• News

  • Singkap Sejarah

Rezim Tionghoa Bercokol di Jawa lewat Jihad, Bukti Islamisasi Tionghoa Muslim

Makam Raden Patah, raja Kerajaan Demak pertama
foto: pesonatravel
Makam Raden Patah, raja Kerajaan Demak pertama

DEMAK, NETRALNEWS.COM - Proses Islamisasi di tanah Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-14 dan terus berlanjut di abad-abad berikutnya. Proses tersebut bisa terjadi salah satunya berkat peranan kaum Tionghoa Muslim (kadang ditulis China atau Cina).

Pada masa ini juga terjadi tonggak sejarah yang penting di Jawa. Kerajaan Majapahit hancur untuk kemudian berdiri kerajaan-kerajaan Islam (vorstendommen) di pesisir utara Jawa yang berpusat di Demak.

“Islam tidak lagi tampil sebagai ’community’ yang sporadis tetapi sudah menjadi ‘society’ yang terstruktur dengan sistem yang cukup baik dan rapi,” tulis Sumanto dalam “Islam di Tiongkok dan China Muslim di Jawa Pada Masa Pra-Kolonial Belanda”.

Komunitas Tionghoa Perdana

Gambaran bagaimana kehidupan dan pergolakan Tionghoa Muslim perdana di Jawa, sangat apik dilukiskan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Arus Balik: Sebuah Epos Pasca Kejayaan Nusantara di Awal Abad ke-16.

Terlepas dari sejumlah kekurangan, Pramoedya berhasil menyodorkan beberapa fakta menarik tentang keberadaan beberapa tokoh Tionghoa Muslim yang sangat penting dalam proses perkembangan peradaban Islam di Jawa pada abad ke-16.

Tokoh-tokoh yang disebut Pramoedya antara lain Liem Mo Han (Babah Liem). Ia membantu ekspansi Kerajaan Demak dengan mengerahkan kekuatan Tionghoa untuk melawan Portugis. Ia juga terkenal sebagai arsitek dalam pembangunan sejumlah masjid seperti Masjid Mantingan di Jepara.

Babah Liem adalah Tionghoa Muslim dari Organisasi Nan Lung yang sangat dihormati oleh masyarakat Tionghoa di pesisir Utara Jawa pada masa itu. utara pulau Jawa. Organisasi Nan Lung dibentuk setelah ekspedisi Cheng Ho yang sangat melegenda itu.

Prramoedya juga menyebutkan salah satu tokoh Walisongo, yakni Sunan Kalijaga. Dalam Babad Tanah Djawi, Serat Kanda, dan Tembang Babad Demak, disebutkan bahwa Sunan Kalijaga adalah anak kandung Adipati Tuban, Arya Teja.

Ada satu pendapat Pramoedya yang penting dicatat. Ia mengemukakan bahwa Sunan Kalijaga adalah berdarah Tionghoa. Saat masih kecil, Sunan Kalijaga dididik oleh Gouw Eng Cu di Lao Sam. Di masa dewasanya, Sunan Kalijaga ternyata lebih membela Demak ketimbang Tuban sebab Demak adalah perwujudan rezim Tionghoa.

Pendapat serupa juga pernah dikemukakan oleh sejarawan lain, di antaranya adalah Prof. Muljana, dalam buku yang sempat dibredel pemerintah Orde Baru berjudul Runtuhnya Keradjaan Hindu-Djawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara.

Setelah mempelajari kronik-kronik Kelenteng Sampokong, Slamet Muljana menarik kesimpulan bahwa Sunan Kalijaga adalah seorang arsitek Masjid Demak yang bernama asli Gan Si Cang.

Sejarawan lokal dari Demak yakni S. Wardi juga berpendapat sama bahwa Sunan Kalijaga bernama asli Oei Sam Ik, putra Oei Tik To, Bupati Tuban.

Terlepas dari perbedaan sudut pandang tentang Sunan Kalijaga (termasuk beberapa tokoh Walisongo lainnya yang diduga juga berdarah Tionghoa), sangat jelas bahwa peranan Tionghoa Muslim dalam proses Islamisasi di Jawa pada masa-masa awal, sangatlah penting dan sangat menentukan proses selanjutnya.

Bukti lain tentang peran Tionghoa Muslim dikemukakan oleh Tan Yeok Seong seperti dikutip Tan Ta Sen dalam Cheng Ho: Penyebar Islam dari China ke Nusantara (2018: 335).

Dalam catatanya, sosok Walisongo yang bernama Raden Paku atau Sunan Giri, sejak kecil dididik oleh seorang Tionghoa Muslim bernama Nyai Gede Pinateh, alias Si Da-Jiem alias Sishi Daniangzi, yang merupakan anak sulung saudagar Tionghoa di Palembang yang bernama Shi Jinqing.

Dengan demikian, jelaslah bahwa keberadaan Tionghoa bukan hanya berperan di bidang keagamaan, tetapi juga memiliki banyak peran di bidang lain seperti pertukangan, pendidikan, perniagaan, pelayaran, perkapalan, arsitektur, dan sebagainya.

Penggambaran tentang kondisi Tionghoa Muslim di pesisir Utara Jawa abad ke-16 sesuai dengan sumber dari portugis yang ditulis Tome Pires. Juga sejalan dengan catatan Ma Huan, maupun Loedwicks dari Belanda. Semua sumber itu mengatakan bahwa eksistensi Tionghoa Muslim di pesisir Jawa tak bisa dipungkiri.

Masih ada satu lagi. Tokoh Tionghoa Muslim penentu lainya adalah pendiri Kerajaan Demak, yakni Raden Patah alias Jim Bun. Hal ini dapat dilihat dalam Serat Kanda, yang menyebutkan bahwa Raden Patah adalah anak dari Tionghoa Muslimah yang diperistri Brawijaya (Raja Majapahit), bernama Sio Ban Chi.

Sio Ban Ci adalah anak dari Tionghoa Muslim bernama Syekh Bentong. Uniknya, saat Jin Bun atau Raden Patah telah menjadi Raja Demak pertama, ia kemudian menyerang Kerajaan Majapahit yang merupakan kerajaan yang dikuasai ayah kandungnya sendiri.

Rezim Cina di Jawa Dibangun dengan Jihad

Dalam berbagai sumber sejarah Jawa seperti Babad Tanah Jawa dan Hikayat Melayu, seperti dikaji oleh De Graaf dan Pigeaud, rezim Tionghoa di Jawa di bawah Raja Demak pada abad ke-16, tak lepas dari peranan Sunan Kudus.

Sekitar tahun 1524, untuk pertama kalinya Kerajaan Majapahit diserang oleh kekuatan baru yang bercorak Islam yaitu pasukan dari Kerajaan Demak. Salah satu pemimpin penyerangan itu ternyata adalah imam masjid di Kudus. Sayangnya, pada serangn pertama mengalami kegagalan.

Imam masjid Demak yang gugur itu kemudian dianggap sebagai pahlawan Jihad untuk pertama kalinnya. Anaknya kemudian meneruskan cita-cita ayahnya, membantu Kerajaan Demak dalam meruntuhkan Majapahit.

Putra imam masjid Kudus itu tak lain adalah Sunan Kudus. Penyerangan dilakukan sekitar tahun 1527 dan berhasil memperoleh kemenangan. Dengan keberhasilan tersebut, Sunan Kudus mendapat gelar sebagai Imam Masjid Kerajaan Demak.

Dalam catatan sumber lainnya juga dikisahkan bahwa Sunan Kudus pernah memimpin pasukan Demak dalam menakhlukkan Kerajaan di pedalaman Pulau Jawa. Kerajaan itu berada di lerang Gunung Merapi dan bernama Pengging.

Raja itu harus ditaklukkan karena telah menganut aliran Islam yang dianggap menyimpang yang diajarkan oleh Syeh Siti Jenar. Konon, yang mengadili dan menghukum mati Syeh Siti adalah Sunan Kudus.

Sunan Kudus pula yang mengadili tokoh Islam perdana di Jawa yaitu Syekh Jangkung yang dituduh mendirikan masjid izin. Dan sayu lagi, Syekh Maulana, murid Sunan Gunung Jati juga dihukum berat oleh Sunan Kudus karena paham yang diajarkannya berbeda dengan ajaran Sunan Kudus.

Pada tahun 1546, Sultan Demak yaitu Sultan Trenggono terbunuh dalam suatu perang jihad di wilayah Timur Pulau Jawa. Terjadilah perebutan kekuasaan antara dua anak Trenggono yaitu Sunan Prawata dan Pangeran Jipang.

Sunan Prawata didukung oleh ulama dari Sunan Kali Jaga sedangkan Pangeran Jipang didukung oleh Sunan Kudus. Benturan kepentingan terjadi. Konon, atas desakan Sunan Kudus, Sunan Prawata kemudian dibunuh.

Namun, Pangeran Jipang ternyata tidak bisa menikmati kekuasaan Demak lebih lama. Karena tanpa di duga, muncul tokoh baru dari Pajang bernama Jaka Tingkir yang kemudian berhasil menumbangkan penerus tahta kerajaan  Demak.

Lahirlah babak baru yaitu trah Kerajaan Mataram. Padahal, Kerajaan ini juga sama yaitu bercorak Islam. Namun mungkin kemasannya saja sebab yang namanya paham agama ternyata tidak mampu merangkul dan memayungi nafsu kekuasaan.

Dari sini tergambar bahwa sudah sejak awal, antar tokoh penyebar agama Islam di tanah Jawa mengalami benturan paham dan kepentingan. Korban jiwa pun terus berjatuhan.

Puncak dari kiprah Sunan Kudus terjadi sekitar tahun 1549. Ia memutuskan meninggalkan Kerajaan Demak. Konon ia berselisih paham dengan Sultan Demak, ketika menentukan masa awal bulan Ramadan.

Sejak itu ia menetap di Tajug yang kemudian diubah menjadi Kudus. Di tempat itu ia sempat membangun keraton. Tidak diketahui secara pasti kapan ia wafat. Namun yang pasti, kejayaannya tidak berlangsung lebih dari setengah abad.

Editor : Taat Ujianto