• News

  • Singkap Sejarah

Unik! Nama Kota Ini Diilhami oleh Jamuan Makan dengan Sambal Terasi

Balai Kota Cirebon tempo dulu
Netralnews/Istimewa
Balai Kota Cirebon tempo dulu

CIREBON, NETRALNEWS.COM - Alkisah pada tahun 1445, seorang Raja Galuh datang ke kediaman Pangeran Cakrabuana, penguasa wilayah yang kini dinamakan Cirebon, Jawa Barat.  Raja itu dijamu dengan makanan khas masyarakat setempat.

Jamuan makan yang dimaksud adalah nasi dengan lauk sambal terasi berbahan udang yang diambil dari sungai atau biasa dinamakan udang rebon. Walaupun sederhana, sang tamu mengaku sangat terkesan dengan menu masakan yang dihidangkan Pangeran Cakrabuana.

Pulang dari tempat itu, Raja Galuh bercerita kepada sanak saudaranya bahwa menu makanan yang telah disantap sungguh nikmat. Tak hanya itu, sebelum pulang, ia memborong terasi khas buatan warga setempat.

Sejak kejadian itu, masyarakat yang disebut-sebut Raja Galuh gemar membuat terasi udang kali kemudian dinamakan sebagai masyarakat "Cirebon" yang artinya "udang yang diambil dari sungai" tulis Zaenuddin HM dalam Asal-Usul Kota-Kota di Indonesia Tempo Doeloe (2013: 146).

Tentu saja, di masa itu, wilayah Cirebon yang disebut-sebut warganya memiliki kebiasaan membuat terasi udang rebon, masih jauh dari kemajuan seperti saat ini. Dahulu masih berupa dukuh kecil yang mulanya dibangun oleh Ki Gedeng Tapa.

Seiring perjalanan waktu, dukuh itu berkembang menjadi desa dan dinamakan Caruban yang dalam Bahasa Sunda berarti "campuran". Istilah itu menandai adanya masyarakat yang mendiami desa terdiri dari beragam suku, keyakinan, bahasa, dan adat.

Memasuki abad ke-16, wilayah ini sudah menjadi perkotaan dan sangat dikenal di dunia internasional karena terdapat pelabuhan yang disinggahi bangsa Eropa. Dalam catatan Tome Pires, musafir Portugis, Cirebon yang sempat ia singgahi dinyatakan perdagangannya sudah sangat ramai.

Ia juga menyebut-nyebut nama Caruban bahkan tertera dalam peta dunia yang ditulis oleh Diego Riberio pada tahun 1529. Ini menjadi bukti bahwa wilayah Cirebon memang sudah mendunia.

Cikal bakal Kota Cirebon juga disebut-sebut dalam manuskrip Purwaka Caruban Nagari yang diperkirakan ditulis pada abad ke-15. Dalam dokumen kuno tersebut, disebutkan bahwa di pantai Laut Jawa ada sebuah desa nelayan bernama Muara Jati.

Tempat itu sudah banyak disinggahi kapal-kapal asing untuk berniaga dengan penduduk setempat. Kepala bandar bernama Ki Gedeng Alang-Alang yang ditunjuk dan diangkat oleh penguasa Kerajaan Galuh atau biasa juga disebut sebagai Kerajaan Pajajaran.

Disebutkan pula  bahwa aktivitas keagamaan Islam sudah berkembang. Demikian seterusnya sehingga daerah itu semakin maju.

Suatu ketika, Ki Gedeng Alang-Alang memutuskan untuk memindahkan tempat pemukiman menuju daerah yang disebut Lemah Wungkuk sekitar 5 kilometer arah Selatan mendekati bukit menuju Kerajaan Galuh.

Selanjutnya, Raja Galuh memercayakan Ki Gedeng Alang-Alang untuk memimpin permukiman itu. Ia kemudian diberi gelar sebagai “Kuwu Cerbon”.

Di masa Kerajaan Galuh diperintah Prabu Siliwangi, sang raja menitahkan anaknya sendiri yang bernama Pangeran Walangsungsang untuk memimpin daerah pemukiman baru yang telah dibangun Ki Gedeng Alang-Alang.

Prabu Siliwangi memberikan gelar kepada anaknya sebagai Adipati dengan gelar Cakrabuana. Konon, pengeran inilah yang kemudian membangun Kerajaan Cirebon.

Dalam kisah selanjutnya, ada beberapa versi sejarah yang sempat menjadi kontroversi terkait tentang penentuan hari jadi Kota Cirebon.

Dalam Babad Cirebon dikisahkan bahwa Pangeran Walangsungsang sempat pergi mengembara hingga sampai di puncak Gunung Amparan Jati dan bertemu dengan ulama dari Mekkah bernama Syekh Dzatuk Kahfi.

Pangeran Walangsungsang yang didampingi istrinya, Nyi Indang Geulis, dan adiknya, Rarasantang kemudian memeluk agama Islam. Tak hanya itu, sang ulama juga memerintahkan Pengeran Walangsungsang membuka hutan Kebon Pesisir untuk dijadikan sebagai kerajaan.

Perintah itu dilaksanakan dan hari itulah ditetapkan sebagai hari jadi Kota Cirebon yakni jatuh pada Minggu Kliwon, 1 Sura 1367 Saka / 1 Muharam 867 Hijriyah/1445 Masehi.

Konon, Syekh Dzatuk Kahfi juga memerintahkan Walangsungsang dan adiknya, Rara Santang, untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Perintah itu juga dilaksanakan.

Dalam perjalanannya ke Mekkah, Rara Santang kemudian dinikahi oleh Sultan Mesir. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Syarif Hidayatullah atau di kemudian hari tersohor dengan nama Sunan Gunung Jati.

Singkat cerita, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati kemudian dinobatkan sebagai penguasa di Cirebon. Ada kebiasaan baru yang diberlakukan di masa pemerintahannya.

Sekitar tahun 1482, Sunan Gunung Jati mengeluarkan maklumat untuk tidak lagi mengirim upeti ke Raja Galuh. Peristiwa ini menandai merdekanya Cirebon sebagai wilayah kekuasaan Raja Galuh atau Kerajaan Pajajaran.

Editor : Taat Ujianto