• News

  • Singkap Sejarah

Tionghoa Muslim Tak Dianggap Islam, Karena Mendewakan Cheng Ho?

Kelenteng Sam Po Kong di Semarang, Jawa Tengah
foto: situsbudaya.id
Kelenteng Sam Po Kong di Semarang, Jawa Tengah

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dalam berbagai sumber sejarah, Cheng Ho (1371-1433) disebut-sebut sebagai seorang kasim (atau sida yakni orang yang sudah dikebiri) dan menganut agama Islam. Ia merupakan salah satu kepercayaan Kaisar Yongle atau kaisar ketiga dari Dinasti Ming di Tiongkok (1403-1424), .

Cheng Ho adalah keturunan suku Hui, salah satu suku di Tiongkok yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam. Nama asli Cheng Ho adalah Ma He. Ada sejumlah sebutan lain yang pernah disematkan kepadanya, antara lain Ma Sanbao, Sam Po B, Zheng He, dan Haji Mahmud Shams.

Cheng Ho pernah melakukan pelayaran ke Nusantara dan dipercaya ikut melakukan penyebaran agama Islam pada abad ke-15. Hal itu mengakibatkan sosok Cheng Ho sangat dihormati baik oleh kalangan Tionghoa muslim maupun nonmuslim.

Anehnya, antara Tionghoa penganut agama Islam dan Tionghoa nonmuslim, keduanya sama-sama memuja Cheng Ho. Keunikan lain, masjid yang didirikan Cheng Ho kemudian berubah menjadi Kelenteng Sam Po Kong dan menjadi tempat pemujaan bagi kedua kelompok.

Setelah Cheng Ho wafat pada tahun 1433, di beberapa daerah, sistem kepercayaan etnis Tionghoa mengalami evolusi. Hal itu disebabkan karena adanya persinggungan antara agama, budaya Tionghoa, dan budaya lokal di daerah yang disinggahi kaum Tionghoa perantauan.

“Ironisnya, konflik di sekitar Cheng Ho yang menjulang tinggi, seorang tokoh yang sangat dipuja kaum China Muslim maupun kelompok China imigran,” tulis Tan Ta Sen dalam Cheng Ho: Penyebar Islam dari China ke Nusantara (2018: 311).

Bagi Tionghoa pemegang budaya Tiongkok (Tionghoa non-Islam) dan Tionghoa yang menganut agama Islam, Cheng Ho dianggap sebagai ikon heroik atau patron spiritual dan duniawi. Ia adalah penggerak utama dalam Islamisasi bagi kalangan Tionghoa di Nusantara.

“Sepeninggal Cheng Ho, komunitas Islam di Semarang menyelenggarakan Salat Ghaib,” tulis Graaf dan Pigeaud seperti dikutip Tan Ta Sen.

Namun, dalam ajaran Islam, pemasangan dan pemujaan patung dilarang. Oleh sebab itu, Cheng Ho diabadikan melalui berbagai legenda oleh komunitas Tionghoa muslim.

Di sisi lain, bagi Tionghoa penganut non-Islam, Cheng Ho juga sangat dipuja. Ia juga dianggap sebagai tokoh heroik dan sebagai pelindung atau penjaga orang Tionghoa perantauan. Setelah Cheng Ho wafat, mereka mengubah masjid-masjid yang pernah dibangun Cheng Ho menjadi kelenteng-kelenteng Sam Po Kong.

Kelenteng-kelenteng itu dibangun sebagai upaya menghormati Cheng Ho. Bersamaan dengan itu, berkembang pula ritual pemujaan terhadap Cheng Ho. Dalam konteks ini, Cheng Ho dianggap sama seperti tokoh-tokoh pahlawan Tionghoa yang dihormati dalam ritual pemujaan.

Tokoh pahlawan dalam sejarah Tionghoa didewakan karena perilaku selama hidup  patut diteladani, di antara tokoh itu adalah Mazu (Dewi Laut), Guandi (Bangsawan Guang Gong), Guan Yin (Dewi Kerahiman), dan Cheng Ho.

Patung Cheng Ho ikut menghiasi kelenteng Sam Po Kong seperti di Semarang, Cirebon, Surabaya, dan Jakarta. Di kelenteng-kelenteng itu, patung Cheng Ho ikut disembah. Selain di Jawa, kelenteng yang menghormati Cheng Ho ternyata juga ada di Tiongkok, tepatnya di Desa Hongjian.

Seperti khasnya ritual lainnya, etnis Tionghoa saat berada di kelenteng akan menyalakan dupa lengkap dengan prosesi-prosesi tertentu yang unik dan mencirikan budaya Tionghoa.

Keberadaan Kelenteng Sam Po Kong sangat penting sebab di sinilah terjadi pertemuan dan persinggungan antara etnis Tionghoa penganut Islam dengan non-Islam. Di sisi lain, di sinilah terletak kunci yang membedakan ritual Etnis Tionghoa muslim dengan umat Islam dari etnis lain.

Umat Islam dari luar etnis Tionghoa, seringkali tidak melihat bagaimana evolusi budaya Tionghoa dan sistem keyakinan Agama Islam yang dianut Tionghoa. Apakah Tionghoa Muslim bukan termasuk dalam kelompok Islam pada umumnya?

Padahal, dalam kehidupan Tionghoa Muslim, juga memberlakukan atura ajaran Islam yang cukup ketat. Walaupun ritual juga menggunakan tradisi Tionghoa, misalnya penggunaaan dupa, akan tetapi ada juga batasan mana Tionghoa Islam yang benar dan mana yang tidak.

Pada abad ke-16, di Kesultanan Cirebon, terdapat peristiwa ironis. Seorang Tionghoa Muslim yang menjabat menteri Keuangan Kesultanan Cirebon pada tahun 1569 hingga 1585 dinyatakan sebagai seorang Muslim yang murtad. Ia adalah Tan Sam Cai.

Ia mengaku Islam dan sepanjang hidupnya, ia sering membakat dupa dan mengunjungi Kelenteng di Talang untuk berdoa. Namun ketika wafat, ia dilarang dimakamkan di Komplek Kesultanan.

Oleh istrinya yang bernama Nurleila binti Cong, jasad Tan Sam Cai kemudian dikuburkan di pekarangan rumahnya, lengkap dengan prosesi penguburan secara Islam.

Sementara itu, komunitas non-Islam, ikut mendoakan arwah Tan Sam Cai di kelenteng. Namanya ditulis dalam huruf Cina di atas kertas merah yang berada di Kelenteng Tionghoa di Talang. Ia juga dianggap sebagai tokoh penting dengan nama Sam Cai Kong.

Kisah Tan Sam Cai hanyalah salah satu contoh yang menggambarkan bagaimana etnis Tionghoa Muslim mendapat perlakuan yang berbeda dari sesama penganut Islam, tetapi berbeda etnis.

Padahal, di masa itu, tak sedikit etnis Tionghoa yang tertarik masuk Islam. Tak sedikit orang Tionghoa perantauan yang menikah dengan kaum pribumi kemudian menjadi Islam.

Namun memasuki abad ke-20 dan seterusnya, etnis Tionghoa di Nusantara lebih banyak yang memilih menjadi nonmuslim. Ini adalah salah satu hal yang patut direnungkan.   

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?