• News

  • Singkap Sejarah

Menyingkap Kisah Pertempuran Gaib Raja Jin di Kota Magelang

Alun-alun Kota Magelang tempo dulu
Netralnews/Istimewa
Alun-alun Kota Magelang tempo dulu

MAGELANG, NETRALNEWS.COM - Menyingkap sejarah asal usul kota-kota di Nusantara memang cukup menarik. Tak jarang, satu kota memiliki tidak hanya satu versi asal-usul. Hal ini salah satunya disebabkan oleh adanya perbedaan sumber sejarah.

Ambilah salah satunya tentang asal mula Kota Magelang, di Provinsi Jawa Tengah. Dalam pengetahuan umum masyarakat sekitar Magelang, setidaknya ada beberapa pendapat atau versi bagaimana kota tersebut lahir pertama kali.

Menurut catatan Zaenuddin HM dalam "Asal-Usul Kota-Kota di Indonesia Tempo Doeloe" (2013: 249), versi populer tentang asal mula Kota Magelang ternyata berasal dari kata "tepung gelang", yang artinya “mengeput rapat seperti gelang”.

Konon, peristiwa pengepungan itu terjadi di daerah yang saat ini menjadi Kota Magelang. Adapun yang dikepung adalah seorang Raja Jin Sepanjang yang pernah menyamar menjadi sosok lelaki bernama Sonta. Setelah pengepungan itu, Raja Jin tersebut bisa dibunuh oleh pasukan Mataram yang dipimpin Pangeran Purboyo.

Kisah mengenai Raja Jin yang dikalahkan pasukan Mataram di daerah yang kini bernama Kota Magelang merupakan salah satu kisah legenda atau cerita rakyat. Kita tidak bisa mengabaikan begitu saja atas cerita itu.

Ada beberapa kebenaran sejarah yang terkait latar belakang era Mataram Islam. Pada masa itu, masyarakat Mataram memiliki sistem kepercayaan yang kental dengan unsur mistis. Bagaimanakah isi kisah tersebut?

Alkisah sekitar awal abad ke-16, hiduplah dua tokoh penting yang sangat menentukan berdirinya kerajaan Mataram. Ia adalah Danang Sutawijaya, putra Ki Gede Pamanahan.

Kala itu, Sutawijaya baru saja mendapat anugerah dari Sultan Hadiwijaya, Raja Pajang, berupa hutan Mentaok. Hadiah itu diperoleh setelah Sutawijaya berhasil mengalahkan musuh Sultan Hadiwijaya yakni Raja Jipang yang bernama Arya Penangsang.

Sutawijaya kemudian berusaha membuka Hutan Mentaok untuk dijadikan pemukiman baru. Di kemudian hari, wilayah ini berdirilah Kerajaan Baru yang bernama Mataram. Di awal pembangunan itulah, Sutawijaya memperluas wilayah secara bertahap.

Ia berminat memperluas wilayah kekuasaan di wilayah Kedu. Daerah ini disebut-sebut merupakan hutan yang angker, tempat bertahtanya Raja Jin bernama Sepanjang. Oleh sebab itu, Sutawijaya membentuk pasukan yang militan dan kuat untuk mengalahkan Sang Raja Jin.

Pasukan yang dikirim untuk mengalahkan Raja Jin dipimpin oleh seorang pangeran yang sangat sakti mandraguna yakni Pangeran Purboyo . Ia didampingi Raden Kuning dan Raden Krincing yang merupakan kerabat Pangeran Purboyo dan Tumenggung Mertoyudo.

Singkat cerita, pasukan Pangeran Purboyo segera berangkat dan membuka hutan Kedu. Mereka kemudian berhadapan dengan pasukan jin. Meletuslah perang gaib yang dimenangkan oleh pasukan Pangeran Purboyo.

Sayangnya, Raja Jin Sepanjang berhasil meloloskan diri dan melarikan diri. Selama dalam pelarian, Raja Jin berusaha membalas dendam. Sementara itu, Raden Kuning berusaha terus mengejarnya.

Suatu hari, Raden Kuning  bertemu dengan dengan seorang gadis jelita bernama Putri Rambat putri dari Kiai Kramat dan Nyai Bogem. Raden Kuning meminang Putri Rambat. Pinangan itu diterima dan dilangsungkanlah pesta perkawinan yang meriah.

Pesta perkawinan itu didengar oleh Raja Jin Sepanjang. Munculah ide  baru melancarkan balas dendamnya. Ia menyamar menjadi lelaki bernama Sonta. Ia datang ke rumah Kiai Kramat dan menyatakan diri untuk mengabdi.

Selanjutnya, dilaksanakanlah niat busuknya. Ia menyebarkan wabah penyakit sehingga pendudukan desa mendadak sakit lalu meninggal dunia. Pasukan Mataram yang mengiringi Raden Kuning pun juga banyak yang menjadi korban.

Kejadian itu didengar Sutawijaya. Dengan perantaraan Nyi Roro Kidul, dari jauh Sutawijaya mampu bahwa kekacauan itu disebabkan oleh Raja Jin Sepanjang yang menyamar menjadi Sonta. Dikirimkanlah kembali Pangeran Purboyo untuk meringkus Sonta.

Sayang sekali, saat Pangeran Purboyo datang, Sonta yang telah kembali menjelma menjadi Raja Jin Sepanjang telah memuluhlantakkan wilayah desa tempat tinggal Kiai Kiai Kramat dan Nyai Bogem.

Bahkan Nyai Bogem, Kiai Kramat, Raden Krincing, dan Tumenggung Mertoyudo terbunuh ketika berusaha melawan keganasan Raja Jin Sepanjang.

Melihat amukan Raja Jin Sepanjang, Pangeran Purboyo tidak mau gegabah. Ia gunakan siasat mengepung rapat Raja Jin Sepanjang.

Seluruh anak buahnya dikerahkan, agar Raja Jin Sepanjang tidak bisa melarikan diri. Perang tanding pun terjadi dan Raja Jin Sepanjang akhirnya tewas oleh kesaktian Pangeran Purboyo.

Konon, sebagian masyarakat Magelang mempercayai cerita itu benar-benar terjadi. Pasalnya, setelah peristiwa itu, sejumlah lokasi di daerah Magelang dikaitkan dengan nama-nama tokoh yang terlibat dalam perang melawan Raja Jin Sepanjang.

Nama lokasi Kiai Kramat terbunuh dan dikubur dinamakan Desa Kramat. Kemudian, lokasi tempat Nyai Bogem tewas dan dikuburkan dinamakan Desa Bogeman. Selanjutnya, nama Mertoyudan dipercaya adalah lokasi Tumenggung Mertoyudo yang terbunuh dan dimakamkan.

Untuk Raden Krincing, lokasi tempat ia terbunuh dan dikuburkan dinamakan Desa Krincing. Sedangkan lokasi di mana Raja Jin Sepanjang dikepung dengan siasat "tepung gelang" di kemudian hari dinamakan Magelang.

Sementara itu, versi yang digunakan secara resmi sebagai hari jadi Kota Magelang sesuai Perda Kota Magelang Nomor 6 tahun 1989 yakni 11 April 907. Akan tetapi, penentuan hari jadi itu bukan didasarkan pada legenda tentang Raja Jin Sepanjang.

Penetapan hari jadi Kota Magelang didasarkan pada prasasti POH dan Mantyasih yang ditulis di zaman Mataram Hindu, saat pemerintahan Raja Rake Watukara Dyah Balitung (898-910 M).

Di dalam prasasti disebut nama Desa Mantyasih dan Glangglang yang telah ditetapkan sebagai daerah Sima atau perdikan. Dari nama Mantyasih kemudian lahirlah daerah yang kini bernama Desa Meteseh.

Sedangkan nama Glangglang kemudian berubah menjadi Magelang. Demikian versi resmi Pemkot Magelang tentang asal usul Kota Magelang.

Editor : Taat Ujianto