• News

  • Singkap Sejarah

Mengakui Islamisasi di Jawa Berkat Tionghoa Muslim, Tak Membuat Penganutnya Jadi Bejat

Masjid Astana Mantingan di Jepara, Jawa Tengah, tempo dulu
Netralnews/Wikipedia
Masjid Astana Mantingan di Jepara, Jawa Tengah, tempo dulu

SEMARANG, NETRALNEWS.COM - Umumnya, orang Indonesia beranggapan bahwa proses Islamisasi di Nusantara, khususnya di Jawa terjadi karena peranan syiar dari Arab dan India. Mereka biasa disebut sebagai kelompok “Islam Puritan”.

Kelompok tersebut sering menafikkan fakta sejarah bahwa peranan Tionghoa muslim memiliki peran yang sangat besar. Pandangan bahwa Islam di Nusantara berasal dari Arab (teori Arab) dianggap lebih murni ketimbang teori non-Arab.

Dengan demikian, penyebaran Islam oleh orang-orang selain Arab seolah akan “menodai” keislaman. Bagi mereka, dunia Arab (tradisi, orangnya, makanannya, dan sebagainya) adalah segalanya karena Islam lahir di daerah tersebut.

“Mereka melupakan seolah kesalehan hanyalah milik bangsa Arab. Padahal, ‘dunia Arab’, selain menampilkan wajah-wajah saleh juga memunculkan wajah-wajah culas yang bejat,” tulis Sumanto Al Qurtuby dalam pidatonya yang berjudul “Islam di Tiongkok dan China Muslim di Jawa Pada Masa Pra-Kolonial Belanda” pada 28 Mei 2012 di IAIN Walisongo, Semarang.

Menurut Sumanta, Islam tidak akan berkurang derajat kesahihannya meskipun ada peran orang-orang non-Arab, dalam hal ini adalah peranan kaum Tionghoa muslim (dahulu sering ditulis China Muslim).

Dalam berbagai bukti sejarah jelas adanya fakta bahwa keislaman China lebih tua ketimbang Jawa. “Orang-orang China telah mengenal Islam di saat masyarakat Jawa hidup dalam dunia berhala dan klenik,” tambah Sumanto.

Tak sedikit agen sejarah yang turut mewarnai keislaman Jawa. Di antara mereka adalah orang-orang Tionghoa Muslim. “Bahkan peran China ini lebih meyakinkan ketimbang orang-orang Arab, khususnya Hadramaut sebagaimana yang selama ini dipegangi sementara umat Islam,” tandas Sumanto.

Bukti sejarah mengenai Islamisasi di Jawa oleh Tionghoa Muslim dapat kita ketahui dalam teks klasik China dalam buku Ming Shi (Sejarah Dinasti Ming) dan Ying-yai Shen-lan yang ditulis oleh Tionghoa Muslim bernama Ma Huan.

Sumber tersebut mengatakan bahwa masyarakat Tionghoa yang bermukim di Jawa berasal dari Kanton (Kwangchou), Zhangzhou (Chang-chou), Quanzhou (Chuan-chou) dan kawasan Cina Selatan yang telah meninggalkan Tiongkok dan menetap di pelabuhan-pelabuhan pesisir sebelah timur terutama Tuban, Gresik, dan Surabaya.

Pada abad ke-15, 0rang-orang Tionghoa tersebut memiliki kehidupan yang layak. Tak sedikit di antaranya telah menganut agama Islam yang taat beribadah.

Pernyataan Ma Huan bukanlah mengada-ada mengingat di daerah asal mereka di Tiongkok, memang merupakan kantong-kantong umat Islam yang telah menglamai persinggungan budaya dan sistem kepercayaan antara Tiongkok dengan Arab.

Sementara itu, proses Islamisasi oleh Tionghoa Muslim ke tanah Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-14 dan terus berlanjut di abad-abad berikutnya.

“Islam tidak lagi tampil sebagai ’community’ yang sporadis tetapi sudah menjadi ‘society’ yang terstruktur dengan sistem yang cukup baik dan rapi. Pada masa ini juga terjadi tonggak sejarah yang penting di Jawa: Kerajaan Majapahit hancur untuk kemudian berdiri kerajaan-kerajaan Islam (vorstendommen) di pesisir utara Jawa yang berpusat di Demak,” tulis Sumanto.

Gambaran bagaimana kehidupan dan pergolakan Tionghoa Muslim di masa itu, sangat apik dilukiskan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Arus Balik: Sebuah Epos Pasca Kejayaan Nusantara di Awal Abad ke-16.

Terlepas dari sejumlah kekurangan, Pramoedya berhasil menyodorkan beberapa fakta menarik tentang keberadaan beberapa tokoh Tionghoa Muslim yang sangat penting dalam proses perkembangan peradaban Islam di Jawa pada abad ke-16.

Tokoh-tokoh yang disebut Pramoedya antara lain Liem Mo Han (Babah Liem). Ia membantu ekspansi Kerajaan Demak dengan mengerahkan kekuatan Tionghoa untuk melawan Portugis. Ia juga terkenal sebagai arsitek dalam pembangunan sejumlah masjid seperti Masjid Mantingan di Jepara.

Babah Liem adalah Tionghoa Muslim dari Organisasi Nan Lung yang sangat dihormati oleh masyarakat Tionghoa di pesisir Utara Jawa pada masa itu. utara pulau Jawa. Organisasi Nan Lung dibentuk setelah ekspedisi Cheng Ho yang sangat melegenda itu.

Adapun hal yang patut dicermati dari pendapat Pramoedya adalah tentang sosok Sunan Kalijaga yang menurutnya adalah Putra Brawijaya, raja Majapahit dari seorang putri China Muslimah bernama Retna Subanci, putri Babah Ba Tong alias Tan Go Hwat.

Saat masih kecil, Sunan Kalijaga bernama Jaka Seca yang kelak menjadi Raden Said. Saat masih kecil ia dididik oleh Gouw Eng Cu di Lao Sam. Di masa dewasanya, Sunan Kalijaga ternyata lebih membela Demak ketimbang Tuban sebab Demak adalah perwujudan rezim Tionghoa.

Penggambaran Pramoedya tentang kondisi Tionghoa Muslim di pesisir Utara Jawa abad ke-16 sesuai dengan sumber dari portugis yang ditulis Tome Pires. Juga sejalan dengan catatan Ma Huan maupun Loedwicks dari Belanda.

Sumber-sumber itu mengatakan bahwa eksistensi Tionghoa Muslim di pesisir Jawa tak bisa dipungkiri. Hanya saja, mengenai pemaparan Pramoedya tentang asal-usul Sunan Kalijaga, terdapat perbedaan mencolok dibanding dengan sumber lain.

Dalam Babad Tanah Djawi, Serat Kanda, dan Tembang Babad Demak, disebutkan bahwa Sunan Kalijaga adalah anak kandung Adipati Tuban, Arya Teja dan bukan anak Brawijaya dari Putri Tionghoa yang dititipkan kepada Arya Teja.

Dalam Serat Kanda, Tionghoa Muslimah yang diperistri Brawijaya bernama Sio Ban Chi, putri Tionghoa Muslim bernama Syekh Bentong. Sedangkan anaknya bernama Jin Bun alias Raden Patah, Raja Demak pertama.

Entah karena sebab apa, Brawijaya kemudian menyerahkan Sio Ban Chi  kepada raja muda di Palembang yang bernama Arya Damar (bukan Arya Teja). Saat di Palembang itulah, Raden Patah dilahirkan.

Hanya saja, ada satu pendapat Pramoedya yang penting dicatat. Ia mengemukakan bahwa Sunan Kalijaga adalah berdarah Tionghoa. Pendapat serupa sebenarnya juga dikemukakan oleh sejarawan lain.

Prof. Muljana, dalam buku yang sempat dibredel pemerintah Orde Baru berjudul Runtuhnya Keradjaan Hindu-Djawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara juga menyatakan hal serupa.

Setelah mempelajari kronik-kronik Kelenteng Sampokong, Slamet Muljana juga menyatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah seorang arsitek Masjid Demak yang bernama asli Gan Si Cang.

Sejarawan lokal dari Demak yakni S Wardi juga berpendapat sama bahwa Sunan Kalijaga bernama asli Oei Sam Ik, putra Oei Tik To, Bupati Tuban.

Terlepas dari perbedaan sudut pandang tentang Sunan Kalijaga (termasuk beberapa tokoh Walisongo lainnya yang diduga juga berdarah Tionghoa), sangat jelas bahwa peranan Tionghoa Muslim dalam proses Islamisasi di Jawa pada masa-masa awal, sangatlah menentukan dan sangat penting.

Mereka bukan hanya berperan di bidang keagamaan, tetapi sesungguhnya juga memiliki banyak peran di berbagai bidang lain seperti pertukangan, perniagaan, pelayaran, perkapalan, arsitektur, dan sebagainya.

Sayangnya, selama ratusan tahun, dan sempat berlanjut puluhan tahun dalam pendidikan sejarah di sekolah, fakta tersebut tenggelam . Bahkan, peran Tionghoa Muslim dalam proses Islamisasi terkesan ditiadakan.

Alih-alih mengakui keberadaan teori arus Islam dari Tiongkok, justru keberadaan etnis Tionghoa sempat hilang dalam narasi Islamisasi di Nusantara. Kenyataan itu diperparah oleh praktik penerapan kebijakan negara yang diskriminatif terhadap etnis Tionghoa selama puluhan tahun sejak Indonesia merdeka.  

Editor : Taat Ujianto