang tak tahu menghargai kerja tetapi haus dan rakus akan kenikmatan dunia.

Toko Tiga di Batavia (foto: KITLV)

Ia menjadi pemuda yang congkak dan meremehkan orang lain bahkan tak pernah bersikap sopan terhadap pejabat Tionghoa di Batavia. Menurutnya, para pejabat tak lain hanyalah budak bagi orang lain.

Anggapan itu disebabkan karena saat ayahnya masih hidup, Oey Tamba melihat para pejabat Tionghoa di Batavia sering menerima sumbangan uang dari ayahnya. Dengan cara itu, ayahnya disegani dan segala kehendak ayahnya dituruti oleh para pejabat.

Saking sombongnya, konon setiap kali buang hajat, Oey Tambah membersihkan pantat dari kotorannya dengan lembaran uang kertas. Uang itu kemudian dibuang di kali dan pernah membuat orang-orang berkelahi karena memperebutkan uang itu.

Perilaku yang tak kalah menghebohkan adalah kegemarannya bermain perempuan sejak usia belasan. Sebagai orang kaya raya, baginya segalanya mudah saja diraih asal ada uang termasuk dalam menggaet perempuan baik gadis, janda, maupun istri orang lain.

Suatu ketika, ibu Oey Tamba (istri Oey Thay Lo) sangat khawatir dengan perilaku anaknya. Ia mencari cara agar anaknya jangan sampai memiliki istri sah yang tidak tepat. Oey Tamba kemudian dibujuk agar mau menikah dengan cara baik-baik.

Dengan menikah dan memiliki istri sah, ibundanya berharap agar kebinalannya bisa disembuhkan. Permintaan itu ditanggapi Oey Tamba dengan syarat diizinkan menentukan sendiri siapa calon istrinya. Syarat itu pun dikabulkan ibunya.

Di masa itu bukanlah hal lazim seorang pemuda memilih jodohnya sendiri. Biasanya jodoh ditentukan oleh orang tua mereka.

Demi memenuhi permintaan ibunya, Oey Tamba yang kala itu berusia 17 tahun, setiap sore berkeliling menelusuri penjuru kota Batavia dengan menaiki kuda blasteran Arab-Sandelwood kesayangannya. Ia tebarkan pandangannya mengincar perempuan yang menurutnya paling jelita.

Mulanya ia hanya menjelajahi “kota” Batavia (dahulu hanya wilayah sekitar Glodok-Pancoran, sampai pasar ikan) namun calon pujaannya belum ditemukan. Ia kemudian memperluas wilayah penjelajahan hingga Pasar Baru dan Senen.

Suatu sore, ia melihat perempuan jelita anak keluara Sim di Jalan Kenanga. Keluarga Sim sebenarnya terbiasa memingit anak perempuannya dengan ketat, namun hari itu Oey Tamba berhasil melihatnya tanpa sengaja.

Oey Tamba langsung jatuh hati. Dengan segala cara, Oey Tamba berusaha meminangnya dan usahanya memang berhasil. Keluarga Sim tak bisa menolak pinangan dari Oey Tamba, pemuda Tionghoa yang terkenal kaya raya itu.

Daerah Pecinan di Kali Besar Batavia (1910-1920)

Pernikahan Oey Tamba digelar dengan sangat meriah selama berhari-hari. Konon, pesta pernikahannya tidak tanggung-tanggung meriahnya dan belum pernah ada tandingannya di Batavia .

Selain dimeriahkan dengan pertunjukkan wayang, tayuban, kembang api, arak-arakan, jalan umum Patekoan dari Jembatan Toko Tiga sampai ujung jalan Patekoan juga ditutup untuk digunakan sebagai tempat pesta, lengkap dengan tenda-tenda yang didirikan di sepanjang jalan.

Penutupan jalan itu sebenarnya sempat diprotes anggota Dewan Tionghoa. Namun, namanya orang kaya, semuanya bisa dibeli. Untuk pesta itu, Oey menghadap tuan Residen di Batavia. Bukan mendapat larangan namun ia justru diizinkan menutup jalan selama sebulan.

Pesta pernikahan yang meriah itu konon banyak dihadiri pejabat Belanda namun banyak pejabat Tionghoa yang tak berkenan hadir karena tidak suka dengan tabiat Oey Tamba.

Dan memang benar, tabiat buruknya ternyata kambuh lagi. Harapan ibundanya agar Oey Tamba tidak binal usai menikah, ternyata tidak kesampaian. Begitu bulan madu dengan istri sahnya selesai, Oey Tamba kembali kepada perilaku bejatnya.

Ia tak pernah pulang menemui istri yang baru dinikahinya tetapi memilih menghabiskan hari-harinya di rumah “Bintang Mas” di Ancol. Di rumah itu ada perempuan simpanannya yakni  bekas istri (janda) tukang kelontong.

Entah apa yang menjadi kelebihan dari janda tukang kelontong dibanding istrinya yang sah dan jelita itu. Yang pasti, janda selingkuhan Oey Tamba ini memang sudah menjadi perempuan simpanannya sejak sebelum ia menikah.

Janda itu direbut oleh Oey Tamba dari suami sahnya di daerah Tongkangan. Wanita cantik milik orang lain itu berhasil dipikat dengan ketampanan dan hartanya yang berlimpah sehingga sang perempuan mau mengkhianati suaminya yang sehari-hari berkeliling menjajakan dagangan.

Sekali, dua kali wanita itu dibawa kencan di rumah “Bintang Mas”. Namun ketiga dan keempat, perselingkuhan diketahui oleh suaminya yang sah. Lelaki malang itu berusaha merebut belahan jiwanya dari tangan Oey Tamba namun sia-sia.

Ia bahkan pernah melabrak ke rumah “Bintang Mas” untuk menemui istri dan Oey Tamba namun tak berhasil karena dihalang-halangi anak buah Oey Tamba. Saking sakit hatinya, tukang kelontong itu akhirnya bunuh diri dengan menceburkan diri ke laut sehingga mayatnya tak pernah ditemukan.

Usai menikah dan berselingkuh dengan janda pedagang kelontong, perilaku gemar bermain perempuan bukan kemudian berakhir. Ia semakin menggila. Banyak gadis maupun istri orang yang bisa dipikatnya akan dibawa ke rumah “Bintang Mas”.

Entah dengan iming-iming harta atau melalui kaki tangannya, perempuan-perempuan itu dijadikan sebagai pemuas nafsunya yang seolah tak pernah terpuaskan.

Saking takutnya dari ancaman sang playboy di Batavia itu, konon para orang tua selalu melarang anak-anak gadisnya berkeliaran atau sekadar melongokkan kepalanya ke pintu jika Oey Tamba melintas di depan rumah mereka.

Para orang tua tidak ingin anaknya menjadi korban Oey Tamba yang dianggap telah menjadi predator kaum perempuan alias playboy masyarakat Betawi.

Namun, kisah sang playboy ternyata berakhir tragis. Sepandai-pandainya orang berbuat jahat, suatu ketika akan jatuh juga.

Karena tuduhan telah terlibat dalam rangkaian pembunuhan di Batavia, oleh pengadilan Kolonial Belanda di Batavia, Oey Tamba dihukum mati dengan cara digantung.

Bagaimana kisah itu terjadi? Netralnews.com akan sajikan dalam artikel berikutnya.

Demikianlah sepenggal kisah kenangan Jakarta tempo dulu yang penulis sajikan ulang berdasar catatan Siswandhi berjudul “Oey Tambahsia, Playboy Betawi yang Tewas di Tiang Gantungan” dalam buku Batavia: Kisah Jakarta Tempo Doeloe (1988). 

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?