• News

  • Singkap Sejarah

Akhir Petualangan Keji Tionghoa Mata Keranjang, Mati di Tiang Gantungan

Eksekusi hukum gantung Oey Tamba Sia di Batavia tahun 1856
Netralnews/Dok.Tropenmuseum
Eksekusi hukum gantung Oey Tamba Sia di Batavia tahun 1856

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ini adalah catatan sejarah bagian ketiga atau bagian terakhir yang mengulas tentang kisah hidup Oey Tamba Sia (1827-1856), playboy Betawi yang selalu dikenang sepanjang zaman. Kehidupannya memberikan gambaran era Jakarta tempo dulu, selain dua artikel Singkap Sejarah yang netralnews.com telah sajikan sebelumnya.

Selain melakukan pembunuhan berencana terhadap Mas Sutejo, kakak dari MA Gunjing, Oey Tamba juga melakukan fitnah keji yang ditujukan untuk menjatuhkan Liem Su King, menantu Mayor Tan Eng Goan.

Di mata Mayor Tan Eng Goan, Liem Su King dianggap sebagai pria Tionghoa yang berkelakuan baik, rajin, dan pandai. Kepandaiannya terbukti di kemudian hari ketika ia mampu menjungkirbalikkan tuduhan telah melakukan pembunuhan terhadap anak buah Oey Tamba.

Berkat mertuanya, Liem Su King menjadi kuasa gabungan pemborong (pachter) perdagangan madat di Batavia. Kala itu, pemerintah Hindia Belanda melegalkan perdagangan madat dan pemasarannya diserahkan kepada para pachter.    

Perselisihan Liem dengan Oey Tamba berawal dari informasi kaki tangan Oey Tamba yang menyebutkan bahwa salah satu perempuan kerabatnya jatuh hati kepada Liem. Oey Tamba tidak suka dan menganggap hal itu sebagai aib.

Bisa jadi, juga ada unsur dendam dan ketidaksukaan terhadap Liem yang dalam masyarakat Betawi kala itu, namanya semakin terkenal. Hal itu dianggap sebagai saingan. Oleh sebab itu, Oey Tamba berusaha melenyapkan Liem.

Ia merancang skenario jahat. Di hari yang ditentukan, ia memanggil salah satu anak buahnya yang bernama Cun Ki. Cun Ki segera datang ke rumah Oey Tamba dan dijamu dengan sajian kue dan teh sebagai wujud penghargaan karena selalu setia mencarikan perempuan-perempuan simpanan bagi Oey Tamba.

Mayor Tan Eng Goan

Cun Ki yang kelaparan segera menyantap hidangan itu. Ia tidak tahu, ternyata makanan itu telah ditaburi racun mematikan.

Ketika racun bereaksi, Oey Tamba berkata, “Sungguh kau harus mati. Tetapi jangan khawatir. Aku akan mengurus segalanya dan menjamin hidup keluargamu kalau kau mau menuruti kehendakku,” tutur Oey Tamba.

Cun Ki tak berdaya. Ia mengerang karena perutnya terbakar. Badannya semakin lemas. Ia merasa hidupnya memang selalu dibantu oleh Oey Tamba tetapi ia sebenarnya tak menyangka akan mati di tangan tuannya sendiri.

Di bawah tekanan batin dan desakan Oey Tamba, Cun Ki akhirnya mau menandatangani surat keterangan di depan notaris yang dipanggil Oey Tamba dengan disaksikan polisi. Surat ditulis dengan didiktekan Oey Tamba dan disalin Cun Ki sebelum mendekati ajal.

Surat itu berisi pernyataan bahwa Cun Ki sebelumnya diminta menagih hutang ke Liem Su King oleh Oey Tamba. Saat di rumahnya, Cun Ki dijamu dengan minuman yang disedikan Liem. Usai meneguk minuman itu, perut Cun Ki merasa  nyeri, kemudian pulang dan melapor ke Oey Tamba.

Cun Ki menyatakan bahwa ia telah diracun oleh Liem Su King. Usai menandatangani surat, Cun Ki mati dan mayatnya dibawa ke rumah sakit di Glodok (stadsverband).

Oey Tamba kemudian memenuhi janjinya dengan memberikan bantuan penguburan dan mengirim sejumlah harta bagi keluarga Cun Ki. Sementara aparat menindaklanjuti surat pernyataan yang telah dibuat Cun Ki sebelum meninggal.

 

Liem Su King ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. Tentu saja ia terkejut. Namun ia patuh mengikuti proses penyelidikan.

Mertua Liem Su King, Mayor Tan Eng Goan turun tangan. Ia berhasil menunjukkan bukti bahwa saat kejadian, Liem Su King tidak berada di lokasi kejadian seperti yang dituduhkan. Kala itu, Liem Su King sedang bermain judi bersama empat orang teman judinya.

Salah satu teman judi adalah seorang jaksa dari Bekasi. Mereka membuat surat pernyataan yang kemudian diserahkan ke pihak polisi. Pihak polisi sebenarnya juga sudah merasakan adanya sejumlah keganjilan.

Kebiasaan Liem berjudi ternyata membuatnya bisa keluar dari tahanan.

Liem yang pandai segera bertindak. Ia melacak jejak penyebab kematian Cun Ki. Ia berhasil mengorek keterangan seorang koki pembuat kue di rumah Oey Tamba. Koki itu mengaku diminta membuat kue dan kue itu ditaburi bubuk misterius oleh Oey Tamba.

Liem Su King segera melaporkan temuannya kepada Asisten Residen Keuchenius. Rumah Oey Tamba kemudian digeledah. Saat penggeledahan, kebetulan Oey Tamba sedang tidak di rumah. Ia teledor, sisa kue yang dimakan Cun Ki masih tersimpan di kolong tempat tidurnya.

Terbukti, kandungan racun dalam kue itu sama dengan jenis racun yang ada dalam tubuh Cun Ki. Alat bukti berhasil diperoleh sangat telak. Oey Tamba terancam dalam bahaya.

 

Tidak hanya itu saja. Liem Su King juga berhasil membongkar persekongkolan anak buah Oey Tamba dalam kasus pembunuhan Mas Sutejo seperti telah dipaparkan dalam artikel yang disajikan Netralnews sebelumnya yang berjudu “Kisah Bengis Tionghoa Hidung Belang, Usai Gauli Sinden Bunuh Sang Abang.”

Oey Tamba segera ditangkap dan ditahan schout (pejabat kepolisian). Ia sempat berusaha menyuap para pejabat kepolisian. Oey Tamba mengira harta kekayaannya masih mampu membuatnya lolos dari jerat hukum.

Bila petualangan-petualangan sebelumnya selalu mulus berkat uang pelicin yang dihambur-hamburkannya, kali ini ia gagal. Di dalam persidangan ia berusaha menghindar dari semua tuduhan pembunuhan berencana.

Ia minta bantuan pengacara terkenal kala itu yakni Mr B Bakker. Walaupun pengacara itu sangat pandai, di tengah pengadilan ternyata tak bisa menyangkal dari bukti-bukti yang diajukan penuntut umum.

Hukuman berat dijatuhkan pengadilan. Oey Tamba tidak terima. Ia mengajukan banding. Di tingkat Mahkamah Agung, putusan sebelumnya dibenarkan bahkan diperkuat. Tinggal satu harapan, Oey Tamba kemudian mengajukan grasi kepada Gubernur Jenderal.

Grasi turun selang beberapa lama. Isinya, Gubernur Jenderal menolak permohonan pengampunan yang diajukan Oey Tamba. Pada 7 Oktober 1856, masyarakat Betawi berkumpul di depan kantor Gubernur. Mereka menyaksikan peristiwa bersejarah.

Oey Tamba menjalani eksekusi hukuman mati dengan cara digantung. Dengan pakaian rapi, pemuda Tionghoa yang masih berumur 31 tahun dan terkenal sebagai playboy Batavia berjalan menuju tiang gantungan. Pakaiannya perlente.

Kedua kaki tangannya yang membunuh Mas Sutejo yakni Piun dan Sura juga berjalan di sampingnya.

Ketiganya tewas dalam jeratan tali di leher bersamaan dengan tubuh mereka yang bergelantungan. Maka berakhirlah petualangan Oey Tamba, Pemuda Tionghoa yang bermata keranjang.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?