• News

  • Singkap Sejarah

Asal Mula Kediri, Bukan ‘Mandul Dikebiri’ tetapi Justru ‘Bisa Berdiri Sendiri’

Dealer Chevrolet dan Pontiac di Kediri pada tahun 1929
Netralnews/Dok. Tropenmuseum
Dealer Chevrolet dan Pontiac di Kediri pada tahun 1929

KEDIRI, NETRALNEWS.COM - Siapa menyangka bahwa asal-usul salah satu kota bersejarah di Jawa Timur ini memiliki latar belakang yang unik. Dahulu, saat sejarawan berusaha menyingkap latar belakang namanya, pernah terjadi perdebatan. Kota yang dimaksud adalah Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur.

Ada sebagian sejarawan yang mengemukakan bahwa nama "kediri" berasal dari Bahasa Sansekerta yakni "kadiri" atau "kedi" yang artinya mandul alias tidak bisa mengalami datang bulan. Dalam bahasa Jawa Kuno, kata "kedi" juga bisa diartikan "dikebiri" oleh dukun.

Dalam catatan Zaenuddin HM berjudul "Asal-Usul Kota-Kota di Indonesia Tempo Doeloe" (2013: 205), disebutkan bahwa asal-usul secara etimologis itu dianggap kurang beralasan sebagai asal mula nama Kota Kediri.

Asal-usul kata yang dipandang lebih tepat adalah berasal dari kata "kediri" dalam Bahasa Jawa Kuno yang berarti "bisa berdiri sendiri, mandiri, berdiri tegak, berkepribadian, atau berswasembada".

Maka, Kota Kediri, dari asal mula katanya, dimaknai sebagai kota yang dahulu pernah mandiri atau merdeka dari kekuasaan pihak lain. Makna ini lebih mendekati kebenaran karena dahulu, di abad ke-11, di daerah ini memang pernah berdiri Kerajaan Hindu yang berdikari.

Kota yang kini terletak di Provinsi Jawa Timur ini, memiliki luas wilayah sekitar 63,40 kilometer persegi dan termasuk kota terluas di Jawa Timur selain Surabaya dan Malang. Kekhasan lain secara geografis, adalah adanya Sungai Brantas yang membelah kota dari Selatan ke Utara kota.

Mengenai Kerajaan Kediri, tokoh utama terkait pembangunan kota adalah Prabu Airlangga (kadang ditulis Erlangga), raja Kerajaan Kahuripan yang memerintah tahun 1009-1042.

Dalam Serat Calon Arang, suatu ketika Erlangga memindahkan pusat kerajaan dari Kahuripan ke wilayah Dahanapura (Kota Api) yang selanjutnya disebut sebagai Daha. Sepeninggal Erlangga, ekuasaan sempat dibagi menjadi dua yakni Panjalu dan Jenggala.

Panjalu berpusat di Daha dan Jenggala berpusat di Kahuripan. Di kemudian hari, kerajaan Panjalu lebih mendominasi dan berhasil menaklukkan Jenggala. Oleh banyak sejarawan, pusat kota Kerajaan Panjalu kemudian disebut juga sebagai Kerajaan Kediri.

Hanya saja, pada tahun 1254, Kerajaan Kediri ditundukkan oleh Kerajaan Singasari di bawah kekuasaan Ken Arok. Wilayah Kediri kemudian sempat menjadi wilayah tundukan dan tidak lagi merdeka atau mandiri.

Semenjak itu, Kediri beruturut-turut tunduk di bawah penguasa-penguasa kerajaan Jawa antara lain Majapahit, Demak, dan Mataram Islam. Kerajaan Kediri tak pernah bangkit kembali untuk menguasai wilayah Jawa.

Memasuki era Kolonial, Kediri juga pernah dikuasai VOC setelah Cakraningrat IV, Adipati Madura, memberontak karena menginginkan bebasnya Madura dari Kasunanan Kartasura. Pemberontakan Cakraningrat dapat dipatahkan Pakubuwana II yang dibantu VOC.

Sebagai pembayaran, Pakubuwana II menyerahkan Kediri menjadi bagian wilayah kekuasaan VOC. Sejak saat itu, Kediri dikelola oleh pemerintah kolonial Belanda disusul pendudukan Jepang, dan baru berdikari kembali setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di masa Kolonial Hindia Belanda, Kota Kediri pernah menjadi kota swapraja sejak diresmikannya Gemeente Kediri seperti tercatat dalam Staatsblad nomor 148 tertanggal 1 Maret 1906. Dengan menjadi Gemeente, berarti Residen Belanda berkedudukan di Kediri.

Pemerintahannya bersifat otonom terbatas dan mempunyai Gemeente Raad (Dewan Kota  semacam DPRD) terdiri dari 13 orang yang terdiri dari 4 pribumi dan delapan orang Eropa, dan satu orang Timur Asing.

Tanggal 1 November 1928, status Kota Kediri berubah menjadi swapraja penuh sesuai Staatsblad nomor 148.

Di masa perang kemerdekaan, di Kota Kediri tercatat menjadi salah satu rute penting dari perjalanan Jenderal Sudirman saat memimpin perang gerilya melawan pasukan Belanda.

Kini, Kediri sangat dikenal sebagai kota industri rokok terbesar di Indonesia sejak pabrik rokok PT Gudang Garam dibangun di kota ini.

Terakhir, sejak tahun 2010, Kediri juga dinobatkan sebagai peringkat pertama Indonesia yaitu Most Recommended City for Investment  berdasarkan survei SWA yang dibantu oleh Business Digest, unit bisnis riset grup SWA.

Tentang jejak sejarah Kota Kediri, dapat juga menelusurinya dengan mengunjungi sejumlah objek wisata yang menjadi ikon kebanggaan warga Kota Kediri.

Bagi yang ingin menelusuri era peradaban Hindu, pelancong dapat mendatangi komplek Candi Surowono. Candi ini adalah peninggalan Kerajaan Majapahit.

Contoh lain adalah bangunan kuno berupa gereja peninggalan era Kolonial Belanda yakni Gereja Tua Pohsarang. Gereja ini dibangun pada abad ke-19 dan sangat terkenal sebagai tempat devosi umat Kristiani.

Bangunannya sangat khas karena didirikan dengan bahan bebatuan alam yang disusun rapi sedemikian rupa sehingga membentuk bangunan yang sangat unik.

Sementara bagi pecinta panorama alam, bisa melancong ke Gunung Kelud yang terkenal karena menyerupai Gunung Bromo. Objek wisata alam lainnya adalah Air Terjun Dolo yang terkenal menawan dan memesona.

Editor : Taat Ujianto